... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Debatable Baiat Khalifah Majhul (Tidak Dikenal)

Foto: Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi
Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi menurut rezim Irak

Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi menurut rezim Irak

“Segala puji bagi Allah. Saat saya sedang mengetik tulisan ini, tiba-tiba Amir kami Al-Karrar, Khalifah Rasulullah saw muncul bagaikan bulan purnama, dalam rekaman video khotbah Jumat di masjid terbesar di kota Mosul, 7 Ramadhan 1435. Dengan kemunculan ini, enyahlah syubhat mereka tentang imam majhul ini dan tumbang dari pokoknya. Sekarang kita tunggu saja siapa yang sebelum ini berteriak, ‘Aku akan membaiatnya bila ia keluar di hadapan manusia!'”

KIBLAT.NET – Kalimat tersebut adalah catatan kaki kata majhul dalam buku Syaikh Abu Bakar Al-Atsari yang berjudul Hasydu Al-Adillah wa An-Nuqul fi Wujubi Nashbi Khalifah wa As-Sam’i wa Ath-Tha’ah lahu bil Ma’ruf (Kumpulan Dalil dan Referensi tentang Kewajiban Mengangkat Khalifah serta Mendengar dan Taat kepadanya dalam Kebaikan).(Lihat halaman 71).

Hal itu menjawab pertanyaan imajiner yang dibuatnya, tentang bagaimana baiat sah, sedangkan yang dibaiat adalah orang yang tidak dikenal (majhul), tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Hasdul

Source http://www.gulfup.com/?Nn0Hpg

Apakah seseorang yang dianggap majhul langsung menjadi tidak majhul dengan menunjukkan gambarnya? Ini menarik untuk kita diskusikan! Karena ini perkara besar! Kita akan melihatnya dari aspek syarat-syarat imamah, pengangkatan, sampai kepada baiat umum untuk melihat lebih jauh bagaimana maksud majhul dalam masalah ini.

Syarat-Syarat Imamah
Khalifah itu adalah pemimpin tertinggi umat Islam, bukan hanya pemimpin kelompok atau jamaah umat Islam tertentu, dan bertanggung jawab atas tegaknya ajaran Islam dan urusan duniawi umat Islam. Maka para ulama, baik salaf (generasi awal Islam) maupun khalaf (generasi setelahnya), telah menyepakati syarat-syarat yang ketat untuk khalifah. Syarat atau kriteria yang mereka jelaskan itu berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, Sunnah dan juga praktek para sahabat, khususnya Khulafaurrasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, radhiyallahu ‘anhum ajma’in.
Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi Asy-Syafi’i yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Al-Mawardi, menjelaskana bahwa seorang calon imam kaum muslimin harus memiliki tujuh persyaratan :

  1. Rasa keadilan (‘adalah)
  2. Berilmu.
  3. Sehat pendengaran, penglihatan dan pembicaraan
  4. Sehat tubuh tidak cacat, yang dapat menghambat pelaksanaan tugas.
  5. Berwawasan luas.
  6. Punya keberanian untuk melindungi wilayah (otoriti) Islam dan melaksanakan jihad.
  7. Punya garis keturunan dari Quraisy. (Al-Mawardi, 5)

    Al-Ahkam As-Sulthaniyah Imam Al-Mawardi

    Al-Ahkam As-Sulthaniyah Imam Al-Mawardi

Lebih detail lagi, Syaikh Muhammad Al-Hasan Asy-Syanqiti, menjelaskan syarat yang harus terpenuhi oleh seorang khalifah ada sepuluh, yaitu:

  1. Muslim. Tidak sah jika ia kafir, munafik atau diragukan kebersihan akidahnya.
  2. Laki-Laki. Tidak sah jika ia perempuan karena Rasul Saw bersabda, “Tidak akan sukses suatu kaum jika mereka menjadikan wanita sebagai pemimpin.”
  3. Merdeka. Tidak sah jika ia budak, karena ia harus memimpin dirinya dan orang lain. Sedangkan budak tidak bebas memimpin dirinya, apalagi memimpin orang lain.
  4. Dewasa. Tidak sah jika anak-anak, kerena anak-anak itu belum mampu memahami dan memecahkan permasalahan.
  5. Sampai ke derajat Mujtahid. Karena orang yang bodoh atau berilmu karena ikut-ikutan (taklid), tidak sah kepemimpinannya seperti yang dijelaskan Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdul Bar bahwa telah ada ijmak (konsensus) ulama bahwa tidak sah kepemimpinan tertinggi umat Islam jika tidak sampai ke derajat Mujtahid tentang Islam.
  6. Adil. Tidak sah jika ia zalim dan fasik, karena Allah menjelaskan kepada Nabi Ibrahim bahwa janji kepemimpinan umat itu tidak (sah) bagi orang-orang yang zalim.
  7. Profesional (amanah dan kuat).
  8. Sehat penglihatan, pendengaran dan lidahnya dan tidak lemah fisiknya. Orang yang cacat fisik atau lemah fisik tidak sah kepemimpinannya, karena bagaimana mungkin orang seperti itu mampu menjalankan tugas besar untu kemaslahatan agama dan umatnya? Untuk dirinya saja memerlukan bantuan orang lain.
  9. Pemberani. Orang-orang pengecut tidak sah jadi Khalifah. Bagaimana mungkin orang pengecut itu memiliki rasa tanggung jawab terhadap agama Allah dan urusan Islam dan umat Islam? Ini yang dijelaskan Umar Ibnul Khattab saat beliau berhaji : Dulu aku adalah pengembala unta bagi Khattab (ayahnya) di Dhajnan. Jika aku lambat, aku dipukuli, ia berkata : Anda telah menelantarkan (onta-onta) itu. Jika aku tergesa-gesa, ia pukul aku dan berkata : Anda tidak menjaganya dengan baik. Sekarang aku telah bebas merdeka di pagi dan di sore hari. Tidak ada lagi seorangpun yang aku takuti selain Allah.
  10. Dari suku Quraisy, yakni dari keturunan Fihir bin Malik, bin Nadhir, bin Kinanah, bin Khuzai’ah. Para ulama sepakat, syarat ini hanya berlaku jika memenuhi syarat-sayarat sebelumnya. Jika tidak terpenuhi, maka siapa pun di antara umat ini yang memenuhi persayaratan, maka ia adalah yang paling berhak menjadi Khalifah. (lihat http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/antara-khilafah-dan-khalifah.htm)

Syarat-syarat tersebut diperlukan karena seorang khalifah akan mengemban tugas dan tanggung jawab yang sangat besar. Seorang imam menurut Al-Mawardi memiliki tugas:

  1. Menjaga prinsip-prinsip agama yang mapan dan menjadi konsensus generasi Islam awal.
  2. Melaksanakan hukum (peradilan) di tengah masyarakat dan melerai pertengkaran antara dua kelompok yang bertikai.
  3. Memelihata kehidupan perekonomian masyarakat, sehingga rakyat memiliki rasa aman atas diri dan hartanya.
  4. Menegakkan hukuman untuk menjaga hak-hak manusia dari penindasan dan perampasan.
  5. Membentengi perbatasan Negara untuk mencegah serbuan (serangan) musuh.
  6. Melakukan jihad melawan musuh, melalui dakwah agar mereka menjadi muslim atau ahl al-dhimmah (non-muslim yang tinggal di bawah kekuasaan Islam).
  7. Mengumpulkan fai’ (rampasan dari musuh bukan perang) dan zakat baik yang wajib maupun menurut syariah maupun yang wajib menurut ijtihad.
  8. Mengatur kekayaan Negara (taqdir al-ataya) yang ada di baitul mal, dengan memperhatikan keseimbangan (tidak boros dan tidak pelit, tapi seimbang dan proporsional).
  9. Mengikuti nasihat orang yang bijaksana dan menyerahkan urusan pemerintahan dan keuangan kepada orang-orang yang bisa dipercaya.
  10. Melakukan pengawasan terhadap urusan-urusan pemerintahan dan mengawasi keadaan, untuk mengatur kehidupan umat dan memelihara agama.

Khilafah itu bukan tujuan, melainkan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang disyariatkan, seperti menegakkan agama Allah di atas muka bumi, menegakkan keadilan, menolong orang-orang yang yang dizalimi, memakmurkan bumi, berjihad dan lain-lain. Karena besarnya tugas ini, maka seorang yang akan dicalonkan menjadi khalifah adalah orang yang dikenal. Bukan hanya dikenal wajah dan gambarnya, melainkan yang lebih utama adalah sifat dan kapabilitas untuk menjadi pemimpin, seperti dijelaskan oleh para ulama.

Para khalifah yang empat adalah sosok yang sangat dikenal oleh umat pada masanya dan hidup di tengah-tengah mereka. Maka ketika Utsman terbunuh dan tidak menunjukkan pengganti, para sahabat langsung menjatuhkan pilihan kepada Ali bin Abi Thalib. Jadi tanpa diragukan lagi, suksesi Khilafah berangkat dari landasan manakah di antara pemuka umat yang paling layak dan dekat kepada syarat-syarat tersebut. Ya, syarat-syarat tersebut tidak mengikat mutlak, hingga bila tidak ada maka tidak ada imam yang diangkat.

Wilayah kekuasan terluas Bani Umayyah [foto wikipedia]

Wilayah kekuasan terluas Bani Umayyah [foto wikipedia]

Imam Al-Izz bin Abdussalam mengatakan ketika tidak ada calon yang adil (tidak fasik), “Bila keadilan dalam mandat-mandat umum dan khusus tidak terwujud disebabkan tidak ada orang yang adil, maka kita menyerahkannya kepada orang yang paling sedikit kefasikannya.” (Al-Qawa’id Al-Kubra, I/121).

Ya, bukan harga mati, namun sejarah membuktikan bahwa umat selalu memilih dan melihat siapakah yang paling pantas sesuai syarat-syarat tersebut. Inilah pula yang terjadi pada suksesi Abu Bakar Ash-Shiddiq. Perkataan Al-Izz bin Abdussalam ini sekaligus menunjukkan bahwa keadaan seorang khalifah tidak mungkin majhul. Ulama mengetahui siapakah yang paling sedikit kefasikannya, ketika tidak ada calon yang adil.
Kita bisa menemukan para khalifah kaum muslimin memiliki sifat-sifat tersebut.

Abdul Malik bin Marwan, misalnya, digambarkan oleh Ibnu Qutaibah Ad-Dainuri dalam bukunya, Al-Imamah wa As-Siyasah, “Abdul Malik bin Marwan … telah menjanjikan kebaikan untuk manusia. Ia menyeru mereka untuk menghidupkan Al-Kitab dan Sunnah, menegakkan keadilan dan kebenaran. Ia adalah orang yang dikenal jujur, masyhur sebagai orang yang utama dan berilmu. Kesalehannya tidak diperselisihkan, kewara’annya tidak dibantah. Karena itulah, mereka menerima kepemimpinannya. Tidak ada seorang Quraisy pun yang menyelisihinya dan demikian pula penduduk Syam. (Al-Imamah wa As-Siyasah, III/193)
Hal ini juga dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani, “Adil (adalah) merupakan inti semua perkara dan menjadi porosnya. Semua perkara yang kami sebutkan sebagai tujuan imamah tidak akan terwujud kecuali dengan keadilan yang berjalan dalam perbuatan, perkataan, dan manajemennya berdasarkan apa yang diridhai Allah. Sebab, orang yang tidak memiliki sifat adil tidak akan dipercaya untuk dirinya sendiri, apalagi dipercaya untuk hamba-hamba Allah. Ia tidak mungkin dipercaya untuk mengatur urusan agama dan dunia mereka. … Maka Ahlul Halli wal Aqdi tidak boleh membaiat (mengangkat) orang yang tidak adil bila telah populer dengan sifatnya itu. Kecuali bertobat dan tidak ada orang lain yang lebih layak.” (As-Sail Al-Jirar, 938).

Persaingan Dua Calon Khalifah
Ciri lain yang menunjukkan imam bukan orang yang majhul sifatnya adalah ketika terjadi dua calon yang sama-sama kuat. Dalam hal ini, Imam Al-Mawardi menjelaskan bahwa jika ada dua orang calon pemimpin negara yang mempunyai kompetensi yang sama maka didahulukan memilih calon yang lebih tua usianya. Meskipun demikian, jika yang dibaiat adalah calon yang lebih muda, hal tersebut tetap sah.

Jika salah satu dari calon itu lebih berpengalaman dan yang kedua lebih berani, maka dalam memilih salah satu dari dua calon itu harus diperhatikan kebutuhan negara pada saat itu.

Jika negara saat itu membutuhkan keberanian seorang pemimpin karena berkembangnya ancaman dari luar negara dan timbulnya pemberontakan di dalam negara, maka calon yang lebih berani lebih berhak untuk memangku jabatan kepala negara. Sementara itu jika negara sedang membutuhkan tokoh berpengetahuan dan pandai karena diperlukan untuk menenangkan dan mengalahkan orang-orang yang menyimpang dan para pembuat bid’ah, maka orang yang lebih berpengetahuan dan lebih pandai menjadi calon yang lebih berhak. (Al-Mawardi, 21).

Namun para fuqaha berbeda pendapat tentang dua orang yang memperebutkan jabatan pemimpin negara, sementara keduanya mempunyai kompetensi yang benar-benar seimbang. Sekelompok fuqaha berpendapat bahwa nama keduanya diundi dan yang namanya keluar diangkat menjadi kepala negara. (Al-Mawardi, 21).

Proses sampai kepada kemungkinan diundi karena calon yang seimbang menunjukkan bahwa calon khalifah bukanlah majhul, fisik dan sifatnya.

Baiat di Maskanah setelah Syaikh Al-Baghdadi muncul di Mosul

Baiat di Maskanah setelah Syaikh Al-Baghdadi muncul di Mosul

Batasan Majhul dan Pengangkatan Imam oleh Sebagian Ahlul Halli wal Aqdi

Tidak dipungkiri bahwa pada kondisi kaum muslimin telah menyebar luar, seorang imam bisa saja tidak dikenal oleh sebagian orang. Sebagian orang awam bisa saja tidak mengenalnya. Namun, seorang imam bukanlah sosok yang tidak dikenal sama sekali. Bahkan Al-Mawardi menyebutkan bahwa semua orang harus mengenalnya, meskipun tidak terperinci.

Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyah mengatakan, “Pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama adalah seorang imam itu wajib diketahui oleh semua pihak secara global saja dan tidak terperinci. Dan setiap orang tidak harus mengetahui imam secara detail baik secara wujud ataupun namanya kecuali pada kasus-kasus yang menuntut hal tersebut. Seandainya diwajibkan kepada setiap orang mengetahui imam secara detail wujud dan namanya, maka wajib hijrah ke tempat imam berada. Dan kalau hal tersebut diharuskan maka orang-orang yang berada jauh dari imam akan meninggalkan kediamannya dan hal itu akan membuat negeri kaum muslimin kosong (karena pada hijrah untuk melihat wujud imam).” (Al-Mawardi, 21).

Konteks ucapan Al-Mawardi ini adalah berkaitan dengan kondisi khalifah sudah definitif dan terpilih. Sebab, kata-kata tersebut masuk dalam pasal: Bila khilafah telah tetap pada orang yang dipilih, baik melalui penunjukkan maupun pemilihan, semua umat wajib mengetahui perubahan statusnya sebagai khalifah dengan sifat-sifatnya. (Lihat Al-Mawardi, 21).

Artinya, sifat calon khalifah secara detail sudah dikenal dan diketahui oleh ahlul halli wal aqdi sebelum mengangkatnya. Abu Ya’la mengatakan, “Mengetahui imam secara fisik dan namanya tidak wajib bagi semua orang, kecuali bagi orang yang berkedudukan sebagai pemilih (Ahlul Halli wal Aqdi) yang pada mereka ada hujjah dan dengan mereka khilafah diangkat.” (Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, Qaadhi Abu Ya’la, I/27).

Al-Ahkam As-Sulthaniyah Qadhi Abu Ya'la

Al-Ahkam As-Sulthaniyah Qadhi Abu Ya’la

Maksud hujjah pada mereka ialah alasan yang jelas untuk mengangkat khalifah. Maka dalam hal ini, ahlul halli wal aqdi merupakan orang-orang yang dipercaya umat, sehingga orang-orang yang tidak mengenal khalifah percaya kepadanya dan tidak memberontak. Ketika kepercayaan dan kapabilitas ahlul halli wa aqdi tidak diragukan umat, pengangkatan imam oleh sebagian dari mereka pun dibolehkan oleh para ulama.

Imam Nawawi, “Cukuplah baiat ahlul halli wal aqdi yang bisa berkumpul saja, dari kalangan ulama, pemimpin dan panutan manusia (wujuhun naas). Makna wujuhun naas adalah para pemuka masyarakat dalam urusan kepemimpinan, ilmu dan selainnya. (Hawasyi Asy-Syirwani, IX/76).

Artinya, masyarakat yang tidak tahu siapa imam mereka percaya kepada khalifah karena yang mengangkat adalah orang-orang yang mereka percaya dalam ilmu dan kepemimpinan.

Penerapan Hukum dan Kaidah para Ulama
Teori-teori ulama dalam urusan suksesi ini merupakan konklusi dari konteks sejarah mengacu kepada sumber-sumber hukum Islam yang disepakati. Konteks sejarah yang paling terang pada masa Nabi dan khalifah yang empat –yang dalam hal ini kita diperintahkan untuk mengikuti sunnahnya– adalah bahwa kaum muslimin hidup dalam satu jamaah yang kuat.

Pada kondisi umat yang bersatu, baiat dari sebagian ahlul halli wal aqdi, bahkan seorang saja, bisa menyatukan umat. Ini terjadi pada masa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Abu Bakar diangkat oleh satu orang, Umar diangkat dengan penunjukan setelah proses musyawarah, Utsman diangkat oleh 6 orang yang dibentuk oleh Umar, Ali diangkat melalui beberapa sahabat. Semua menghasilkan kesepakatan umat, sehingga kekhilafahan mereka menjadi kokoh (istaqarrat) dan didukung. (Lihat rincian suksesi khalifah yang empat di Ensiklopedi Sejarah Islam, Dr Ali Ash-Shalabi)

Bagaimana bila teori-teori para ulama ini diterapkan dalam konteks sekarang? Hari ini umat telah terpecah dalam banyak kelompok, dan ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih. Konteks yang nyata pada zaman sekarang adalah:

  • Banyak kelompok dan organisasi dengan tujuan mengembalikan kekhilafahan Islam.
  • Belum ada tokoh pemersatu di antara banyaknya kelompok itu.

Dalam kondisi seperti ini, deklarasi khilafah dengan mengangkat imam melalui ahlul halli wal aqdi sepihak, kemungkinan hasilnya adalah:

  • “Khilafah” jamaah. Wujudnya ialah namanya khilafah tetapi substansinya tidak berbeda dengan kepemimpinan organisasi.
  • Banyak khilafah tanpa makna dan jauh dari tujuan imamah.

Al-Ghazali (Fathaih Al-Bathiniyah) mengatakan, Yang kami pilih bahwa cukuplah satu orang mengangkat imam.” Al-Juwaini juga menguatkan, “Pendapat yang paling dekat dengan apa yang disetujui oleh Qadhi Abu Bakar, yang diriwayatkan dari guru kami, Abu Hasan, adalah bahwa imamah bisa ditetapkan dengan baiat (pengangkatan) dari satu orang ahlul halli wal aqdi.” Kalau ini diterapkan dalam konteks sekarang, maka bisa dibayangkan akan ada berapa khalifah dalam satu wilayah.

Kemungkinan khalifah dengan pengangkatan sepihak

Kemungkinan suksesi dengan pengangkatan sepihak

Inilah kemungkinan jawaban mengapa semua teori ulama sudah benar, tetapi hasilnya tidak seperti yang digambarkan oleh ulama. Artinya, secara teori tidak salah dalam pengangkatan melalui sebagian ahlul halli wal aqdi dan tidak semua orang harus mengenal khalifah, tetapi konteksnyalah yang tidak sama. Ya, salah konteks. Keliru dalam menerapkan hukum (tanzilul hukmi) atau teori para ulama yang dihasilkan dari pendalaman sejarah.

Itulah sebabnya, para ulama mensyaratkan baiat sebagian ahlul halli wal aqdi itu menghasilkan syaukah (kekuatan). Karena itulah, Al-Juwaini menambahkan syarat, “(Calon khalifah) dibaiat oleh satu orang yang terkemuka, banyak pengikut, ditaati kaumnya, dan baiatnya (pengangkatannya) berfungsi seperti apa yang kami tunjukkan dalam pengangkatan imam.” (Al-Ghayatsi, 72).

Baiat yang menghasilkan syaukah ini diyakini oleh Ibnu Khaldun, An-Nawawi, Ibnu Taimiyyah dan lainnya. Pendapat ini sekaligus menjawab apakah orang terkemuka itu harus dari seluruh penjuru dunia. Bukan ini substansinya, melainkan terwujudnya syaukah (kekuatan) dan otoritas di tangan kaum muslimin, bukan otoritas parsial atau irisan dari otoritas lainnya.

Bayangan selanjutnya adalah dalam kondisi sekarang apakah mungkin umat bersatu, para pemukanya berkumpul dan sepakat untuk mengangkat satu khalifah? Inilah tugas berat umat.

Kebangkitan umat Islam yang terwujud dalam gerakan dakwah dan jihad sejak keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani 1924 hingga hari ini adalah dalam upaya tersebut. Para tokoh dan ulama dakwah dan jihad sejak masa itu sampai masa kita sekarang bukanlah tidak tahu akan kewajiban mengangkat imam. Justru kebangkitan itu lahir dari keprihatinan umat atas hilangnya kepemimpinan Islam.

Kemungkinan khalifah dengan musyawarah para panutan umat

Kemungkinan suksesi dengan musyawarah para panutan umat

Penutup
Baiat imam majhul hanyalah salah satu alasan pihak yang menolak. Ketika hal ini bisa diterima, ada lagi beberapa alasan lain yang harus diselesaikan. Daulah berpotensi dikucilkan dari gerakan jihad lainnya atau akan didukung dan menjadi kekhalifahan yang lebih solid. Syaikh Husain bin Mahmud melihat Deklarasi Khilafah 1 Ramadhan 1435 oleh ISIS bisa mendapatkan dukungan luas. Hal ini terlihat dalam ungkapannya, “Kami berkata kepada Daulah, jangan memaksakan kaum muslimin dalam suatu perkara yang mereka mempunyai kebebasan di dalamnya, serulah mereka ke jalan Allah dengan hikmah, mau’idzah hasanah dan dengan perkataan yang baik, dan jangan meminta bai’at darinya tanpa kerelaan akal dan hati. Sibukkanlah diri dengan berperang melawan musuh dan orang kafir yang menumpahkan darah kaum muslimin. Dengan itu, pantas bagi kalian untuk mendapatkan pengakuan dari umat, pengakuan kejujuran dan kebenaran perkara kalian.” Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Agus Abdullah

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

11 comments on “Debatable Baiat Khalifah Majhul (Tidak Dikenal)”

  1. imadudin

    apakah amirul mukminin abubakar albagdadi tidak memenuhi kriteria seorang khalafah? lantas siapa dan dari kabilah mana yang menurut anda lebih cocok utk menjadi seorang khalifah? terlalu banyak retorika dan fitnah yang ditujukan utk menjatuhkan beliau,sehingga kaum kafir,murtadin,serta munafikun sangat gampang utk memporak porandakan daulah yg mulai kuat ini, kapan mau bersatunya seluruh muslimin apabila masih mempunyai sifat dengki dgn keberhasilan khalifah? seperti beliau(khalifah) katakan “apabila ada salah maka luruskanlah,apabila menyimpang dari syar’i maka nasehatilah saya,karena saya juga manusia biasa sama seperti anda sekalian”, nah mau apalagi yang diragukan? atau mungkin karena kelompok anda yang bernafsu utk jadi khalifah?ingat sodara kami hanya mengakui dan berbaiat pada yang pertama mendeklarasikan khilafah dan sudah memenuhi kriteria, utk aturan yg kedua maka alias ikut2an maka hukumnya bathil!

  2. udin

    sudahlah,bagi kita orang2 yg tdk ikut jihad, Mari kta doakan para mujahidin agar bisa menang melawan orang2 kafir. kt tdk usah banyak retorika, apa lgi jika sibuk mencari – cari kesalahan para mujahidin.merekalah yang lebih tahu kondisi di suriah dan iraq,sedangkan kita di indonesia hanya mengetahui kondisi disana lewat media. itupun beritanya sudah dipoles sedemikian rupa sesuai kepentingan media…

  3. Magda

    Albaghdadi itu sebelumnya adalah pemimpin al qaeda iraq yang berbaiat kepada Ayman al zawahiri dan Mullah omar. Tiba-tiba, cabang al Qaeda iraq memproklamirkan diri menjadi daulah lalu khilafah.. tidak salah? Bukankah itu artinya bughot kepada al zawahiri dan mullah omar? Jamaah yang lebih dulu berdiri adalah Emirat Islam afghanistan dan al Qaeda. Cabang al Qaeda memproklamirkan diri menjadi daulah dan khilafah lalu memaksa al Qaeda baiat kepadanya, sama saja seperti seorang anak merasa gede lalu mengaku menjadi suami dari ibunya sendiri dan memaksa bapaknya mengaku anak kepadanya. Atau sama saja seperti seorang gubernur di indonesia meproklamirkan wilayahnya menjadi negara, dan mengangkat dirinya jadi presiden dan menyuruh presiden yang ada menjadi gubernur baginya. Aneh bukan?

  4. abu aman

    Akhi Imadudin, tidak usah menuduh orang lain dengki. Seperti halnya keikhlasan, itu adalah persoalan hati yang sifatnya gaib dan tak perlu dihukumi.

    Saya ingatkan bahwa penerimaan umat terhadap figur seorang khalifah itu sifatnya sunnah kauniyah. Umat pasti akan menerima jika memang ia layak diterima. Jika belum diterima, ya silakan dievaluasi kembali.

    “Sebagai sunnatullah (yang berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunatullah.” (Al-Ahzab: 62)

    Terakhir, saya sampaikan atsar Umar bin Al-Khatthab:
    مَنْ بَايَعَ رَجُلًا عَنْ غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَلَا يُبَايَعُ هُوَ وَلَا الَّذِي بَايَعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلَا
    “Barang siapa membaiat seseorang tanpa melalui musyawarah dengan kaum muslimin, niscaya orang tersebut tidak boleh dibaiat dan begitu juga orang yang membaiat dirinya, karena ia telah mempertaruhkan keduanya untuk dibunuh.”
    (HR Al-Bukhari: Kitab Al-Hudud no. 6830–dan ini lafalnya–serta Muslim: Kitab Al-Hudud no. 1691–dengan lafal yang lebih ringkas)

  5. abdullah

    kalau ana doain aja atau diam

  6. hasan ibnul chasna

    kita lihat aja dulu bagaimana pendapat ulama…004

  7. Abu Nabila

    Perjuangan mereka dengan harta dan darah jauh lebih mulia dari kita yang masih sekadar seminar, kajian dan orasi.
    Alangkah baiknya kita mendoakan semoga khilafah ‘alaa minhajin nubuwah segera terwujud.

  8. bro

    bro kito jgn melihat nama atau pon pangkat…kita tgok ape yg dio buat,klu baik kita terima…dh itu je…klu dia jahat kita tolak…dlm akhir zaman nih kita kne mcm tu

  9. seand

    setidaknya ada khalifah. kalau mau khalifah yg sempurna maka cuma abu bakar dan umar dan usman ali. sy juga bisa jadi khlaifah. yg penting muslim dan berkorban untuk agama ini.
    kenapa media ini anti khalifah? aneh bin ajaib.

  10. danaw

    Bukan anti Khilafah, tapi jangan asal berbai’at kalau belum punya Ilmu dan paham prilaku orang2 di belakang ISIS karena Khilafah Islamiyah merupakan pelindung Ummat Islam bukan golongan.

  11. juhaiman

    Ya memang kita belum ada kesempatan berjihad….doakan saja , dan kita lihat ke depan.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rohah

Subhanallah, 5 Pemuda Takluk dengan Untaian Kalimat Seorang Akhwat

Ada 5 orang pemuda yang tertarik kepada seorang gadis yang terbiasa menghadiri majelis taklim di...

Selasa, 08/07/2014 15:20 0

Indonesia

Terkait Penundaan Pembacaan Tuntutan Mantan LDII, TPM : Harus Dibebaskan

KIBLAT.NET, Bekasi – Terkait penundaan pembacaan tuntutan jaksa dalam tuduhan pencemaran nama baik Sentra Komunikasi...

Selasa, 08/07/2014 14:57 0

Indonesia

JAT Datangi Kantor Jakarta Post, Protes Karikatur Hina Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Pengurus Jamaah Anshorut Tauhid bersama amir wilayah Jakarta Ustadz Haris Amir Falah...

Selasa, 08/07/2014 14:41 0

Yaman

Militer Yaman Gempur Basis Syiah Hautsi di Provinsi Imran

KIBLAT.NET, Imran – Militer Yaman, Selasa pagi (08/07), menggempur lokasi-lokasi milisi Syiah Hautsi di daerah...

Selasa, 08/07/2014 14:34 0

Turki

Polisi Turki Tangkap Pria Bersenjata Dekati PM Erdogan

KIBLAT.NET, Samsun – Polisi Turki menahan seorang pria yang terlihat membawa pistol saat mendekati Perdana...

Selasa, 08/07/2014 14:30 0

Info Event

Gugah Kesadaran Masyarakat, Kampanye Save The Children of Syria Digelar di Semarang

KIBLAT.NET, Semarang – Syam Organizer wilayah SEMARKAND (Semarang-Kendal-Demak) pada Sabtu, (05/07) sore menggelar aksi kampanye...

Selasa, 08/07/2014 14:27 0

Indonesia

Bantu Kaum Muslimin Suriah, Auction4Syam Gelar Bazaar Lelang

KIBLAT.NET, Jakarta – Belum genap satu bulan terbentuk, gerakan Auction4Syam sudah berhasil mengumpulkan sejumlah barang layak...

Selasa, 08/07/2014 14:07 0

Opini

Khilafah Islam, Antara Mimpi dan Realita

KIBLAT.NET – Pro-kontra penegakkan kekhilafahan Islam ala gerakan jihad ISIS terus berlanjut, tapi saya disini...

Selasa, 08/07/2014 13:54 0

Indonesia

Permintaan Maaf Jakarta Post Dinilai Tidak Hilangkan Unsur Pidana

KIBLAT.NET, Jakarta – Sekretaris Umum PP Persatuan Islam (Persis), Irfan Safruddin menilai permohonan maaf The...

Selasa, 08/07/2014 13:23 0

Philipina

Filipina Kembali Tangkap Anggota Abu Sayyaf

KIBLAT.NET, Basilan – Pasukan keamanan Filipina menahan seorang anggota kelompok Abu Sayyaf yang mereka tuding...

Selasa, 08/07/2014 13:00 0

Close