Mesir Bantu Khalifa Haftar Rebut Benghazi dari Tangan Pejuang Islam

KIBLAT.NET, Benghazi – Pasukan loyalis mantan jenderal Libya, Khalifa Haftar meluncurkan kembali upaya perebutan kota Benghazi dari pejuang Islam. Serangan itu dilakukan di tengah munculnya laporan bahwa Khalifa Haftar telah menerima bantuan dari Mesir dan mendapat dukungan dari pemerintah Libya.

Suara tembakan dan ledakan terdengar pada Rabu pagi (15/10), saat pesawat milik pasukan Haftar menyerang target di sekitar kota timur, lapor Al Jazeera.

Saksi mata mengatakan tank dan jet telah menargetkan Brigade Syuhada 17 Februari, saingan pasukan Haftar yang beroperasi di beberapa wilayah Benghazi.

Kelompok ini merupakan bagian dari Dewan Syura Revolusioner Benghazi, sebuah koalisi militer yang bersekutu dengan mujahidin Al-Qaidah di Libya, Anshar Syariah. Mereka juga telah mengontrol sebagian besar kota.
Intervensi Mesir di Libya

Pertempuran itu terjadi di tengah laporan yang belum dikonfirmasi, bahwa Mesir telah memberikan bantuan persenjataan berat bagi pasukan Haftar untuk merebut Benghazi.

Menurut kantor berita Associated Press, dua pejabat pemerintah Mesir mengatakan jet tempur Mesir membom posisi milisi Islamis di Benghazi.

Para pejabat, yang mengetahui operasi itu, mengatakan penggunaan pesawat merupakan bagian dari operasi yang dipimpin Mesir terhadap target militan. Operasi itu pada tahap berikutnya melibatkan pasukan darat Libya yang dilatih oleh pasukan Mesir, kata AP.

Politisi Libya Abdul Rahman Sweihli juga meyakini Mesir terlibat dalam serangan, ia mengatakan angkatan udara Libya tidak mampu melakukan serangan terhadap Benghazi seperti yang sedang disaksikan.

“Kami tahu betul kekuatan terbatas angkatan udara Libya dan kami tahu itu sangat mustahil untuk angkatan udara Libya untuk membombardir kota Benghazi dan daerah lainnya pada setiap hari,” kata Sweihli kepada Al-Jazeera di Tripoli.

“Ini adalah tindakan yang mereka lakukan. Ini jelas menunjukkan intervensi langsung dan terang-terangan pemerintah Mesir dan UEA (Uni Emirat Arab).”

“Kami berharap bahwa saudara-saudara di UAE dan Mesir belajar dari kesalahan sebelumnya dan berhenti ikut campur dalam urusan kami. Kami ingin hubungan baik dengan semua orang dan memilih dialog serta perdamaian di antara rakyat Libya dibandingkan berpihak pada satu kelompok,” Sweihli menambahkan.

Namun, juru bicara kepresidenan Mesir Alaa Youssef menolak laporan keterlibatan negaranya dalam pemboman di Libya, demikian media pemerintah Mesir melaporkan.

Pada tanggal 26 Agustus, para pejabat AS mengatakan UEA melakukan serangan udara terhadap milisi Islam menggunakan pangkalan udara di Mesir, laporan itu kemudian ditolak oleh Mesir.

 

Sumber: Aljazeera

Penulis: Qathrunnada

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat