... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Muslim Austria Tolak RUU Pembatasan Terhadap Islam

Foto: Muslim Austria

KIBLAT.NET, Wina – Perubahan Rancangan Undang Undang (RUU) Austria yang terbaru mengenai masyarakat Islam menuai reaksi keras. Amandemen itu dituding melanggar hak-hak konstitusional 500.000 Muslim di Austria.

Pemerintah Austria membawa RUU ke parlemen pada 2 Oktober yang akan melarang pendanaan asing untuk organisasi-organisasi Islam. RUU itu juga mewajibkan agar umat Islam menyetujui terjemahan Jerman sebagai standar al-Quran dan teks-teks agama lainnya.

Perubahan, yang merombak ‘Hukum Islam’ di Austria 1912, muncul karena pemerintah Austria khawatir tentang meningkatnya ekstrimisme. RUU ini juga mengatur siapa saja yang dapat bertindak sebagai ulama di negara itu.

Menurut RUU tersebut, mempekerjakan ulama dari luar negeri akan dilarang. Sebaliknya, Imam akan dilatih di universitas Austria. Saat ini, ada sekitar 300 imam di negara itu, termasuk 65 ulama Turki.

“RUU ini bertujuan untuk mencegah ‘pengaruh dari luar negeri’,” ujar Menteri Luar Negeri dan Integrasi Austria, Sebastian Kurz, dari kelompok Partai Rakyat Austria.

Kurz mengatakan amandemen itu dibutuhkan karena waktu dan kondisi telah berubah, ia mengklaim RUU untuk mencegah ekstremisme.

“Pesan yang jelas seharus sampai, bahwa tidak ada kontradiksi antara menjadi seorang Muslim yang taat dan bangga menjadi warga Austria,” kata Kurz.

Austria adalah rumah bagi 500.000 lebih Muslim, sekitar enam persen dari total penduduk. Islam menjadi agama minoritas non-Kristen terbesar di negara itu. Kementerian Dalam Negeri Austria mengklaim bahwa sekitar 140 Muslim Austria diyakini telah bergabung dengan Daulah Islam Iraq dan Syam, yang beroperasi di Suriah dan Irak.

BACA JUGA  Polisi Norwegia Sebut Penyerangan Masjid Al Noor Sebagai Aksi Terorisme

Para kritikus RUU mengatakan, RUU itu mempromosikan ‘negara pengontrol’ Islam dan bertentangan dengan konstitusi, yang menjamin kesetaraan, kebebasan berbicara dan beragama.

Larangan pendanaan asing menjadi target utama bagi kritikus, menurut mereka poin itu melanggar keadilan konstitusi, karena undang-undang yang sama tidak akan diterapkan pada komunitas agama lain.

Sementara itu, akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Salzburg, Metin Akyurek menyerukan hak-hak yang dinikmati oleh Protestan, Katolik dan kelompok-kelompok Yahudi agar diperluas kepada masyarakat Islam untuk menjamin ‘kesetaraan’ dalam masyarakat Austria.

Keinginan Austria para imam dilatih oleh negara, dikritik oleh Akyurek, menurutnya hal ini bertentangan dengan hak untuk mengajar agama berdasarkan undang-undang Uni Eropa.

Dia juga mempertanyakan waktu penentuan hukum saat komunitas Muslim berada di bawah kecurigaan atas kekhawatiran tentang ekstrimisme.

Dr Farid Hafez, seorang sarjana dari Universitas Salzburg, mengatakan kepada Anadolu Agency, amandemen itu adalah “melembagakan Islamophobia.” Hafez menuduh pemerintah Austria mencoba untuk membuat “negara pengontrol” Islam.

“Ada motivasi politik di balik RUU ini,” tegasnya sambil menunjuk atas munculnya kelompok-kelompok politik euroskeptic dan sayap kanan di Austria.

Presiden Komunitas Islam Austria, Fuat SANAC, sebelumnya mengumumkan, mereka akan mengajukan banding ke mahkamah konstitusi Austria untuk menghentikan amandemen, yang “beresiko memalukan” populasi Muslim di negara itu.

SANAC, pada hari Sabtu mengatakan, komunitas Muslim tidak ingin diperlakukan sebagai warga “kelas dua”. Adapun, banding terhadap amandemen akan dievaluasi sampai 7 November oleh mahkamah konstitusi.

BACA JUGA  Chechnya Resmikan Masjid Terbesar di Eropa

 

Sumber: Anadolu Agency

Penulis: Qathrunnada

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Turki

Pemuda Uighur Berkewarganegaraan Turki Meninggal di Penjara China

KIBLAT.NET, China – Seorang pemuda Uigur, Abdullahcan Abdulmennan (21), salah seorang warga negara Turki di...

Rabu, 15/10/2014 11:56 0

Yaman

Pemberontak Syiah Houtsi Serang Pangkalan Udara Militer di Yaman Barat

KIBLAT.NET, Al-Hudaydah – Gerombolan militan pendukung pemberontak Syiah Houtsi menyerang dan menguasai bandara sipil dan...

Rabu, 15/10/2014 11:30 0

Asia

Polisi Thailand Tangkap Pelaku Perdagangan Manusia Etnis Rohingya

KIBLAT.NET, Bangkok – Kepolisian Thailand pada Selasa (14/09) mengungkapkan bahwa pihaknya telah menangkap dua orang...

Rabu, 15/10/2014 11:08 0

Irak

Bom Mobil Meledak di Kawasan Syiah Kazimiyah, 25 Tewas 54 Lainnya Terluka

KIBLAT.NET, Baghdad – Sedikitnya 25 orang tewas, termasuk anggota parlemen Iraq, dan 54 lainnya luka-luka...

Rabu, 15/10/2014 10:27 0

Irak

Dikira Pejuang Daulah, Empat Tentara Iraq Tewas

KIBLAT.NET, Diyala – Lagi-lagi militer pemerintah Iraq harus mengalami kerugian akibat ulah rekan sendiri. Beberapa...

Rabu, 15/10/2014 09:50 0

Pakistan

Ini Upaya Pejuang Pakistan Bebaskan Rekan Mereka dari Penjara

KIBLAT.NET, Karachi – Pemerintah Pakistan, Senin (13/10), mengumumkan pengungkapan upaya baru yang dilakukan mujahidin untuk...

Rabu, 15/10/2014 09:23 0

News

Sedih Dicekal Malaysia, Ulil Malah Dibully

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Pemerintah Malaysia melarang kehadiran Ulil Abshar Abdalla sebagai pembicara dalam diskusi...

Rabu, 15/10/2014 07:32 0

Palestina

Masjid Abu Bakar Shiddiq di Nablus Dibakar Ekstremis Yahudi

KIBLAT.NET, Nablus – Kebrutalan pemukim Yahudi terhadap umat Islam Palestina terus berlanjut. Selasa pagi (14/10),...

Rabu, 15/10/2014 07:06 0

Yaman

Lagi, Milisi Syiah Houtsi Kontrol Kota Penting Tanpa Perlawanan

KIBLAT.NET, Sanaa – Milisi Syiah Houtsi terus bergerak menduduki kota-kota strategis di Yaman, setelah berhasil...

Rabu, 15/10/2014 06:27 0

Palestina

Dengar Langsung Penderitaan Korban Israel, Ban Ki-Moon Kunjungi Gaza

KIBLAT.NET, PBB – Sekjen PBB, Ban Ki-Moon berkunjung ke Gaza pada Selasa, (14/10) pagi setelah...

Rabu, 15/10/2014 06:07 0

Close