Sahabat Nabi SAW dalam Pandangan Ahlussunnah, Syiah, Khawarij dan Mu’tazilah

KIBLAT.NET, Jakarta – Kaum muslimin ahlussunnah wal jama’ah memiliki karakteristik yang istimewa dalam memandang para sahabat Nabi SAW. Mereka mengambil sifat tawasuth (pertengahan), tidak memandang remeh, tidak pula bersikap ekstrim. Seperti yang terjadi pada aliran sesat seperti syi’ah, khawarij atau mu’tazilah.

Kelompok syiah contohnya, mereka memiliki pandangan tersendiri terhadap para sahabat Nabi SAW yang mulia. Kelompok syiah mengajarkan pada penganutnya untuk mengkultuskan Ali bin Abi Thalib ra, Fathimah beserta keturunannya secara berlebihan.

“Mereka juga menganggap Ali, istrinya Fathimah dan keturunannya memiliki sifat maksum, (suci dari dosa, red), mengetahui hal yang ghaib, bahkan di antara kelompok syiah juga ada yang mengklaim Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan,” ujar Ustadz Anung Al-Hamat dalam Kajian Aqidah di Bekasi, Rabu, (23/07).

Direktur Forum Studi Sekte-sekte Islam (FS3I) ini juga menerangkan bahwa kelompok syiah menjatuhkan vonis kafir, murtad dan munafik kepada sebagian sahabat. Bahkan, salah satu sekte syiah yang berbasis utama di Suriah, yaitu Syiah Nusairiyah sangat mengagungkan Ibnu Muljam, sang pembunuh Ali bin Abi Thalib ra. Sebab, menurut Syiah Nusairiyah, Ali bin Abi Thalib baru akan menjadi Tuhan jika beliau telah wafat. Ibnu Muljam yang menjadi penyebab terbunuhnya Ali lantas turut diagungkan oleh kelompok sesat menyesatkan ini.

Adapun kelompok khawarij, mereka mengkafirkan sebagian sahabat seperti Ali, Mu’awiyah, Amr bin Ash. Karena, ketiga sahabat itu oleh kelompok khawarij dianggap sebagai biang bencana dan perpecahan kaum muslimin.

BACA JUGA  Sudah Ditembak Mati, Enam Pengawal HRS Malah Jadi Tersangka

Hal ini berbeda dengan ahlussunnah wal jama’ah yang mencintai semua sahabat Nabi SAW. Ahlussunnah berpandangan bahwa para sahabat memiliki keutamaan, sebab mereka adalah penerus risalah Nabi Muhammad SAW. Di antara mereka ada yang memiliki keutamaan berupa dijamin masuk ke dalam surga. Ahlussunnah juga menahan diri dari pembicaraan buruk terhadap para sahabat.

“Para sahabat merupakan manusia-manusia terbaik, mereka merupakan para mujtahid, dan diantara mereka yang paling utama ialah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiyallahu ‘anhum,” ujar kandidat doktor bidang pendidikan Islam ini.

Ahlussunnah wal jamaah juga mencintai keluarga Nabi SAW. Sebab bagi mereka ada dua hak, yaitu: ikatan Islam dan ikatan kekeluargaan dengan Nabi SAW.

Lain lagi dengan kelompok mu’tazilah, mereka mengkritisi sifat ‘adil’ para sahabat Rasulullah SAW. Mu’tazilah beranggapan bahwa seluruh sahabat yang terlibat fitnah maka riwayatnya tertolak.

Menurut Ustadz Anung, penolakan ini akan berimplikasi pada sedikitnya riwayat yang diterima oleh kalangan mu’tazilah.

“Tidak ada maksud lain penolakan itu, kecuali untuk menolak syari’at Allah SWT,” pungkasnya.

 

Reporter/Editor: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat