... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Fatwa-Fatwa tentang Wanita Seputar Ramadhan

Foto: ٍSource picture: http://forums.fatakat.com/thread3241034

Ini adalah kumpulan fatwa dari beberapa ulama terkemuka bagi seorang wanita di Bulan Ramdhan. Ulama-ulama yang menjawab berbagai persoalan di sini diantaranya adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Baz, Abdullah ibn Jibrin, dan para mufti dari al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’. Mudah-mudahan, fatwa-fatwa ini bermanfaat bagi para Muslimah yang sedang menghadapi bula pernuh berkah, Bulan Ramadhan.

1. Kapan seorang anak perempuan sudah wajib berpuasa?

Ketika sudah mencapai usia baligh, maka anak perempuan sudah terkena taklif dan wajib berpuasa. Usia baligh adalah ketika anak perempuan genap berumur 15 tahun atau tumbuhnya bulu kemaluan atau dengan keluarnya air mani yang jelas atau dengan keluar darah haidh, atau dengan hamil. Maka, ketika salah satu tanda tadi sudah didapati pada seorang anak perempuan, wajib baginya berpuasa walaupun masih berusian 10 tahun.

Banyak dari anak-anak perempuan yang telah haidh di usia 10 atau 11 tahun, namun para orang tua mengira bahwa dia masih anak-anak dan belum wajib berpuasa. Ini adalah sebuah kesalahan. Seorang anak perempuan ketika sudah haidh, dia sudah menjadi seorang wanita dewasa dan sudah mukallaf. Wallahu a’lam (Syaikh Ibn Jibrin: Fatawa Islamiyah)

2. Bagaimana dengan seorang anak perempuan umur 12 atau 13 tahun yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan? Apakah dia harus menggantinya, ataukah orang tuanya yang mengganti?

Seorang wanita menjadi mukallaf dengan syarat-syarat berikut ini: Islam, berakal, dan baligh. Ukuran balighnya adalah dengan haidh, mimpi basah, tumbuh bulu kemaluan atau telah berusia 15 tahun. Seorang anak perempuan jika telah terpenuhi syarat-syarat taklif, maka wajib baginya berpuasa. Dan wajib baginya untuk mengganti puasa yang telah ia tinggalkan saat ia sudah mencapai usia taklif. Jika salah satu syarat dari syarat-syarat taklif di atas tidak terpenuhi, maka tidak wajib baginya. (Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’: Fatawa Islamiyah)

3. Dosakah anak perempuan yang berpuasa dikarenakan malu kalau dirinya sedang haidh?

Tidak diragukan lagi bahwa perbuatannya itu adalah salah. Malu dalam masalah ini adalah tidak boleh. Haidh merupakan ketetapan Allah ta’ala kepada para wanita dan ketika dia sedang haidh, maka seorang wanita terhalang untuk melaksanakan ibadah puasa dan shalat. Seorang anak perempuan yang berpuasa karena malu kepada keluarga kalau dirinya sedang haidh, maka ia mengganti puasa yang ia tinggalkan karena malu tersebut di hari-hari selain bulan Ramadhan. Ia juga tidak boleh mengulangi perbuatannya tersebut. Allahu A’lam (Syaikh Ibnu Jibrin: Al Lu’lu’l Makiin)

4. Seorang anak perempuan telah baligh lalu bulan Ramadhan datang. Ia tidak berpuasa karena merasa malu. Setelah satu tahun, ia kembali mendapati bulan Ramadhan dan ia belum mengganti puasa di tahun kemarin. Maka, bagaimana hukumnya?

Dia tetap wajib mengganti puasa yang ia tinggalkan saat ia sudah mencapai baligh. Selain itu ia juga mengganti dengan bersedekah kepada satu orang miskin selama satu hari pada setiap puasa yang ia tinggalkan. Sebagaimana firman Allah ta’ala dalam Surat Al-Baqarah: 184. Yaitu dengan setengah sha’ setiap harinya. Hal itu dikarenakan ia seharusnya mengerjakan puasa tepat pada waktunya, yaitu setelah tanda baligh muncul ketika haidh. Ketika seorang wanita sudah mengalami haidh, maka wajib baginya untuk berpuasa walaupun usianya masih kecil. (Syaikh Ibn Jibrin: Al Lu’lu’ Al Makiin)

5. Aku seorang wanita dewasa yang berumur 25 tahun. Waktu kecil hingga berumur 21 tahun, aku tidak pernah berpuasa dan sholat karena malas. Orang tuaku sudah menasehatiku, namun aku tidak menurutinya. Maka, apa yang wajib aku lakukan setelah sekarang ini aku sadar dan diberi hidayah oleh Allah ta’ala?

Taubat menghancurkan amalan-amalan buruk sebelumnya. Engkau harus menyesali perbuatan itu, berazam dengan sebenar-benarnya, sungguh-sungguh beribadah dan memperbanyak amalan-amalan sunnah. Melaksanakan shalat wajib di siang dan malam hari, berpuasa sunnah, berdzikir, membaca al-qur’an dan berdoa. Karena Allah ta’ala menerima hambanya yang benar-benar bertaubat dan memaafkan kesalahan-kesalahannya. (Syaikh bin Baz)

6. Apakah boleh seorang wanita menggunakan pil atau obat penunda haidh?

Dalam pandangan saya, seorang wanita tidak usah menggunakan pil/obat seperti ini. Biarkanlah takdir Allah kepada para wanita berjalan dengan sendirinya. Karena, tiap apa yang ditakdirkan Allah itu pasti ada hikmahnya. Hikmah ini sesuai dengan tabiat seorang wanita. Jikalau seseorang ingin mengehentikan kebiasaan haidh ini , maka hal itu tidak diragukan lagi akan berefek buruk pada pada diri seorang wanita. Nabi SAW bersabda,”Tidak ada kemudaratan (bagi diri sendiri) dan menimbulkan kemudaratan (bagi orang lain)” . Ini setelah saya mengamati berdasarkan analisa para dokter bahwa hal tersebut membahayakan Rahim seorang wanita. Saya berpendapat bahwa tidak seharusnya para wanita menggunakan obat seperti ini. Dan segala puji bagi Allah atas segala kemampuan dan hikmahNYA. Jika seorang wanita mendapati haidh, maka ia menahan diri dari berpuasa dan shalat, ketika sudah suci lagi ia boleh melaksanakannya lagi. Setelah selesai Ramadhan, maka ia mengganti puasa yang ditinggalkannya. (Syaikh Utsaimin)

7. Bolehkah aku meminum pil penunda haidh di akhir-akhir bulan Ramadhan agar aku dapat menyempurnakan puasaku?

Boleh menggunakan obat penunda haidh jika tujuannya untuk beramal shalih. Jika ia berniat untuk berpuasa, maka ia melaksanakan sholat sebagaimana mestinya, memperbanyak membaca al-Qur’an di waktu-waktu yang utama. Maka tidak mengapa ia meminum pil dengan tujuan seperti ini. Jika tujuannya hanya semata-mata agar tidak mempunyai hutang puasa, maka aku tidak mengetahui bagaimana baiknya. Yang jelas, seorang yang berpuasa tetap akan diberi ganjaran bagaimanapun kondisinya. (Syaikh Ibn Jibrin: Fatawa Shiyam)

 

Puasanya Wanita yang Sedang Haidh dan Nifas

1. Apakah seorang yang wanita yang mendapati haidh di bulan Ramadhan harus berbuka? Kemudian kapan harus berpuasa lagi?

Orang yang haidh puasanya tidak sah dan ia tidak boleh berpuasa. Jika mendapati haidh (sementara dia sedang berpuasa), dia membatalkan puasanya dan mengganti puasa yang ditinggalkan selama haidh setelah dia dalam keadaan suci. (Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’: Fatawa Islamiyah)

2. Jika seorang wanita di bulan Ramadhan bersih dari haidny sebelum adzan fajar (subuh), apakah baginya wajib berpuasa?

Jika darah haidh telah berhenti dari seorang wanita di akhir malam dari bulan Ramadhan, maka baginya sah untuk sahur dan berniat puasa. Karena pada waktu itu ia bersih dan wajib puasa. Namun dia tidak boleh shalat dan tidak boleh dicampurinya sampai ia mandi besar. Ini berdasar firman Allah ta’ala,” Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: `Haidh itu adalah suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222). (Syaikh Ibn Jibrin: Fatawa Shiyam)

3. Jika seorang wanita bersih setelah terbit Fajar seketika itu juga, apakah ia wajib berpuasa pada hari itu?

Jika darah berhenti ketika atau mendekati terbit fajar, maka ia dapat berpuasa dan sah. Ia diberi pahala atasnya walaupun belum mandi besar. Adapun jika berhenti setelah subuh, maka dia menahan (untuk makan dll) pada hari itu dan hal itu tidak mengugurkan kewajiban puasanya di hari itu. Dia mengganti puasanya setelah Ramadhan. Wallahu a’lam (Syaikh Ibn Jibrin: Fatawa Shiyam)

4. Jika haidh berhenti di pertengahan siang apakah ia tetap menahan (untuk makan dll) di waktu sisanya?

Jika seorang wanita bersih dari haidh atau nifas di pertengahan hari, ia menahan di waktu sisanya dan menggantinya. Menahannya itu dalam rangka untuk keharaman waktu, sedangkan menggantinya itu karena ia tidak sempurna puasanya. Dan ia wajib berpuasa di hari sisanya. Orang yang berpuasa di pertengahan siang tidak terhitung berpuasa. (Syaikh Ibn Jibrin: Fatawa Shiyam)

5. Kebiasaan haidhku 7 sampai 8 hari, pada sebagian waktu di hari ketujuh aku tidak melihat ada darah dan tidak melihat telah suci. Bagaimana dengan hukum shalat, puasa, dan jimaknya?

Jangan buru-buru sampai engkau melihat qussoh baidho’ (cairan putih bersih tanda suci dari haidh) . Ini adalah tanda sudah suci. Berhentinya darah bukan pertanda suci. Namun suci dari haidh jika melihat tanda-tanda suci (qussoh baidho’) dan telah selesainya hari-hari haidh (Syaikh bin Baz)

6. Apa hukum darah yang keluar selain dari waktu-waktu haidh? Saya biasanya mengalaminya selama 7 hari. kadang di beberapa bulan yang lain, keluar darah di luar waktu haidh selama sehari atau dua hari dari waktu biasanya. Dari sini, wajibkah aku melaksanakan shalat atau puasa di waktu-waktu tersebut atau menggantinya?

Ini adalah darah yang keluar di luar kebiasaan, darah akibat penyakit maka tidak dihitung haidh. Seorang wanita yang mengetahui kebiasaannya, ia tetap tidak shalat, berpuasa, dan memegang mushaf, dan suaminya tidak boleh menggaulinya (selama hari biasa haidh). Jika ia telah bersih dan telah berhenti dari hari-hari kebiasaannya dan mandi untuk membersihkan. Walaupun ia melihat darah, cairan kuning, atau darah kotor, maka itu adalah darah istihadhah yang tidak menghalangi shalat atau lainnya (Syaikh bin Baz)

7. Jika seorang wanita melahirkan sebelum Ramadhan, misalnya seminggu sebelumnya. Dan dia telah suci sebelum lengkap 40 hari, apakah dia wajib berpuasa?

Iya, ketika seorang wanita bersih dari darah nifas dan tampak darinya tanda-tanda bersih yaitu qussoh baidho’ bersih total, maka ia berpuasa dan shalat walaupun setelah kelahiran sehari atau seminggunya. Karena tidak ada batas minimum tentang nifas. Bahkan ada wanita yang sama sekali tidak melihat darah setelah kelahiran. Masa 40 hari itu bukan syarat. Jika setelah 40 hari darah masih keluar dan tidak berubah, maka itu dianggap darah nifas. Dia harus meninggalkan puasa dan shalat (Syaikh Ibn Jibrin: Fatawa Shiyam)

8. Jika seorang wanita sudah bersih dari darah nifas sebelum 40 hari apakah wajib berpuasa dan shalat atau tidak? Kemudian jika haidhnya keluar setelah itu apakah ia berbuka? Dan jika dia telah bersih untuk kedua kalinya apakah ia berpuasa dan shalat atau tidak?

Jika seorang wanita telah berhenti dari nifas sebelum genap 40 hari, maka ia wajib mandi. Lalu ia shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan dan halal untuk dicampurinya oleh suaminya. Kemudian jika darah itu muncul kembali dalam kurun 40 hari, wajib untuk meninggalkan shalat, puasan, dan hubungan suami istri menurut pendapat para ulama yang paling shahih. Dan dia dihukumi nifas sampai bersih atau lengkap 40 hari. Jika bersih sebelum 40 hari, atau pada 40 hari, ia mandi, shalat, puasa, dan boleh dicampuri. Maka jika darahnya berlanjut setelah 40 hari, itu adalah darah yang rusak yang tidak menghalangi untuk berpuasa atau shalat. Dia berpuasa dan shalat, serta boleh berhubungan suami istri sebagaimana hukum darah mustahadhah. Dan wajib baginya membersihkan darah tersebut atau menggunakan pembalut yang bisa mengurangi efek darah tersebutsemisalnya. Ia berwudhu ketika waktu shalat. Karena Nabi memerintahkan bagi seorang wanita yang istihadhah untuk berwudlu setiap sholat kecuali jika datang jadwal haidh, maka ia wajib meninggalkan shalat. (Syaikh bin Baz)

9. Seorang wanita keluar darah saat hamil lima hari sebelum nifas di bulan Ramadhan. Apakah ini darah haidh atau nifas? Bagaimana kewajiban-kewajiban atasnya?

Jika kasusnya adalah seperti disebutkan tadi, ia melihat darah lima hari sebelum kelahiran, maka jika ia tidak melihat tanda-tanda yang mendekati kelahiran seperti pecah air ketuban, maka ini bukan darah haidh atau nifas, namun sebenarnya ini adalah darah rusak. Maka, ia tidaklah bisa meninggalkan ibadah, ia tetap berpuasa dan shalat. Jika darah ini bersamaan dengan tanda dari tanda-tanda yang mendekati kelahiran atau sejenisnya, maka ini adalah darah nifas. Ia wajib meninggalkan shalat dan puasa, kemudian ketika ia telah bersih darinya setelah kelahiran, ia hanya mengganti puasa tanpa mengganti shalat (Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’)

10. Apa hukum cairan kuning yang keluar di pertengahan nifas dan masih dalam jangka 40 hari. Apakah saya shalat dan berpuasa?

Apa yang keluar dari seorang wanita setelah kelahiran hukumnya adalah darah nifas, baik itu darah nifas biasa atau cairan kuning atau darah keruh. Karena dia keluar waktu darah nifas biasa keluar, yaitu 40 hari. Kemudian apabila setelah 40 hari keluar darah nifas yang biasanya dan belum terputus, maka itu adalah darah nifas. Jika tidak, maka itu adalah darah istihadhah atau sejenisnya (Syaikh bin Baz)

 

Puasanya Wanita Hamil dan Menyusui

1. Bagaimana hukum seorang wanita hamil dan menyusui yang berbuka di bulan Ramadhan?

Seorang wanita hamil atau menyusui tidak halal untuk berbuka di siang hari bulan Ramadhan tanpa ada udzur. Jika ia berbuka karena memang ada udzur, maka ia wajib menggantinya sebagaimana firman Allah ta’ala terhadap orang yang sakit, “Barangsiapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (kemudian dia tidak puasa) maka hendaklah ia mengqodho’ di hari lain.” (QS. Al-Baqarah: 184). Keduanya dianggap sebagai orang yang berudzur sakit.

Jika udzur keduanya itu karena takut kesehatan anaknya, maka keduanya di samping mengganti juga memberi makan satu orang miskin selama sehari. Bisa dari gandum, kurma, atau selainnya dari makanan pokok. Sebagian ulama mengatakan: Keduanya tidak diwajibkan kecuali hanya mengganti puasa, karena memberi makan itu tidak ada dalil di dalam kitab dan sunnah. Hukum asalnya adalah “Bara’atudsz Dzimmah” lepas dari tanggungan sampai ada dalil yang memerintahkannya. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan ini adalah kuat (Syaikh Utsaimin: Fatawa Islamiyah)

2. Seorang wanita yang hamil atau menyusui jika takut atas dirinya atau anaknya di bulan Ramadhan, maka ia berbuka. Bagaimana dengannya? Apakah ia berbuka lalu membayar fidyah dan mengganti, atau berbuka dan mengganti tanpa memberi makan, atau berbuka memberi makan tanpa mengganti. Mana yang benar?

Jika ibu hamil takut atas dirinya atau janinnya kemudian dia berbuka di bulan Ramadhan, maka baginya hanya mengganti. Bentuknya yaitu ketika ia tidak kuat berpuasa atau takut dirinya mengalami bahaya. Allah ta’ala berfirman,”Barangsiapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (kemudian dia tidak puasa) maka hendaklah ia mengqodho’ di hari lain.”(QS. Al-Baqarah: 184).

Begitu pula dengan orang yang menyusui jika takut atas dirinya menyusui anaknya di Bulan Ramadhan, atau takut atas anaknya jika ia berpuasa kemudian tidak bisa menyusui, maka ia berbuka dan ia mengganti puasanya saja. (Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’: Fatawa Islamiyah)

3. Seorang wanita yang melahirkan di bulan Ramadhan, ia belum mengganti puasanya setelah Ramadhan karena takut saat menyusui, kemudian dia hamil lagi dan melahirkan pada Ramadhan berikutnya . Apakah ia boleh membagikan uang sebagai ganti puasa?

Wanita ini wajib berpuasa sebagai ganti hari-hari di mana ia berbuka walaupun setelah Ramadhan kedua. Karena ketika ia meninggalkan untuk mengqodho puasa, diantara Ramadhan pertama dan kedua karena ada udzur. Aku tidak mengetahui apakah berat baginya mengganti di waktu musim dingin hari demi hari jika ia dalam kondisi menyusui. Sesungguhnya Allah menguatkannya dan tidak berakibat pada diri dan susunya. Maka berusahalah semampunya untuk mengganti puasa Ramadhan yang telah lalu sebelum datang ramdahan selanjutnya. Jika itu tidak berhasil, maka tidak ada dosa baginya mengakhirkan hingga Ramadhan berikutnya (Syaikh Utsaimin: Fatawa Islamiyah)

 

Mengqadha atau Mengganti Puasa Ramadhan

1. Bagaimana hukum mengakhirkan mengganti puasa hingga Ramadhan setelahnya?

Barangsiapa yang berbuka di bulan Ramadhan karena safar atau sakit atau selainnya, maka wajib untuk menggantinya sebelum Ramadhan berikutnya. Diantara dua Ramadhan waktunya sangat luas. Jika ia mengakhirkannya hingga Ramadhan berikutnya, maka ia tetap wajib mengganti dan memberi makan satu orang miskin selama sehari, sebagaimana pendapat kebanyakan dari para sahabat Nabi. Memberi makan adalah dengan setengah sha’ makanan pokok, yaitu sekitar satu setengah kilogram kurma, atau beras, atau sejenisnya. Adapun jika ia mengganti sebelum Ramadhan berikutnya maka tidak diwajibkan memberi makan (Syaikh bin Baz).

2. Aku seorang remaji. Di bulan Ramadhan aku terpaksa berbuka selama 6 hari dengan sengaja, sebabnya adalah karena waktu ujian. Karena dimulainya ujian berbarengan dengan Ramadhan. Kondisi ketika itu sulit… kalau aku tidak berbuka di hari-hari tersebut, aku tidak akan bisa mempelajari pelajaran karena saking sulitnya. Apa yang harus aku lakukan agar Allah mengampuni atas apa yang aku lakukan? Jazakumullah khair

Engkau hendaknya bertaubat dari hal itu. Kemudian mengganti hari di mana engkau berbuka. Allah mengampuni seorang hamba yang mau bertaubat. Hakekat taubat yang mana Allah menghapus kesalahan bagi orang yang berlepas diri dari dosanya dan meninggalkannya dalam rangka mengagungkan Allah ta’ala, takut dari siksanya, menyesal atas perbuatannya yang dulu dilakukan dan berazam dengan sebenar-benarnya untuk tidak mengulanginya lagi. Jika maksiat itu berhubungan dengan manusia, maka ia minta kehalalan daripadanya. Allah ta’ala berfirman : Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.(QS. An-Nuur: 31)

 

Diterjemahkan oleh Rudy dari http://ar.islamway.net/article/961/25

Editor: Arju Khoir


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Irak

Hanya Karena Bernama Umar, Puluhan Orang Dieksekusi di Baghdad

KIBLAT.NET, Baghdad – Seiring dengan pergolakan yang terjadi di berbagai kota di Irak, aksi pembunuhan...

Senin, 07/07/2014 09:05 1

Suriah

Lagi, Rezim Suriah Tembakkan Dua Rudal Scud

KIBLAT.NET, Damaskus – Presiden Suriah, Bashar Al-Asad, kembali menggunakan rudal Scud untuk menargetkan warga sipil...

Senin, 07/07/2014 08:17 0

Palestina

Israel Tangkap Terduga Pembunuh Remaja Palestina

KIBLAT.NET, Al Quds – Israel menangkap enam Yahudi yang diduga pelaku penculikan dan pembunuhan seorang...

Ahad, 06/07/2014 22:14 0

Timur Tengah

Bahrain Siapkan Pantai Khusus Kaum Hawa

KIBLAT.NET, Manama – Pemerintah Bahrain menggagas sebuah pantai spesial yang dikhususkan untuk kaum hawa. Pantai...

Ahad, 06/07/2014 21:30 0

Indonesia

Berita ISIS Akan Serang Ka’bah Belum Dapat Diverifikasi Keabsahannya

KIBLAT.NET, Mekkah – Beberapa waktu yang lalu, beredar kabar yang bikin heboh setelah salah seseorang...

Ahad, 06/07/2014 21:10 5

Indonesia

Tertibkan Bulan Ramadhan, Tim Gabungan Polres dan Kodim Bandung Gelar Operasi Cipta Kondisi

KIBLAT.NET, Cimahi -Tim gabungan dari Polres Cimahi, Kodim 0609/Kab. Bandung, Garnisun, dan Sub Denpom III/5-1 Cimahi...

Ahad, 06/07/2014 20:58 0

Indonesia

KPI Terima 18 Aduan Terkait Tayangan Ramadhan

KIBLAT.NET, Jakarta – Di awal Ramadhan tahun ini, tepatnya sejak 29 Juni sampai 4 Juli, Komisi...

Ahad, 06/07/2014 20:47 3

Palestina

Terbunuhnya Bocah Palestina Bisa Memicu Intifadhah Ketiga

KIBLAT.NET, London – Harian Inggris, The Guardian menyebut lingkaran balas dendam yang merenggut nyawa seorang bocah Palestina...

Ahad, 06/07/2014 20:18 0

Eropa

Umat Islam Yunani Sudah Bosan dengan Janji Pemerintah Membangun Masjid

KIBLAT.NET, Athena – Umat Islam di Yunani memprotes keputusan pemerintah Yunani yang tidak memberikan kesempatan...

Ahad, 06/07/2014 20:04 0

Afghanistan

Mujahidin Taliban Akui Hancurkan Konvoi 200 Truk Pasukan NATO

KIBLAT.NET, Kabul – Sedikitnya 200 truk yang membawa bantuan dan bahan bakar untuk pasukan AS...

Ahad, 06/07/2014 19:46 1

Close