... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Menag: Kita Adalah Orang Indonesia Yang Islam, Bukan Orang Islam di Indonesia

Foto: Menteri Agama, Lukman Hakim Syaefuddin.

KIBLAT.NET — Dalam penerbangan kembali ke Jakarta tadi pagi, saya berkesempatan membaca surat kabar yang diberikan pihak maskapai, Harian Nasional.  Lembar demi lembar saya baca dan sampailah pada halaman dimana dimuat satu kolom informasi singkat seputar kunjungan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) bersama sejumlah jurnalis asing yang tergabung dalam East-West Center : Collaboration, Ekpertise, Leadership ke Kementrian Agama pada selasa (2/9). Lukman Hakim Saifuddin sebagai Menteri Agama langsung menerima kunjungan para juru warta tersebut.

“Umat Islam Indonesia adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia” ujar Lukman Hakim seperti dikutip harian Nasional, Rabu (3/8). Lukman menjelaskan bahwa dua ungkapan ini mengandung makna yang berbeda dan mengulang kembali ungkapan diatas guna mempertegas maksudnya.

Ungkapan Menteri Agama yang mengawali karirnya dengan kontroversi pengesahan Bahai sebagai sebuah agama yang sah di Indonesia ini cukup menarik. Ungkapan tersebut memang mengandung makna yang berbeda. “Orang Indonesia yang beragama Islam” bermakna identitas yang dominan adalah nasionalisme dan agama hanyalah asesoris tambahan, sementara ungkapan “orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia” menggambarkan identitas Aqidah yang dominan sementara penyebutan nama negara atau wilayah Indonesia hanya keterangan tambahan yang menggambarkan salah satu kawasan di muka bumi yang dihuni oleh sekelompok orang tanpa makna mendalam apapun serta tidak mengandung konsekuensi signifikan jika keterangan wilayah itu dirubah menjadi Yaman, Inggris, Afrika dan lain sebagainya.

Statemen Menag di web resmi Kemenag

Statemen Menag di web resmi Kemenag

Pikiran saya pun melambung jauh tertuju pada satu karya tokoh intelektual Islam bernama Sayyid Quthb Rahimahullah yang berjudul “Ma’alim fi Thoriq” (Petunjuk Jalan, dalam edisi berbahasa Indonesia). Dalam satu Bab dibuku itu, Sayyid Quthb membahas seputar tema “Kewarganegaraan Seorang Muslim adalah Aqidah-nya” di situ Sayyid Quthb menjabarkan kebathilan segala macam ikatan yang bernada Nasionalisme seperti pan Arabisme dan seruan-seruan serupa.

BACA JUGA  Syarh Safinatun Naja 01: Mengenal Tanda-Tanda Baligh

Beliau Rahimahullah juga menganalisa fakta sejarah bahwa di awal kemunculan Rasulullah SAW, pertama kali hal yang didakwahkan adalah aqidah tauhid yang justru banyak mendapat penentangan dari bangsa Arab pada masa itu. Padahal jika Nabi SAW mengawali dakwahnya dengan seruan kebangsaan mungkin akan berbeda, pasalnya bangsa Arab ketika itu sangat gandrung dengan isu kesukuan dan kebangsaan, terlebih Nabi SAW berasal dari suku terpandang.

Sayyid Quthb memaparkan fakta sejarah bahwa Nabi SAW tidak melakukan seruan kebangsaan, seruan aqidah tauhid seberapapun tantangan yang menghadang dan resiko yang besar tetaplah menjadi pilihan. Allah SWT memerintahkan seruan aqidah tauhid dan memang inilah inti ajaran Islam dan karakteristikanya yang menghancurkan sekat-sekat jahiliyah termasuk sekat kesukuan, kebangsaan serta konsep kewarganegaraan primordial-primitif lainnya.

Sayyid Quthb mengatakan,”Kewarganegaraan yang dikehendaki oleh Islam untuk manusia (seluruhnya, pen.) adalah kewarganegaraan aqidah, dimana sama seorang Arab dengan seorang Romawi, seorang Parsi, setiap jenis dan warna (semuanya sama) di bawah panji-panji Allah. Dan inilah jalannya”

Penjelasan Sayyid Quthb ini juga dikuatkan dengan Sabda Rasulullah SAW yang mencela ashobiyah (fanatisme golongan/kesukuan/kebangsaan), beliau SAW bersabda, ”Bukanlah termasuk golongan umatku orang yang menyerukan ashobiyah”.  Takdir Allah bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah untuk saling mengenal menjalin ukhuwah dan bukan untuk terkotak-kotak dalam bingkai kesukuan ataupun kebangsaan itu sendiri.

BACA JUGA  RUU Ketahanan Keluarga Atur Larangan Jual Beli Sperma dan LGBT

Islam memang lahir untuk mempersatukan manusia di bawah satu panji dengan aqidah sebagai ikatan yang utama. Menjadikan ikatan kebangsaan atau kenegaraan menjadi ikatan utama diatas ikatan aqidah maka itu menyalahi syariat Islam, terlebih terpecah-pecahnya dunia Islam menjadi negara-negara yang ada hari ini adalah ulah kaum imperialis yang tidak bisa dijadikan dasar ikatan untuk menandingi ikatan yang didasari wahyu.

“Dalam wacana ilmu politik modern pengertian ‘bangsa’ lebih bersifat imajinatif” (Benedict Anderson, 1999). Imajinatif karena kata bangsa tidak lagi sesuai dengan teori asalnya berdasarkan kesamaan ras, suku, budaya dan bahasa. Menilik penyebutan Indonesia sebagai bangsa, tentu jelas sangat imajinatif dan absurd, mengingat di dalam Indonesia justru terdapat banyak suku/ras/bangsa dan bahasa. Oleh karenanya kata “Indonesia” pun tidak bisa bermakna mewakili sebuah bangsa.

Dengan demikian “bagaimana ungkapan sang Mentri Agama di atas? Apa maknanya?” Silakan Anda menilai.  Setelah menilai dan merenung, jangan lupa tentukan pilihan apakah anda adalah “Orang Islam yang ditakdirkan tinggal di Indonesia” atau “Orang Indonesia yang Beragama Islam”.

 

Penulis: Usyaqul Hurr

Editor: Hamdan

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

10 comments on “Menag: Kita Adalah Orang Indonesia Yang Islam, Bukan Orang Islam di Indonesia”

  1. WAHIDIN

    sebaiknya langsung disikapi bahwa pernyataan ini salah dan merusak sendi2 aqidah.Jangan malah org muslim di-giring2 lagi tuk ‘mikir2’

  2. kalau, Kita Adalah Orang Indonesia Yang Islam, Bukan Orang Islam di Indonesia .
    berarti di setiap negara ada tuhannya donk ,karena setiap negara beda agama berarti banyak tuhan ……
    pernyataan yang benar benar tidak mempercayai agama alloh sebagai seorang mukmin,pernyataan yang tidak mempercayai indonesia bukan buatan alloh swt. sungguh seorang muslim khianat
    terhadap sang pencipta , terkecuali kalau mentri agamaitu seorang komunis.

  3. udah pada “gila semua”

    cacatan :
    anak adalah titipan Allah kepada Ayah dan Ibundanya,
    ayah dan ibu membimbing anak kemana arah tujuan kedepan, apakah menjadi nasrani, majusi, munafiq, yahudi, adalah tanggung jawab orang tua sewaktu kecil dalam membimbing anaknya.

    ibarat tumbuhan ditanam sewaktu kecil dengan baik, disiram, dijaga dari hama, maka akan tumbuh dengan baik dan dapat diambil hasilnya dengan baik, maka pemilik tumbuhan ini akan senang,

  4. Astagfirullah… Tolong kiblat net, diakhir tulisannya diberikan kesimpulan yg syar’i. Jangan membuat pembaca bingung. ntr malah timbul perpecahan

  5. brian

    JANGAN KATAKAN “KITA ISLAM DI INDONESIA LAIN DENGAN ISLAM DI IRAK”. ITU ADALAH PERKATAAN PARA PEJABAT DI INDONESIA YANG TERKENA PENYAKIT NASIONALIS. PARA PEJABAT ITU TAKUT KALAU ALQUR’AN MENGUASAI DUNIA HINGGA MEREKA TIDAK DAPAT MAKANAN LAGI DARI BERHALA BURUNG GARUDA !!

  6. Siluman+Ular+Putih

    @Omar: itu kan tulisan/artikel, Ada penulisnya, dan bukan berita, Om. Jangan “nyalahin” kiblat dong.

  7. bayu

    jadi ingat ucapan said aqil siradj, “ummat Islam indonesia beda dengan ummat Islam di timur tengah….”.

  8. abdull

    Buat Omar yang bingung, coba kamu belajar lagi biar bisa memahami maksud kiblat.net. Insyaalloh kiblat.net sudah tepat sikapnya.

  9. Sofyan

    “kita harus jadi orang Indonesia yang Islam. Bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia.Demikian. Wallahu a’lam.” (KH.A.Mustofa Bisri)
    Kalau Tidak Ada Waliyulloh Yang Mendakwahkan Islam Ke Indonesia Mungkin saat Ini Kita Masih Hindu Buda..
    kita adalah “orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam”. Menurutnya paradigma ini memandang Islam bukan Arab, melainkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran universal, seperti: kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan, kerahmatan, kesetaraan, dan persaudaraan yang dilandasi wahyu ketuhanan dan tauhid.

  10. sugiono

    Dari ucapan menag lukman hakim, artinya : Orang Islam indonesia ini ini suatu saat bisa saja ganti agama dan tidak akan ganti kebangsaan.
    dan siapapun boleh mengikuti alur pemikiran lukman hakim.
    Namun bagi orang yang yaqin dg kehidupan akherat maka masalah domisili dan kematian adalah no 13 artinya dimana saja tidak masalah.
    Bagi saya domisili dimana saja tidak masalah, begitupun MATI kapan dan dimanapun tidak masalah , Tapi sebagai MUSLIM HARUS SAYA bawa kemanapun sampai MATI , walau keujung DUNIA .
    ya ALLOOH ya Robbal a’lamain matikan saya dalam keadaan MUSLIM dan husnul hotimah amiin.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Arab Saudi

Saudi Tangkap 88 Orang yang Dituduh Terkait Teroris Asing

KIBLAT.NET, Riyadh – Arab Saudi semakin gencar melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai ‘teroris’....

Rabu, 03/09/2014 09:21 0

Suriah

Ini Alasan JN Sandera Pasukan PBB

KIBLAT.NET — Sekelompok Mujahidin Suriah, termasuk di dalamnya Jabhah Nusrah menawan 45 pasukan perdamaian PBB...

Rabu, 03/09/2014 08:00 0

Indonesia

Panitia Ospek “Tuhan Membusuk” Dilaporkan ke Polda Jatim

KIBLAT.NET, Surabaya – Kontroversi Tema Orientasi Studi Cinta Akademik dan Almamater (Oscaar) Mahasiswa Baru 2014...

Rabu, 03/09/2014 07:05 1

Wilayah Lain

Pemerintah Sudan Tutup Semua Pusat Kebudayaan Iran di Negaranya

KIBLAT.NET, Khartoum – Pemerintah Sudan pada Selasa (02/09) mengumumkan telah menutup pusat kebudayaan Iran yang...

Rabu, 03/09/2014 06:25 1

Suriah

JN Tuntut Tiga Hal Ini Untuk Pembebasan Tentara PBB

KIBLAT.NET — Setelah menawan 45 tentara Fiji yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB, Jabhah Nusrah...

Rabu, 03/09/2014 06:00 0

Wilayah Lain

Di Norwegia, “Muhammad” Jadi Nama Favorit Bayi Laki-laki

KIBLAT.NET, Oslo – Nama Muhammad kini tak hanya populer di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim....

Senin, 01/09/2014 10:00 0

Palestina

JN Ancam Eksekusi Tentara Lebanon yang Ikut Membantu Syiah Hizbullah

KIBLAT.NET, Damaskus – Mujahidin Jabhah Nusrah (JN), Ahad (31/08), mengancam mengeksekusi tentara-tentara Lebanon dari pengikut...

Senin, 01/09/2014 09:27 0

Palestina

Israel Tembak Jatuh Drone Suriah di Dataran Tinggi Golan

KIBLAT.NET, Golan – Militer Israel menyatakan bahwa pihaknya telah menembak jatuh sebuah drone Suriah yang...

Senin, 01/09/2014 07:39 0

Afrika

Al-Shabab Serang Markas Intelijen Pemerintah Somalia

KIBLAT.NET, Mogadihsu – Sedikitnya 12 orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka dalam serangan yang dilancarkan...

Senin, 01/09/2014 07:14 0

Close