... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Abu Qatadah Al-Falistini: Mencari Kesyahidan Itu Tujuan Perseorangan, Bukan Jamaah

Foto: Abu Qatadah Al-Falistini

“Celakalah kaum yang melihat tiada tujuan selain kekuatan.”
(Mutsanna bin Haritsah; Sungai Eufrat 675 H)

KIBLAT.NET – Ungkapan yang luar biasa dan bijaksana ini diucapkan oleh Mutsanna ketika Abu Ubaidah Ats-Tsaqafi memimpin pasukannya telah berada di seberang pasukan Persia. Mereka dipisahkan oleh sungai dengan satu jembatan. Persia mengirimkan utusan kepadanya dan berkata, “Siapakah yang akan menyeberang, kalian atau kami?”

Kaum muslimin memberikan nasihat kepada Abu Ubaidah, “Biarkanlah mereka menyeberang ke tempat kita.” “Mereka tidak lebih berani untuk mati daripada kita!” kata Abu Ubaidah menampik nasihat itu.

Kemudian pasukan kaum muslimin menyeberangi jembatan untuk menyerbu musuh, namun mereka terjebak di tempat yang sempit. Mereka terlibat dalam perang dahsyat sekali. Kaum muslimin berjumlah sekitar 10000 orang. Akhirnya kaum muslimin mengalami kekalahan setelah komandan perang mereka gugur, disusul tujuh komandan berikutnya.

Sebelumnya, Abu Ubaidah telah menetapkan siapa yang akan menggantikan komandan perang bila gugur. Korban di kubu kaum muslimin mencapai 4000 jiwa.

Akhirnya pucuk kepemimpinan dipegang oleh Mutsanna bin Haritsah. Mutsanna telah mempelajari kondisi wilayah berikutnya, yaitu Buwaib. Di tempat ini, kaum muslimin dipisahkan oleh sungai Eufrat. Persia mengirimkan utusan dan mengatakan, “Siapa yang akan menyeberang, kami atau kami?” Kaum muslimin menjawab, “Menyeberanglah kalian sini.”

Tentara Persi akhirnya menyeberangi jembatan. Ketika kalah, mereka mundur ke jempatan untuk melarikan diri. Mutsanna berdiri di jembatan untuk mencegah mereka menyeberang. Kaum muslimin memenangkan pertempuran dan korban di pihak Persi mencapai sekitar seratus ribu.

Maksud dari kisah ini adalah mencari syahid adalah tujuan yang mulia. Namun aksi seperti ini tidak sewajarnya menjadi kebijakan dan perintah komandan dengan mengerahkan semua prajurit untuk itu.

Karena seorang komandan tertinggi harus memiliki visi menyelamatkan dan melindungi pasukan, serta tidak mengarahkan ke dalam kehancuran. Karena itu, operasi mati syahid tidak datang dari perintah komandan kecuali darurat. Ya, karena tujuan pemimpin perang adalah mewujudkan kemenangan dan kejayaan. Inilah maksud jihad hari ini.

Era Jihad Tamkin

Jihad sebelumnya memiliki banyak tujuan, antara lain, nikayah (memperdayai musuh), menunjukkan eksistensi Islam, serta banyak-banyak membunuh kelompok kafir dan para pemimpin mereka. Tujuan-tujuan ini cocok dengan operasi mati syahid sebagai permulaan, menurut pandangan sebagian ulama.

Akan tetapi, jihad hari ini memiliki tujuan tamkin dan kekuasaan, realisasi kemenangan dan kejayaan. Dan ini terwujud dengan bimbingan yang intensif dari para pemimpin kepada pasukan dari Muhajirin dan Anshar. Dalam fakta seperti ini, ucapan Al-Faruq, bisa dicontoh oleh para pemimpin, “Janganlah kalian memakai Al-Barra’ untuk memimpin perang karena ia bahaya yang mematikan mereka.”

Ketika jihad hari ini di Suriah untuk tamkin, maka mujahidin wajib merealisasikan eksistensi-eksistensi tamkin ini di tempat-tempat yang telah dimenangkan, terutama aktivitas peradilan, kepemimpinan, dan pendidikan. Demikian pula pencapaian kualitas yang disebut dalam sabda Nabi saw, “Iman adalah benteng.”

Tujuannya adalah agar tertanam rasa cinta masyarakat kepada jihad dan mujahidin. Karena itulah, para pemimpin pergerakan hendaknya tidak mengikuti arus anak-anak muda yang terlalu semangat (mutahammisin) dalam menentukan pilihan selama masih ada kemungkinan lain.

Motivasi Jihad Umat Islam

Peristiwa-peristiwa sejarah adalah sunatullah yang terjadi di alam nyata. Dalam hadits riwayat Muslim, “Janganlah kalian mencela masa karena Allah itulah masa.”

Maksudnya, Allah Yang Mahatinggi mengaturnya sesuai realitas, peristiwa, dan ukurannya. Dan kabar-kabar nubuwah tentang kemenangan, tamkin dan kejayaan selalu menjadi bahan bakar orang-orang beriman untuk memotivasi mereka dalam setiap tugas dan perkara penting di lapangan.

Metode penelitian mengkritik kabar-kabar nubuwah bila dijadikan sandaran dalam urusan politik. Tetapi, para pemimpin kekafiran di timur terbentuk oleh keyakinan nubuwat yang palsu. Negara Yahudi berdiri juga karena awalnya dimotivasi oleh kabar-kabar masa mendatang di Taurat, seperti keyakinan mereka.

Muslim yang mendapatkan petunjuk, disemangati oleh janji-janji Nabi saw. Kesabaran para shahabat pada perang Ahzab bangkit dan dikuatkan oleh kabar gembira dari Nabi saw. Padahal saat itu mereka dalam puncak ancaman pembunuhan, penculikan, dan pembantaian. Namun Nabi saw memberikan kabar gembira kemenangan atas Kisra dan Kaisar (Persia dan Romawi), serta menguasai simpanan dua negeri ini.

Telah berlalu bertahun-tahun, umat ini telah berubah bagaikan buih dalam deburan air, seperti dijelaskan oleh Rasulullah saw. Meskipun demikian, para dai yang menyeru ke jalan Allah, mujahidin fi sabilillah, dan hamba-hamba-Nya yang saleh memegang janji-janji Nabi dalam hati mereka sebagai bahan bakar dalam perjalanan panjang yang melelahkan ini. Mereka melihat Yahudi makhluk yang paling hina dengan bantuan para penguasa yang murtad telah mengepung umat Islam. Yahudi telah menguasai bumi yang diberkahi ini dan merampok Masjid Al-Aqsa.

Umat juga melihat sebagian dari mereka telah bergabung dengan Yahudi dan Nasrani. Para penguasa murtad loyal kepada orang-orang musyrik dan berkuasa di atas darah kaum muslimin, merampas harta mereka, dan mengikuti nilai-nilai najis dan setan.
Allah swt memancarkan cahaya di hati umat Islam, untuk menancapkan rasa keteguhan, kesabaran, dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.

Sekaranglah, kabar gembira tentang janji-janji Nabi itu telah menampakkan cahayanya untuk umat ini. Cahaya itu memimpin para mujahidin di Suriah menuju Baitul Maqdis, demikian pula di Yaman, Afghanistan dan Irak. Cahaya itu memancar bagaikan ufuk Subuh untuk menumbangkan setiap slogan jahiliah. Tidak ada lagi di hati manusia kecuali pilihan iman dan jihad bersamaan dengan runtuhnya dunia kejahatan dan kemusyrikan. Perlu tulisan tersendiri untuk menjelaskan keruntuhan ini.

Belajar dari  Kecerdasan Musuh

BACA JUGA  Karantina Wilayah: Perlu tapi Pemerintah Belum Siap

Kita memang perlu tahu tentang kehidupan masyarakat yang komprehensif secara materi dan maknawi, tetapi tidak perlu terkesima dengan kemajuan musuh-musuh kita. Ada nasihat yang perlu saya ingatkan untuk umat ini tentang kemajuan dan kemampuan Eropa seperti juga pernah ditemui oleh para pendahulu kita, yang disebutkan dalam Sahih Muslim dari Musa bin Ali dari ayahnya yang berkata:

Al-Mustaurid Al-Qurasy berkata saat bersama Amr bin Al-Ash, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Kiamat terjadi dan Romawi adalah manusia yang paling banyak.’ Amr bin Al-Ash berkata, ‘Telitilah apa yang engkau ucapkan itu!’ Al-Mustaurid menjawab, ‘Aku katakan yang aku dengar dari Rasulullah saw. Amr berkata, ‘Jika demikian yang engkau ungkapkan, maka pada diri mereka ada empat (keistimewaan): mereka adalah manusia paling tenang menyikapi fitnah, paling cepat sadar ketika terjadi musibah, paling cepat menyerang kembali setelah kalah, dan sebaik-baiknya (manusia) dalam menghadapi orang miskin, anak yatim dan orang lemah, dan yang kelima adalah sesuatu yang indah lagi elok, yaitu mereka orang yang paling bersemangat mencegah kezaliman para raja.”

Kita mengetahui keruntuhan dan kelemahan yang akan mereka alami, keadaan mereka yang akan berbalik, dan setiap orang mengetahui siksa Allah yang dijanjikan untuk mereka. Setelah Peristiwa September, Amerika setiap tahun menemui peristiwa alam yang sangat besar yang menguras perekonomiannya. Allah seolah-olah hendak membenarkan sumpah lelaki saleh, Abu Abdullah Usamah–kita menilai seperti itu, sedangkan Allah lebih mengetahuinya–terhadap negeri jahat ini. Mujahidin telah melaksanakan kerja mereka untuk kerugian Amerika di Irak. Dan kini Amerika mengeluh dan menderita di Afghanistan. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa mereka langsung hancur.

Musuh-musuh kita biasanya memecahkan masalah mereka dengan mengorbankan pihak lain. Meskipun mereka berada di puncak krisis internal tetap saja sibuk menginvansi negara lain. Inilah bukti kata-kata Amr bin Al-Ash, “paling cepat menyerang kembali setelah kalah.”

Kita juga melihat bukti ungkapannya, “paling cepat sadar ketika terjadi musibah.” Musibah besar telah menimpa mereka, namun mereka tetap aktif untuk memecahkan dan bangun dari keterpurukan.

Musuh Dekat dan Musuh Jauh

Poin yang perlu digarisbawahi bahwa urusan umat Islam akan selalu dibayangi keberadaan mereka hingga hari kiamat. Namun, ada perbedaan antara apa yang telah lalu. Hari ini mereka mewujudkan keinginan terhadap umat kita melalui loyalis-loyalis mereka yang murtad, dan menjauhi tindakan menghadapi umat Islam secara langsung di medan-medan ujian dan jihad. Karena itulah, beberapa lingkaran kemurtadan meskipun secara geografis sangat kecil, mereka mewakili orang-orang kafir ini sebagai simpul kepentingan dan pilar bantuan. Maka ketika ada api jihad muncul di mana saja, kekuatan kafir ini pun bergegas menunjukkan kekuatannya. Tetapi bukan tentara mereka sendiri, melainkan tentara-tentara murtad yang menggantikan peran mereka.

Dengan bentuk seperti inilah perang langsung dengan mereka terjadi. Hal ini dalam keyakinan saya, kejelasan dua kubu, yakni kubu keimanan dan kubu kekafiran, belumlah tampak. Sebab, makar yang mereka lancarkan sejak era penjajahan langsung, yang diikuti dengan penanaman loyalis-loyalis murtad mereka akan lenyap dahulu. Periode ini menciptakan ketidakpercayaan di hati orang-orang di sekitar orang-orang murtad itu. Umat Islam belum menjumpai hukum Allah diterapkan dan juga syariat yang semestinya pada mereka.

Potensi Umat di Syam dan Yaman

Tanda-tanda pasukan Syam dan pasukan Yaman hari ini telah muncul. Akan tetapi, itu akan bertambah jelas dengan kualitas kekuatan mujahidin di dua wilayah ini. Urgensi pasukan Syam akan menjadi pasukan yang berbenturan langsung dengan Yahudi dan pelindungnya. Urgensi pasukan Yaman ada dua hal: letak geografis dan eksistensinya akan menjadi sumber yang bisa menarik potensi-potensi umat. Dari fenomena-fenomena yang tampak, inilah perkiraan yang akan dialami oleh musuh-musuh yang najis itu setelah antek-antek mereka runtuh di dua wilayah pasukan besar umat Islam ini (Syam dan Yaman).

Komposisi berikutnya yang diperkirakan akan terjadi adalah runtuhnya kekuatan pusat. Inilah situasi akan menyerupai situasi Islam saat Perang Salib. Ini adalah kondisi terbaik yang dapat mengimbangi kekuatan brutal musuh. Inilah kondisi yang paling kuat untuk menghadapi beruang yang memiliki cakar besar. Benteng Islam yang luas; pasukan yang siap diterjunkan memanjang dan menyebar; pukulan demi pukulan yang dilancarkan di dalamnya akan mewujudkan lemahnya kekuatan-kekuatan kafir.

Konsep Daulah (Negara) vs Dar (Negeri)

Ketika mujahidin terlalu bernafsu untuk membuat daulah dengan konsep kontemporer, maka mereka akan masuk ke dalam lingkaran permainan yang dibuat lawan. Bila ini terjadi, mujahidin akan kehilangan satu faktor kekuatannya dalam keseimbangan konflik. Pemahaman “tanah mati”, yakni mudah merebut wilayah tetapi sulit mempertahankan, adalah perkara yang benar-benar harus diperhatikan oleh mujahidin. Yang diiringi dengan keteladanan nyata dalam kegiatan riil yang diperlukan untuk menegakkan agama dalam hal peradilan, pendidikan dan bimbingan.

Langkah terburu-buru untuk formasi terpusat hanya karena telah mendapatkan suatu kekuasaan atau tamkin akan mengarah kepada hilangnya banyak faktor kekuatan dalam situasi ini, akibat ketidakseimbangan kekuatan, terutama kekuatan udara.

Meraih kemenangan di dunia bagi muslim mujahid melawan musuh-musuhnya adalah urusan yang penting. Dan kemenangan terbesar saat ini adalah bagaimana mencegah tujuan musuh yang hendak dicapai pada kita tidak terwujud. Untuk merealisasikan kemenangan ini adalah dengan menyingkirkan kekuasaan jahiliyah yang di atas kita. Bila kita bisa menjatuhkan kekuasaan ini dan menguasainya maka kita telah melakukan banyak hal.

Karena perubahan situasi–dan ini pasti berubah insya Allah–akan menjadi milik darul Islam yang menang secara sempurna dan kekuasaannya mapan. Akan tetapi, kekhawatiran terbesar saat ini adalah bagaimana cara menghapus ilusi keamanan di bawah kekuasaan jahiliah. Ketika kekhawatiran ini sudah hilang, maka mujahidin bisa berbuat banyak untuk melawan musuh-musuh mereka.

BACA JUGA  IPW Desak Mabes Polri Segera Mencopot Kapolda Sulawesi Tenggara

Oleh karena itu, tidak aneh bila musuh berusaha mempertahankan eksistensi penguasa jahiliah, bahkan bila harus berubah tujuan di dalamnya, karena situasi inilah yang akan melanggengkan cengkeraman mereka dalam kekuasaan jahiliah. Bahkan, mereka tidak mungkin lepas darinya meskipun mereka menginginkannya. Karena itulah, kekhawatiran terbesar ini harus disingkirkan dalam kelompok jihad untuk menjatuhkan pusat kekafiran di setiap lingkaran kemurtadan.

Kemudian, wilayah yang telah dikuasai harus dikondisikan menjadi situasi peralihan dan kekuatan seperti Madinah Munawarah yang dengan warnanya mampu mengenggelamkan musuh, andai dikehendaki. Ini ibarat memeriksa satu titik dalam pesawat, yang bisa diselesaikan tanpa mengganggu keseimbangan mesin yang sedang berjalan.

Yang bisa mewujudkan tujuan tersebut adalah menghidupkan pemahaman “negeri (ad-dar)” bukan “negara (ad-daulah)”. Saya gambarkan kembali biar lebih jelas, maksud negeri (ad-dar) adalah seperti situasi islami di negeri Syam sebagai wilayah umat Islam untuk menghadapi salibis pada masa lalu (zaman Shalahuddin Al-Ayyubi).

Gambaran seperti itu hari ini hampir terbentuk sepenuhnya dalam situasi Afghanistan. Dunia jahiliah sibuk dengan materi kebodohannya, yaitu mempertahankan entitas politik sesuai dengan konsep “negara (ad-daulah)” dengan kontrol terbatas untuk negara tersebut, dan perwakilan diplomatik jahiliah dalam lembaga kemusyrikan dan kekafiran di seluruh dunia. Karena ini merupakan kondisi yang berbahaya bagi musuh. Mereka akan merongrongnya dengan upaya sebesar-besarnya.

Di sinilah tampak jelas urgensi manajemen keinginan untuk membabat habis setiap lawan. Kondisi Madinah Munawarah menjadi contoh bagi setiap wilayah dan kampung “darul Islam”. Batasan ini merupakan kehendak ilahi untuk menciptakan jihad hingga menyebar ke Syam, Yaman dan lainnya. Batas di wilayah-wilayah ini juga bisa menjadi pijakan untuk melemahkan dan menghancurkan thaghut.

Kita harus mengalihkan pandangan dari gambaran-gambaran menipu, buatan thaghut dalam kekuasannya. Gambaran yang akan menyebabkan konflik yang lebih besar di sekitarnya, padahal urgensi dalam pemahaman syar’i tidak mengarah ke situ. Maka kita tidak perlu mengikrarkan “daulah” islamiyah, bahkan kita tidak harus terburu-buru untuk membentuknya sesuai struktur jahiliah. Kita tidak memiliki gairah dan di hati kita tidak ada kerinduan untuk itu. Kita juga tidak perlu menciptakan kondisi “tentara” yang menandingi “tentara” negara seperti itu. Ini bukan impian kita sejak dahulu.

Mata kita tertuju kepada terbentuknya “negeri (ad-dar)” Islam yang tidak memberi tempat untuk keinginan thaghut. Bila kita dirikan, maka di dalamnyalah agama dan kekuasaan kita. Dan negeri ini menjadi titik awal kita untuk membuat peristiwa-peristiwa di sekitarnya seperti masa Nabi saw, seperti membunuh Ka’b bin Al-Asyraf dan melaksanakan perang Badar, yang jumlah pasukannya sedikit tetapi bisa menjadi batu bata pertama untuk mewujudkan perang-perang besar selanjutnya.

Perang Badar disebut sebagai yaumul furqan (hari pembeda). Perang yang kecil pasukannya namun membahayakan rencana-rencana kaum kafir. Mereka dihadapkan pada konflik besar dengan konsep peribadatan kepada Allah yang Esa. Kita harus menyadari makna ini.

Para pemimpin jahiliah setelah Perang Dunia II telah membuat rekayasa fakta-fakta untuk membantu mereka; membuat dunia dari kertas (mengendalikan dunia dengan perjanjian-perjanjian) dan ilusi yang menipu umat Islam. Mereka menyibukkan umat Islam dengan dunia ilusi dan kertas tipuan bahwa kerajaan mereka akan mewujudkan janji-janji Islam. Seandainya mujahidin tidak diberi petunjuk oleh Alah kepada alam nyata, niscaya urusan janji ilahi jauh sekali akan terwujud.

Godaan di Tengah Jalan

Hari ini tahapnya sudah sampai konflik dan puncaknya adalah memusat di tanah yang diberkati (Syam), dan semakin dekat dengan kontra kabar akhir zaman versi Taurat yang palsu.

Orang-orang beriman lebih berhak untuk bebas dari tipuan jahiliah. Mereka tidak boleh masuk ke dalam ilusi konflik tanpa fakta. Sebab, jika hal ini terjadi, akibat-akibatnya tidaklah berpihak kepada Mujahidin.

Hari ini, seandainya mujahidin masuk ke “ibukota” kejahiliahan, seperti masuknya para pejuang revolusi ke dalamnya, maka hasilnya hanya dua saja, tidak ada ketiganya. Pertama, pejuang revolusi dan termasuk sebagian “mujahidin” lawas tunduk dan masuk ke dalam permainan jahiliah dalam kondisi “terpaksa” oleh kenyataan. Kedua, mujahidin terlibat konflik dengan masyarakat awam dan tidak pernah keluar darinya. Masyarakat akan menelan mereka hingga putus asa, dan akhirnya kekuatan kafir yang akan menang.

Terapinya adalah dengan wawasan yang dalam (bashirah) dan kesabaran, benar-benar fokus kepada penanaman keimanan, dan realisasi makna “negeri (ad-dar)” hingga semuanya dikendalikan oleh orang-orang terbaik di antara orang beriman dan mujahidin. Dan diiringi dengan kewaspadaan terhadap cakar kekafiran dan perubahan yang mulai tampak.

Kondisi seperti itu membutuhkan kesabaran, kesadaran, dan keadannya akan seperti keadaan gerilyawan yang banyak bergerak dan berputar agar mendapatkan momen yang tepat untuk menghujamkan pedang ke jantung musuh.

Memahami sunatullah atau hukum sebab akibat tentang realitas kekuatan kita dan musuh-musuh kita serta mengerti secara syariat untuk tidak masuk ke dalam jalur jahiliah merupakan jalan mujahidin untuk mewujudkan janji-janji nubuwwah. Agar mujahidin tidak mengalami keterasingan kedua (dijauhi oleh umat Islam sendiri karena kesalahan sendiri).

Catatan:

Tulisan ini merupakan sebagian topik yang diulas oleh Syaikh Abu Qatadah Al-Falistini dalam tulisannya berjudul Rabi’ Al-Mujahidin Waqi’ wa  Amal (Musim Semi Mujahidin: Fakta dan Harapan). Sub judul merupakan tambahan untuk memudahkan, bukan tulisan asli. Pembaca dapat mendownload naskah lengkapnya di sini:

http://www.gulfup.com/?DgEgJF

Diterjemahkan oleh Agus Abdullah

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Abu Qatadah Al-Falistini: Mencari Kesyahidan Itu Tujuan Perseorangan, Bukan Jamaah”

  1. Tulisan pembukanya tidak ber aturan dlm penempatan kalimat.. bhsnya aga sedkit klihatan translate dr google dan tdk tuntas..

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Bolehkah Kita Bersukacita pada Hari Raya, Sedangkan Suriah dan Gaza Teraniaya?

KILAT.NET – KILAT.NET – Bagaimana kita bergembira pada Idul Fitri ini, sedangkan saudara-saudara kita di...

Rabu, 30/07/2014 03:54 3

Palestina

Lima Tentara Israel Tewas dalam Sebuah Serangan Brigade Al-Qassam

KIBLAT.NET, Gaza – Militer Israel pada Selasa (29/07) menyatakan, 5 tentaranya tewas dalam serangan yang...

Selasa, 29/07/2014 22:52 0

Suriah

Rezim Suriah Kembali Jatuhkan Bom Birmil di Aleppo, 9 Warga Terbunuh

KIBLAT.NET, Aleppo – Dalam semalam, sedikitnya 9 warga sipil terbunuh dalam serangan bom pasukan rezim...

Selasa, 29/07/2014 21:54 0

Rohah

Syaikh Al-Arifi ‘Masuk’ Rumah Sakit Jiwa

Aku sedang pergi ke sebuah negeri untuk memberi sebuah tausiyah. Aku memberi 2 materi tausiyah...

Selasa, 29/07/2014 21:24 1

Indonesia

Densus 88 Tak Diterjunkan, Mabes Polri Malah Bentuk Tim Khusus Buru Teroris Papua

KIBLAT.NET, Lanny Jaya – Mabes Polri mengutuk aksi penembakan di Papua yang menyebabkan dua anggotanya tewas...

Selasa, 29/07/2014 20:16 1

Indonesia

Tembak 2 Polisi Hingga Mati, Perusuh Papua Tak Pernah Dijuluki Teroris

KIBLAT.NET, Lanny Jaya – Meski kerap menghabisi nyawa aparat kepolisian maupun TNI, kelompok teror Papua...

Selasa, 29/07/2014 20:03 3

Indonesia

Kelompok Teroris Papua Pimpinan Enden Wanimbo Bunuh 2 Anggota Polisi

KIBLAT.NET, Lanny Jaya – Kelompok teroris bersenjata Papua kembali meresahkan warga. Kali ini mereka memberondong delapan...

Selasa, 29/07/2014 19:34 0

News

KH. Furqon Syuhada: Menolak Syariat Mengundang Malapetaka

KIBLAT.NET, Poso – Di Kota Poso, Sholat Iedul Fitri 1435 H diadakan di Stadion Kasintuwu...

Selasa, 29/07/2014 19:16 0

Palestina

Pemain Kriket Inggris Dilarang Pakai Gelang untuk Dukung Palestina

KIBLAT.NET, Southampton – Seorang pemain kriket Inggris, Moeen Ali, dilarang memakai gelang yang menunjukkan slogan...

Selasa, 29/07/2014 19:01 0

Indonesia

Pendidikan Islam Jadi Tema Khutbah Idul Fitri Di Kota Poso

KIBLAT.NET, Poso – Ratusan umat muslim Kota Poso berduyun-duyun menuju Stadion Kasintuwu Poso untuk melaksanakan...

Selasa, 29/07/2014 18:50 0

Close