Kuliah Ramadhan: Introspeksi Keikhlasan

INSTROPEKSI KEIKHLASAN

 

الحمد لله الذي أَنْعَمَ عَلَيْنَا وَهَدَانَا إِلَى دِينِ الأِ سْلاَمِ وَ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا وَرَحْمَةً لِلنَّاسِ وَاشْكُرُونِعْمَةَ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُون وَ لَعَلّكُمْ تَتَّقُون. الَلّهُمّ صَلّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِدِ المُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada kita, dan menuntun kita pada agama Islam, dan menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang penuh barokah dan rahmah bagi manusia. Dan bersyukurlah atas nikmat Allah. Kepada-Nya lah engkau beribadah dan supaya engkau beruntung. Ya Allah, semoga doa, keselamatan dan keberkahan tercurah pada pemimpin para utusan, dan juga kepada keluarga dan sahabat sekalian.

Para jamaah arsyadanii wa arsyadakumullah….

Gegap gempita datangnya Ramadhan nan berkah disambut kaum muslimin di segala penjuru dunia. Senyuman bermekaran menyambut datangnya bulan penuh pahala ini. Sudah menjadi rahasia umum manakala Ramadhan tiba maka kaum muslimin berduyun-duyun memenuhi masjid. Sebuah fenomena yang membanggakan jika hal ini terus terjadi bukan hanya di bulan Ramadhan saja.

Seolah menjadi kejadian tahunan yang mentradisi dan tidak bisa diubah lagi. Sebenarnya, apakah inti dari permasalahan ini, walaupun ada sebagian dari kaum muslimin yang tidak menganggap ini sebagai sebuah permasalahan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani bulan Ramadhan dalam perjalanan sirah nabawiyah dituliskan hanya sekitar 9 kali. 9 kali menghadapi Ramadhan ini, Rasulullah menggunakannya dengan semaksimal mungkin. Bagaimana dengan kita yang telah melalui Ramadhan 10, 20,30 atau bahkan sebanyak 40 kali? Adakah satu Ramadhan saja yang kita lalui hanya untuk ibadah kepada Allah?

BACA JUGA  Mencegah Kemungkaran

Para jamaah sekalian…

Pensyariatan Ramadhan terjadi di tahun ke-2 Hijriyah, di mana pada saat itu turun 4 perintah dari Allah sekaligus yaitu, syariat puasa bulan Ramadhan, syariat jihad, syariat jilbab bagi muslimah dan syariat pengharaman khamr.

Kita lihat setelah turunnya 4 perintah secara berturut-turut ini, tidak ada umat Islam generasi terbaik itu yang mengeluh, karena dakwah Rasulullah semasa di Makkah menuai keberhasilan. 13 tahun telah digunakan Rasulullah dalam dakwahnya hanya untuk membangun aqidah umatnya. Jadi, manakala kaum muslimin berhijrah ke Madinah, mereka telah siap menjadi umat yang mendapat perintah tanpa adanya penolakan bahkan keraguan. Kita lihat, manakala pensyariatan haramnya khamr, maka seluruh selokan di kota Madinah penuh dengan khamr. ketika pensyariatan jilbab bagi muslimah, maka pada saat itu korden-korden rumah langsung mereka tarik untuk dijadikan jilbab. Subhanallah, benar-benar ketaatan yang layak diacungi jempol.

Para jamaah sekalian…

Mungkin hal ini lah yang belum dipunyai umat Islam masa kini. Umat Islam yang hanya berbondong-bondong ke masjid ketika Ramadhan tiba. Mereka seperti itu karena belum mempunyai aqidah yang kuat dan rasa khauf, raja’ dan mahabbah kepada Allah. Seolah ibadah hanyalah aktivitas jasmani yang tak berarti bagi hati. Ibadah hanya digunakan sebagai tradisi dan ajang untuk memamerkan diri. Bentuk kesalahan seperti ini harus segera dihilangkan dan tidak boleh menjangkiti generasi muda Islam nanti.

BACA JUGA  Dampak Meninggalkan Kewajiban Mencegah Kemungkaran

Kita kuatkan niat kita dalam beribadah hanya untuk Rabb Sang Pencipta. Bukan hanya untuk pujian manusia dan tradisi tahunan saja. Sudah menjadi kemakluman bersama, bahwa ibadah akan diterima jika ada 2 perkara penting, yaitu

1. Ikhlas kepada Allah

2. Mutaba’ah Rasulullah

Jadi, jika salah satu dari dua perkara tidak ada, maka sudah dipastikan ibadahnya tidak akan diterima Allah. Jika semua ibadah di bulan Ramadhan ini tidak didasari dengan rasa ikhlas hanya untuk Allah dan semua aktivitas ibadah ini akan berhenti seusai Ramadhan, maka berkah Ramadhan sebagai bulan latihan dan ladang pahala tidak akan didapatkan serta sia-sia begitu saja. Dan telah jelas difirmankan Allah bahwa hidup, mati dan ibadah kita hanya untuk-Nya.

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ ۥ‌ۖ وَبِذَٲلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

“Katakanlah ( Muhammad ), “ Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri ( muslim)” (QS. Al-An’am: 162 dan 163)

Wallahu a’lam bi showab

 

Penulis: Dhani El-Ashimi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat