... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Mengapa Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi Menegaskan ISIS Menyimpang?

KIBLAT.NET – Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi telah mengeluarkan pernyataan tegas kepada Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS). Kepada para pemimpin Mujahidin di Khurasan, Yaman, Maroko, Sinai, Somalia dan Kaukasus, Syaikh menyatakan bahwa ISIS telah menyimpang dari jalan kebenaran, melampaui batas terhadap mujahidin, dan cenderung kepada ekstremisme.

Berdasarkan lampiran yang disertakan, pernyataan tersebut bukan keluar tanpa dasar, melainkan setelah melalui proses panjang dari para ulama untuk mendamaikan para pihak yang bersengketa di bumi jihad Suriah.

Sejatinya, Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi selama berbulan-bulan terakhir sedang mempersiapkan sebuah inisiatif yang akan diluncurkan untuk rekonsiliasi dan arbitrase antara JN dan ISIS di Suriah. Ini dilakukan setelah semua upaya tokoh senior gagal. Selama itu pula, tim Mimbar Tauhid dan Jihad bekerja untuk membantu Syaikh untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan para pihak, baik ISIS, JN dan faksi-faksi lainnya.

Lampiran ini mengandung banyak dokumen, bukti-bukti, dan surat-menyurat yang berkaitan dengan pernyataan ini sengaja disertakan oleh Mimbar Tauhid dan Jihad, sebagai penguat pernyataan tersebut. Penjelasannya menggambarkan kronologi panjang upaya Syaikh sebelum sampai kepada keputusan terakhir menyikapi ISIS. Dan inilah lampiran selengkapnya:

Lampiran Penguat Pernyataan[1]

Segala puji bagi Allah, dan akibat yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan tiada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zalim Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang pantas diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu baginya. Segala kerajaan milik-Nya. Baginya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah sebagai rahmat yang dikaruniakan, karunia yang diberikan, dan cahaya mencerahkan. Demikian juga kepada para sahabat dan keluarga beliau.

Ini adalah penjelasan yang menguatkan pernyataan ini. Saya ingin mengulangi di sini perkataan Dr. Louay Sakka[2] dalam pernyataannya bahwa Abu Mus’ab (Az-Zarqawi) berlepas diri dari manhaj organisasi Daulah di Suriah.

Saya katakan, ini bukanlah manhaj Abu Mus’ab dan bukan pula arahannya. Sejarah tidak pernah mencatat Abu Mus’ab menolak berhukum kepada syariat Allah. Dan tidak pernah tercatat bahwa beliau menumpahkan darah mujahidin terbaik. Beliau juga tidak lancang kepada para pemimpin mereka yang baik, tetapi selalu menghormati tokoh yang lebih senior dan menghargai keutamaan mereka.

Tentang mereka berdalih Syaikh Usamah (bin Ladin) dan Abu Mus’ab, maka ini namanya berdiri lancang di pundak para pahlawan.

***
Pertama, Penolakan terhadap Setiap Nasihat

Saya menerima kabar dari salah satu saudara bahwa organisasi Daulah tidak menyukai nasihat secara terang-terangan dalam artikel saya “Adil adalah sifat orang-orang mulia”. Menurutnya, Daulah tidak menolak nasihat saya. Namun, mereka ingin disampaikan secara rahasia. Kemudian, ada yang menyampaikan kepada saya bahwa mereka sangat menekuni buku-buku saya dan menjadikannya sebagai sandaran dalam mendidik murid-murid mereka. Mereka menerima dan menyatakan kesiapannya bila mau mengirimkan nasihat secara langsung kepada Al-Baghdadi.

Kata saya, inilah yang saya inginkan. Ya, akhirnya saya menulis nasihat kepada Al-Baghdadi secara langsung, setelah saya menyampaikan pujian atas prestasi mereka di Irak menurut keyakinan saya. Di akhir surat, saya katakan kepadanya: Apa tidak sepantasnya engkau memerintahkan pendukungmu untuk menghapuskan kata Maulana yang terdapat dalam kata-kata kalian? Karena panggilan itu memiliki konotasi dan arti yang banyak.

Pesan ini seharusnya direspons oleh Al-Baghdadi seperti janji perantaranya. Akan tetapi, tampaknya mereka tidak suka meskipun itu dalam bentuk nasihat secara rahasia dan yang saya mulai dengan pujian dengan kata-kata yang lembut.

Kemudian, dewan syariat mereka membalas nasihat kami dengan jawaban bukan dalam konteks saling menasihati. Kemudian, mereka berjanji untuk merespons. Namun, selama delapan bulan mereka tidak membalasnya seperti yang dijanjikan. Padahal, mereka telah mengirimkan empat surat—setelah surat saya pertama—mengenai keadaan mereka.

Mereka tidak puas dengan hal itu, dan menanggapi nasihat saya dengan bukti perbuatan mereka dan tetap menolak apa yang saya ingatkan. Bahkan, mereka tidak menaruh rasa hormat sedikit pun meski hanya dengan menghilangkan kata Maulana yang mereka gunakan dalam pembukaan kata-kata Al-Baghdadi. Dalam hati saya berkata, mereka tidak menganggap nasihatku sama sekali.
Siapa yang kikir untuk sesuatu yang sedikit dan tidak bernilai,
Sesuatu yang banyak dan penting pun lari darinya

Kedua, Penolakan terhadap Rekonsiliasi dan Mahkamah

Setelah peristiwa di Suriah berkembang dan tergelincir ke lereng licin yang berbahaya dahulu; setelah peristiwa pengeboman markas-markas Mujahidin; setelah pembunuhan Abu Khalid As-Suri rh, saya menerima kabar bahwa Abu Muhammad Al-Jaulani mengancam Daulah dan akan membalas, jika tidak tunduk kepada pengadilan syariah untuk mengembalikan hak orang lain. Ia menyarankan nama saya untuk dilibatkan dalam gagasan ini, dan memberikan tenggat waktu kepada Daulah selama beberapa hari untuk menanggapinya.

Lalu Allah memberikan kemudahan kepada saya untuk mengeluarkan rekaman suara saya dan rekaman Syaikh Abu Qatadah (Al-Falistini) yang isinya melarang Al-Jaulanni dari sikap seperti itu, dan juga anjuran bagi Al-Baghdadi agar menerima mahkamah tanpa ikatan dan syarat.

Setelah itu beberapa tokoh menyarankan agar saya terlibat dalam rangka penyelesaian sengketa tersebut melalui ide rekonsiliasi dan arbitrase, yang dalam prosesnya saya akan memperhatikan syarat-syarat dari Daulah sebagai wujud mengalah kepada mereka.

Sebelum saya melanjutkan ide arbitrase ini, saya menelaah kembali beberapa inisiatif arbitrase yang telah lalu, dan menemukan bahwa Daulah tidak memperhatikan inisiatif Syaikh Yusuf Al-Ahmad sama sekali. Saya juga menemukan penolakan mereka terhadap perintah Amir mereka Syaikh Dr Aiman Al-Zawahiri yang mewajibkan pembentukan sebuah pengadilan independen. Saya juga menemukan suatu ketika kebenaran datang, mereka tunduk kepadanya dan cenderung menerima Syaikh Al-Muhaisini. Ketika kebenaran itu datang, mereka menjauhi dengan sejumlah cara.

Bila tidak menolaknya secara terang-terangan, mereka tidak memberikan jawaban—dan inilah yang sering dilakukan. Atau, mereka berjanji tetapi tidak memenuhi, atau menawarkan peradilan semu yang tidak memberikan hak bagi lawan untuk melihat saksi-saksi, apalagi mendengarkan (kesaksian) dan bertanya kepada mereka. Bahkan tidak membolehkan pihak yang bersengketa meskipun hanya melihat orang-orang yang terduga (melakukan kejahatan) dan berbicara dengan mereka. Kemudian, otoritas merekalah yang menentukan dan memutuskan hukum sendiri, meskipun lawan dan pembela-pembelanya juga memiliki otoritas hukum, seperti dalam kasus pembunuhan Al-Binsyi.

Kemudian Al-Muhaisini menawarkan sebuah inisiatif. Saya melihat faksi-faksi lain menerimanya, sedangkan Daulah mengingkarinya. Mereka mau menerima dengan syarat pihak lawan mau menjawab beberapa pertanyaan tentang tauhid dan berlepas diri dari thaghut. Syarat seperti ini bila diajukan oleh hakim, maka kami tidak mengingkarinya. Namun bila itu diajukan kepada pihak yang menuntut keadilan dan perhitungan darah, harta dan hak-hak mereka, maka jauh benar tindakan mereka bila dibandingkan dengan upaya para sahabat dalam peristiwa sumpah pembunuhan (qasamah)!!

Meski begitu, saya memutuskan untuk tetap mengajukan ide rekonsiliasi dan pengadilan sesuai degan syarat-syarat yang diinginkan Daulah. Dengan seorang hakim dari Daulah dan satu hakim dari JN untuk merealisasikan syarat Daulah. Dan —dalam kondisi perselisihan—yang dipilih adalah hakim yang usianya lebih banyak dihabiskan untuk melawan thaghut.

Ketika itu, kebanyakan dewan syariat mereka masih dalam fase merangkak (belum matang). Mereka adalah murid-murid saya dan di salah seorang dari mereka adalah murid saya yang paling netral di luar.

Akhirnya terlaksana, saya mengirimkan surat kepada Al-Baghdadi dan memintanya bersumpah untuk menerima inisiatif. Saya juga memberitahunya bahwa inisiatif akan dilaksanakan sesuai syarat yang mereka minta. Saya juga mengingatkan bahwa penolakan terhadap inisiatif ini akan menyebabkan pencopotan dewan syariat mereka dan akan ada fatwa tentang itu.

Namun itu semua ditolak. Dan selama penolakan ini, bukan pada masa sebelumnya, saya mengeluarkan fatwa seperti tersebut di pernyataan di atas (telah diberitakan kiblat.net sebelumnya; red).

Saya di sini mengutip beberapa tanggapan mereka—dengan ulasan—yang cukup untuk menjadi dasar keputusan hukum atas mereka, bawa mereka berpaling dari ajakan berhukum kepada syariat Allah Ta’ala. Saya memutuskan ini berdasarkan lisan mereka, bukan bersandar kepada lisan lawan-lawan mereka seperti sangkaan sebagian orang.

Saya mengirimkan surat kepada Al-Baghdadi, yang isinya:

“Saudaraku yang mulia, demi Allah, saya menasihatimu dan saudara-saudara mujahidin lainnya. Saya bukanlah seperti perempuan penyusuan yang menangis atau ibu yang menangis pura-pura. Aku bagaikan ibu kandung yang menangis karena kehilangan anaknya. Aku menangis atas keadaan mujahidin. Aku bagaikan ibu yang sangat sayang kepada anaknya dan rela mati untuk membelanya. Rela meski harus didustakan, dituduh yang buruk, agar anaknya tidak celaka. Oleh karena itu, saya berusaha menasihatimu, dan berusaha bersama dirimu dan lainnya demi persatuan mujahidin dan tidak ada lagi pertumpahan darah kaum muslimin.

Saya di sini menempatkan tanggung jawab di pundakmu di depan inisiatif ini. Saya akan mengajukannya dalam waktu dekat, isya Allah, setelah inisiatif Al-Muhaisini gagal disebabkan kekeraskepalaan dan pengajuan syarat yang tidak sah untuk menjadi sebab gagalnya pengadilan.
Saya akan mencoba sebisa mungkin untuk mempersempit semua penyebab perselisihan sampai orang yang memiliki nurani tidak ada alasan untuk menerima inisiatif ini. Agar setelah itu, jelaslah tanggung jawab masing-masing di hadapan Allah dan di hadapan manusia; tanggung jawab atas kegagalan proyek kemenangan panji Islam di Suriah; tanggung jawab atas distorsi jihad dan tanggung jawab penyimpangannya dari tujuan yang murni; tanggung jawab terhadap darah kaum muslimin, syuhada, dan umat Islam secara umum yang bersemangat dan menginginkan kemapanan daulah Islam dan otoritas syariat-Nya.

Saya berinisiatif mengirimkan surat ini lebih dahulu kepadamu agar mereka tidak kaget menyikapi tawaran inisiatif untuk kali kedua. Semoga Allah membuka telinga yang tuli, mata yang buta dan hati yang tertutup. Dan mendamaikan antara mujahidin dan menghentikan pertumpahan dara umat Islam, memberikan kegembiraan bagi ahli tauhid dan membuat marah orang-orang kafir dan atheis. Bertakwalah kepada Allah dan janganlah memberikan syarat dan kendala yang berlawanan dengan upaya damai.[3]

Saya juga mengirim surat—melalui salah seorang yang dipercaya—kepada anggota dewan syariat mereka yang paling berpengaruh. Saya menganjurkan kepadanya agar mempermudah proses inisiatif dan melakukan apa yang perlu untuk menyukseskannya. Saya memberitahunya bahwa rincian inisiatif akan disampaikan menyusul.

Setelah dua surat tersebut, salah seorang anggota dewan syariat mereka membalas dengan kata-kata:

“Syaikh saya yang terhormat, engkau dan syaikh-syaikh lainnya berbicara tentang sengketa dan pengadilan. Wahai syaikh saya, engkau berbicara tidak tepat, terutama dalam suratmu! Sebab, Anda membenarkan sejumlah tuduhan in absentia, kemudian Anda bergegas menciptakan inisiatif dan mengumumkan tanpa musyawarah, verifikasi dan investigasi! Padahal, Anda berbicara kepada sebuah Daulah. Apakah Anda pernah mendengar sekali pun daulah Nabi saw, daulah Khulafaur Rasyidin, daulah Bani Umayyah atau daulah Abbasiyah, meminta keputusan hukum kepada seorang independen?! Atau pengadilan daulah itu yang mengadili individu-individu dan selain mereka? Bukankah hakim dalam syariat itu aspek independen?” Kutipan selesai dengan huruf, tanda tanya dan tanda takjub, tanpa perubahan.

Tanggapan saya, ini adalah kebohongan, kebodohan, kezaliman dan kepalsuan.

Kebohongannya adalah:

Dalam ungkapannya, saya telah mengumumkan inisiatif saya. Faktanya, merekalah yang menyebarkannya melalui salah satu media mereka dan mereka puja yang bersegera menyebarkan bantahannya kepada salah satu pendukung mereka, yang isinya mengolok-olok dan menertawakan inisiatif sebelum dipublikasikan.[4]

Kebodohannya adalah:
Yaitu ungkapannya, “membuat dan mengumumkan inisiatif tanpa musyawarah, verifikasi dan investigasi.” Yang benar, inisiatif pengadilan tersebut akan diadakan untuk verifikasi dan investigasi, kemudian siapa yang haknya diambil akan dikembalikan, dan siapa yang zalim dan menindas akan ditindak.

Kezaliman dan penipuannya adalah:
Yaitu klaim bahwa mereka adalah daulah khilafiah, layaknya daulah Abbasiyah dan Umayyah. Bukan itu saja, bahkan daulah nubuwwah!!! Dan seperti khilafah Abu Bakar dan Umar!!

Saya membuat pernyataan berdasarkan perkataan mereka dan mematahkan klaim mereka berdasarkan surat-surat dari dewan syariat ISIS. Salah satu dewan syariat mereka sebelumnya telah mengirimkan surat kepada saya, berisi:

“…dan kami tidak menganggap orang yang tidak berbaiat kepada kami maka ia telah bermaksiat atau membangkang, sehingga wajib diperangi. Kami juga tidak mengumumkannya sebagai baiat khilafah. Ini bukanlah kebijakan Daulah. Kami tidak meyakini seperti itu dan bukanlah manhaj kami. Al-Adnani telah menegaskannya dengan jelas dan tidak ada yang samar.”

Kalau begitu, mengapa kalian memaksa lawan untuk melakukan sesuatu yang tidak kalian yakini? Mengapa lawan kalian paksa dengan apa yang kalian klaim bahwa daulah kalian tidak memilikinya?

Kemudian tipuan itu diikuti dengan kebodohan yang menyelisihi ijma’
Ia mengatakan, “Anda pernah mendengar sekali pun daulah Nabi saw … meminta keputusan hukum kepada seorang independen?!!

Saya katakan, bila mufti mereka yang ternama saja tidak tahu perbedaan antara litigasi (pengajuan atau pengaduan ke pengadilan) dan arbitrase (penyelesaian sengketa di luar pengadilan melalui pihak ketiga), bagaimana mereka akan menegakkan daulah khilafah?

Bila Anda telah menyadari perbedaannya setelah mempelajarinya dan mengatakan bahwa arbitrase dalam kondisi kami membutuhkan persetujuan untuk sidang. Saya katakan, engkau telah menolak pokok arbitrase yang disepakati.

Cukuplah bagimu firman Allah, “Bila ada dua kelompok orang berian yang saling memerangi, maka damaikanlah antara mereka.”

Allah dalam ayat ini menggunakan kalimat perintah yang berkonsekuensi wajib. Yaitu wajib bagi orang beriman yang tidak terlibat dalam konflik para pihak. Manusia yang paling utama masuk ke dalam perintah ini adalah ulama dan penuntut ilmu.

Dewan Syariat mereka yang tersohor mengatakan, “Syaikh saya tercinta! Saya mengirimkan surat ini karena kekhawatiran kepada Anda bila ada inisiatif dari orang lain yang menandingi, lalu inisiatif Anda menyebar dalam kondisi terlambat! Inisiatif-inisiatif tidaklah ditawarkan kepada Daulah Islam kecuali secara terang-terangan! Apakah engkau tahu sebabnya, wahai Syaikh saya? Dan mengapa inisiatif-inisiatif itu tidak ditawarkan secara diam-diam sejak awal hingga proses dialog dan diskusi ketentuannya?! Atau itu hanya untuk mempermalukan (Daulah) saja?”

Tanggapan saya, apakah tindakan orang mulia untuk bersaing dalam kebaikan yang diperintahkan Allah itu merupakan kemungkaran yang harus dijauhi dan ditakuti?

Kemudian, apakah menyeru para pihak yang bersengketa untuk duduk bersama dalam hukum Allah itu sunnahnya dilaksanakan dalam kondisi rahasia dan tersembunyi?

Itu pun saya belum mengumumkan inisiatif saya.

Yang lebih parah lagi ialah perkataannya—perhatikanlah baik-baik, “Atau itu hanya untuk mempermalukan (Daulah) saja?”

BACA JUGA  Gelombang Pengungsi dari Idlib Kembali Mengalir ke Perbatasan Turki

Apakah seruan kepada dua pihak yang bersengketa dan saling membunuh untuk berhukum dengan syariat Allah disebut tindakan mempermalukan?

Allah berfirman, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An-Nisa’ : 65)

Dewan syariat mereka yang ternama mengatakan, “Syaikh saya tercinta, inisiatif yang paling mudah dan ringan adalah yang diluncurkan oleh Amirul Mukminin Abu Bakar Al-Baghdadi, semoga Allah melindunginya, yang berkata, ‘Hentikan serangan terhadap kami maka kami bu menghentikan serangan kepada kalian’.”

Saya katakan, kewajiban yang harus dilakukan ketika terjadi konflik dan perampasan hak pihak yang menuntut adalah menyelesaikan sengketa melalui pihak ketiga berdasarkan hukum Allah untuk mengembalikan hak dan memberantas kezaliman. Dan mengganti tuntutan lawan yang meminta keadilan atas nyawa, harta, dan hak sepenuhnya.

Bila hal seperti itu, mufti mereka saja tidak tahu, apakah benar bila ia meminta orang lain melakukan sesuatu, sedangkan ia sendiri pelit memenuhi tuntutan orang lain?
Bagaimana mereka bisa berhukum dengan syariat yang lurus ini bila dasar-dasarnya saja mereka tidak paham?

Kemudian bencana besar berikutnya adalah kalimat di dalam suratnya, “Sayang sekali, inisiatif ini—maksudnya gagasan: berhentilah menyerang kami maka kami pun berhenti menyerang kalian—tidak didengar oleh siapa pun. Semua orang justru saling berlomba untuk menawarkan inisiatif bid’ah!”

Tanggapan saya, perhatikanlah bagaimana dangkalnya pemahaman dan analoginya yang terbalik. Aneh, mereka menolak inisiatif yang mestinya mereka taati karena telah menumpahkan darah, menzalimi harta dan kehormatan pihak penuntut. Kemudian, tanpa malu-malu menyebut ajakan yang jujur untuk berhukum dengan syariat Allah dalam kondisi darurat ini melakui pengadilan syariat secara independen untuk mengembalikan hak-hak dengan sebutan inisiatif bid’ah! Apakah merealisasikan perintah Allah ketika terjadi konflik disebut bid’ah?

Kemudian, setelah itu pengawas situs kami, Mimbar Tauhid dan Jihad mengirimkan respons, yang isinya:
“… lalu bagaimana kalian memaksa orang lain dengan sesuatu yang tidak dipedulikan oleh Daulah? Daulah tidak menunjukkan diri untuk tujuan bahwa itu sebuah khilafah, lantas bagaimana Daulah mewajibkan lawannya untuk menyelesaikan persidangan di sana dalam kapasitas sebagai daulah khilafah yang menyerupai daulah Nubuwah, daulah Abu Bakar dan Umar, dan daulah bani Umayyah dan Abbasiyah?!

Selain itu, Syaikh telah mengajak kalian untuk mempelajari perbedaan-perbedaan antara ligitasi dan arbitrase.

Saya pikir Syaikh kami Al-Maqdisi akan berbuat untuk mendelegitimitasi siapa saja yang menolak berhukum dengan syariat. Saya tidak berpikir bahwa orang seperti beliau akan memperhatikan desas-desus media, apalagi menoleh kepada desas-desus orang yang bodoh.”

Lalu dewan syariat mereka yang terpandang menanggapinya dalam diskusi yang berlangsung antara dia dan pengawas situs kami. Saya nukilkan sebagian di sini yang menunjukkan dalihnya untuk menolak inisiatif:

“Demi Dzat yang meninggikan langit tanpa tiang, kami ini institusi negara. Bagaimana kalian mewajibkan kami melakukan persidangan di mahkamah independen?!”
Ia juga mengatakan, “Apakah kalian tidak tahu bahwa mahkamah independen itu berarti negara lain?!

Pengawas situs kami menjawab, “Demi Allah, kabarkanlah kepada saya, apakah itu mengurangi kredibilitas dan kewibawaan negara kalian, atau dewan syariatnya bila kalian menerima inisiatif beliau (Syaikh Al-Maqdisi)?”

Jawabnya, “Saudaraku tercinta, hakim itu harus netral dan tidak memiliki perkataan di awal. Syaikh kita (Al-Maqdisi) tidak netral. Dia sudah mengatakan, ‘Kembalilah kalian ke Irak!!”

“Apakah Anda ingin Daulah (ISIS) melepaskan pengadilan dengan syariat Allah di bumi yang lebih luas daripada daulah Nabi saw dan lebih luas daripada daulah Syaikh Muhammad bin Abdullah Wahhab hanya untuk mengadili satu orang?” tambahnya.

Pengawas situs kami menjawab, “Saudaraku, beliau tidak mengatakan seperti itu, tetapi mengatakan:

“Harus ada solusi untuk bencana ini meskipun dengan mengungsi. Jika semua cara untuk arbitrase dan perdamaian gagal dijalankan, dan kalian menolak penyatuan dan integrasi, kalian tidak mau bekerja dan duduk bersama, sebagai langkah yang menggembirakan ahli tauhid dan membuat marah musuh-musuh Islam, maka sesuatu yang bisa menengahi adalah kalian menerima saran saudara-saudara kalian dengan menarik diri ke Irak, dan bekerja di sana untuk menghancurkan kaum Rafidhah yang najis dan berusaha membebaskan kaum muslimin yang dipenjara, serta banyak kegiatan lainnya…..”
Kata-kata yang disebutkan oleh saudara pengawas situs kami itu merupakan bagian dari surat saya kepada Al-Baghdadi. Perhatikanlah bagaimana mereka mengatakan sesuatu yang saya tidak pernah mengatakannya.

Kemudian pengawas situs kami mengatakan, “Saudara saya, engkau orang yang berakal! Tetapi mengapa engkau tidak menerima inisiatif dari guru kalian (Syaikh Al-Maqdisi)? Lantas siapa yang kalian percaya?”

Jawabnya, “Permasalahannya lebih besar daripada hanya melakukan pengadilan untuk satu orang saja, terutama beliau (Syaikh) telah mengeluarkan beberapa perkataan yang bertentangan dengan proyek penegakan Daulah. Demi Allah, kami percaya kepada guru kami dan saya adalah orang yang paling percaya kepada beliau di dunia ini. Mungkin engkau akan menyebutnya berlebihan.”

Pengawas situs kami mengatakan, “Wahai saudaraku, apakah kalian pikir beliau menzalimi kalian?”

“Beliau pasti akan memutuskan sesuai dengan apa yang beliau dengar,” jawabnya.

“Ya, beliau pasti mendengarkan alasan dari kalian,” jawab pengawas situs kami.
“Mereka lebih pintar beralasan daripada kami. Mereka pandai menipu dan berdusta, seandainya saja syaikh kita mau mendengar dari kami,” katanya.

Kemudian setelah diskusi itu, pengawas situs kami mengatakan, “Jadi, apakah saya boleh menyampaikan penolakan kalian atas inisiatif ini kepada Syaikh, wahai saudaraku, agar beliau tidak menunggu-nunggu lagi tanggapan kalian?”
Jawabnya, “Saudaraku, bagaimana kami menolak atau menerima, sedangkan kami belum mempelajarinya?[5] Atau jangan-jangan itu hanya akan mempermalukan kami saja. Jangan-jangan kalian hanya memperalat Syaikh untuk menguatkan syaikh-syaikh lain (yang telah menawarkan inisiatif?”

Pengawas situs kami menjawab, “Subhanallah! Bagaimana kalian mendengarnya tanpa perasaan positif sedikit pun kepada beliau, lalu beliau mengirimkan orang yang akan memperlihatkannya kepada kalian sebagaimana yang akan dikirimkan kepada Jabhah Nusrah?
Pertanyaannya, apakah kalian menerima ide inisiatif ini dan Syaikh menjadi penengahnya. Kemudian, ketika prosesnya sudah dimulai, dan kalian melihat kezaliman terhadap kalian, kalian boleh mencela semua orang yang terlibat di dalamnya.”

Jawabnya, “Saya akan menanyakannya kepada saudara-saudara (di Daulah) insya Allah.”

Kemudian kami menunggu jawab dari mereka. Namun tidak kunjung datang. Kami mengirimkan utusan, namun ia menjauh. Kemudian keluarlah pernyataan Al-Adnani yang memutus semua kata nasihat. Ia menolak mahkamah dengan alasan lain—selain yang diungkapkan oleh dewan syariatnya—yang kontradiktif. Ia telah mengganti mahkamah dengan perkara pertama dalam alasannya dan menolaknya dengan alasan tidak ada orang yang layak dan disepakati untuk menjadi penengah. Kemudian ia menyeru agar pihak lain menyepakati seorang khalifah yang akan dipilih oleh seorang hakim!!![6]

Di sini saya akan menunjukkan kekacauan, kebingungan, pertentangan, dan kebodohan mereka terhadap aksioma-aksioma dalam syariat.

Kekacauan dan kebingungan mereka adalah:

Setiap kali alasan mereka kami patahkan, atau kami telah menemukan syarat-syarat yang sesuai dengan kehendak mereka, mereka kemudian melompat ke syarat atau alasan lain tanpa kepastian.

Misalnya, alasan penolakan mereka untuk mahkamah—seperti dalam inisiatif Al-Muhaisini—bahwa lawan yang menuntut akidah dan manhajnya tidak jelas. Mereka menetapkan syarat agar akidahnya jelas dahulu dan dipastikan di lapangan nyata. Ketika kami memenuhi syarat itu—yakni lawan mau mewujudkan syarat mereka, tanggapan mereka bahwa mereka ini institusi negara yang tidak pantas berhukum kepada seorang independen.
Ketika kami mengingatkan mereka bahwa dewan syariat mereka yang datang kepada kami tidak mengatakan seperti itu. Dan bahwa mereka tidak menyatakan itu dan tidak memaksakannya. Lalu bagaimana mereka memaksa lawan untuk sesuatu yang tidak mereka yakini?

Kemudian mereka menuduh kami telah menyatakan sebelumnya agar mereka keluar dari Suriah.

Namun ketika pengawas situs kami menjelaskan bahwa itu penyalahgunaan kata yang merugikan kami dan kami menyarankan itu bagi pihak yang tidak mau tunduk kepada syariat, alasan mereka berikutnya: mereka belum menelaah rincian inisiatif.

Saya katakan, ini bohong. Kami telah mengatakan kepada mereka, bahwa kami akan membeberkan rinciannya kepada mereka. Namun mereka menanggapinya dengan menolak prinsip secara keseluruhan.
Kemudian mereka mengatakan bahwa masalahnya lebih besar daripada mengadili satu orang saja!

Kemudian mereka mengatakan bahwa Syaikh pasti akan memutuskan seperti yang beliau dengar!
Kemudian mereka mengatakan akan bermusyawarah dengan ikhwah di Daulah. Kemudian keluarlah pernyataan Al-Adnani yang berisi alasan baru yang aneh, yang meruntuhkan tirai dan menutup semua kata nasihat.

Pertentangan dan kebodohan mereka terhadap aksioma-aksioma dalam syariat ialah:

Pertama, perkataannya yang bodoh, “Syaikh pasti akan memutuskan seperti yang beliau dengar.”
Apakah itu tidak termasuk perkataan yang buruk dan dusta? Apakah postulat-postulat dalam pengadilan, yang menurut jumhur ulama wajib dijadikan sandaran dan teksnya jelas dan tegas disebutkan dalam sabda Nabi saw, “Saya hanya memutuskan berdasarkan apa yang saya dengar, (Mutafaqun alaih), itu pantas dijadikan alasan untuk menolak berhukum dengan syariat Allah??

Kedua, perkataannya bahwa masalahnya lebih besar daripada sekedar mengadili satu orang saja.
Saya katakan, Apakah dalam syariat Islam proses hukum itu harus menunggu sepuluh atau lima belas orang? Karena kasusnya lebih besar daripada mengadili satu orang?

Atau, yang berlaku dalam syariat adalah satu orang boleh mengajukan diri ke pengadilan dan meminta pendapat? Dua orang juga boleh mengajukan diri ke pengadilan ketika bersengketa dan diputuskan siapa yang benar? Subhanallah, mereka bodoh bahkan masalah aksioma-aksioma peradilan.

Ketiga, Dusta Mereka kepada Saya

Yaitu dalam salah satu surat yang mereka kirim untuk membela diri mereka dan menyerang Jabhah Nusrah. Salah seorang dewan syariat mereka mengirimkan surat kepada saya:

“Akan tetapi, bila engkau dikaruniai umur panjang, engkau akan mengetahui hakikat pemimpin Jabhah Nusrah saat ini dan jalan yang ditempuhnya, serta akibatnya nanti. Engkau akan mengetahui bahwa JN telah disusupi oleh fungsionalis dari Hakim Al-Mutairi dan orang-orang yang bekerja di belakangnya. Sebagian dewan syariat dan hakim umum JN, Abu Hasan Al-Kuwaiti adalah bagian dari kelompoknya. Engkau akan mengetahui hakikat Abu Mariya, dewan syariat Jabhah Nusrah, dan peran yang dimainkannya serta misinya. Mungkin saja engkau tidak percaya dan mengatakan, kami mencela mereka karena mereka memisahkan diri dari kami (ISIS). Kami tidak demikian, Alhamdulillah. Dan kami berlindung kepada Allah dari tindakan mempermainkan agama kami hanya karena permusuhan pribadi. Kami mengatakan ini berdasarkan informasi yang kuat dan pasti.”

Saya katakan:
Ia mengatakan bahwa mereka membawa informasi yang kuat dan pasti. Apakah ia bisa memastikan bahwa Abu Hasan Al-Kuwaiti itu hakim umum mereka (JN)?

Ketika saya menelaah apa yang dikabarkan kepada saya, saya menemukan bahwa Abu Hasan Al-Kuwaiti bukanlah hakim umum, melainkan salah seorang dewan syariat yang jumlahnya sangat banyak. Ia memiliki sebuah blog di internet dan aktif di dalamnya. Bila benar ia memiliki latar belakang dengan Al-Muthairi, ini tidak berarti sama sekali bahwa ia memiliki keterkaitan secara organisasi atau manhaj dengannya. Sebaliknya, keterkaitan Abu Hasan Al-Kuwaiti dan orang-orang memiliki latar belakang seperti dia dengan kelompok-kelompok yang berada di medan jihad dengan Al-Qaidah, telah memutuskan keterkaitan tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, Al-Qaidah dan kelompok bersenjata lainnya senantiasa menerima ulama dan orang-orang berilmu seperti mereka. Ini adalah fenomena yang sehat selama mereka mau tunduk dan belajar di barisan Al-Qaidah.

Kemudian ia membangun informasi palsunya—yang disebutnya pasti dan yakin—dengan perkara yang jelas. Yaitu perkataannya, “JN telah disusupi oleh fungsionalis dari Hakim Al-Mutairi dan orang-orang yang bekerja di belakangnya.” Siapa orang-orang yang di belakangnya? Apakah begini pendekatan ilmiah cikal bakal khilafah??

Mereka mengulangi informasi yang “sudah pasti”: Hakim umum Jabhah Nusrah adalah Abu Hasan Al-Kuwaiti. Mereka mengatakan kepada saya dalam surat yang lain yang ditandatangani oleh salah seorang dewan syariatnya. Namun kali ini tanpa tanda tangan, disebutkan, “Adapun Jabhah Nusrah, berbicara tentangnya membuat orang menjadi emosional. Jabhah Nusrah ini kebanyakan terdiri dari orang-orang yang jujur, baik tentara maupun komandannya. Hanya saja, celahnya terletak di gerbang pengambil keputusan. Sebab, pengambil keputusan yang sebenarnya adalah Hakim Al-Muthairi (pemimpin Partai Umat, dan engkau sendiri mengetahuinya). Perpanjangan tangannya di JN adalah Hakim Umum, Abu Hasan Al-Kuwaiti, sedangkan Abu Mariyah Al-Jabburi adalah ketua dewan syariat, dan dia ini adalah biang fitnah di Suriah.”

Saya katakan, ia mengatakan bahwa kontrol Al-Qaidah di Suriah yang sebenarnya adalah Hakim Al-Muthairi. Kemudian di surat yang sama ia mengatakan, “Dusta yang lainnya bahwa mereka menghalalkan darah setiap faksi yang menyelisihi dan memerangi mereka. Dan JN membom markas-markas faksi-faksi lain dengan aksi bom syahid dan semacamnya.”

Saya katakan, kemudian setelah itu ia ingin mengelabui saya bahwa perang dan ancaman mereka ditujukan kepada majelis pagani dan Dewan Militer (FSA).
Di sini saya akan menjawab dengan rencana dewan militernya yang tersohor yang diajukan kepada saya dalam suratnya yang berisi tanggapan atas inisiatif kami. Ia mengatakan sebagai tanggapan atas larangan saya kepada mereka memerangi JN, Ahrar, dan faksi lainnya, “Bagaimana engkau mengingkari Daulah Islam yang memerangi orang-orang murtad dari kalangan penyembah demokrasi, yang engkau perangi sepanjang usiamu?”

Ini merupakan alasan untuk memerangi mereka, kepada orang yang melarang mereka dari tindakan itu.
Namun di surat lain dari salah seorang dewan syariat mereka, “Syaikh kami yang mulia, mereka mengatakan kepadaku bahwa perang ini adalah perang fitnah dan Daulah dituntut menghentikan perang dengan faksi-faksi Jabhah Islamiyah. Namun, yang tidak disebutkan kepadamu oleh mereka—baik karena tidak tahu, lalai maupun sengaja—bahwa Jabhah Islamiyah ini memiliki hubungan dengan intelijen Saudi dan Qatar secara langsung.”

Ini merupakan alasan lain untuk memerangi Jabhah islamiyah, selain tuduhan kafir jelas-jelas kafir dan boleh diperangi.

Namun di bagian lain dalam surat dewan syariat mereka, ia menjelaskan kepada saya fakta-fakta pertempuran mereka dengan JB dan Ahrar, “Ahrar Syam dan kelompok yang berafiliasi kepada JN sibuk dalam krisis ini. Sangat disayangkan, mereka membuat barikade dan mencoba untuk menangkapi para pemuda (ISIS) dan menguasai markas-markas Daulah. Mereka menggembur di sana padahal Daulah yang berhukum….”

BACA JUGA  Majelis Keluarga Ponpes Sidogiri Minta Gus Muwafiq Taubat

Kemudian ia menyebutkan sisi kebaikan mereka kepada Ahrar dan JN, lalu mengatakan, “Tidak ada yang kami lakukan kecuali menghadapinya dan melawan serangan mereka. Kami menangkap sebagian dari mereka dan ada yang terbunuh dari pihak kami dan mereka.”

Itu adalah pengakuan mereka yang lain.

Salah seorang dewan syariat mereka, dalam suratnya yang dikirimkan kepada saya mengatakan, “Cukuplah bagimu wahai Syaikh, bahwa semua analis, politikus, pemimpin Barat dan Timur sepakat bahwa tujuan perang ini adalah membinasakan Daulah Islam untuk membenarkan proyek mereka di Jenewa, dengan tujuan akhir menghapus jihad di Suriah di bumi ini.”

Saya katakan, apakah benar semua analis dan pemimpin Barat dan Timur sepakat atas itu? Apakah Jabhah Nusrah dan Ahrar yang kalian perangi dan sesuai pengakuan kalian, mereka dipersiapkan untuk Jenewa?

Mengapa kalian tidak menyebutkan kepada saya, wahai dewan syariat, bahwa mereka telah menyatakan berlepas diri dari Konferensi Jenewa dan menyingkap maksud di baliknya?

Adapun dewan syariat mereka yang menonjol telah menulis untuk saya dalam suratnya pertama, “Saya ingin menjelaskan kepada Anda bahwa Jabhah Al-Jaulani melarang distribusi buku-bukumu dengan alasan menjaga inkubator jihad dari rakyat (yang belum siap). Sementara sebaliknya, engkau akan menemukan Daulah Islam Irak dan Syam telah mencetak buku-buku dan tulisanmu. Bahkan, setiap markas bisa ditemukan bukumu di dalamnya. Perhatikanlah!”

Saya katakan, cara-cara provokasi itu tidak pantas dilakukan oleh mujahid, apalagi penuntut ilmu, dan tidak pantas lagi bagi seorang senior di dewan syariat, dan lebih celaka lagi bila provokasi itu bersifat reka-reka dan dusta.

Kemudian, siapa di antara kalian yang menanggapi inisiatif saya dengan hinaan atau penghargaan?

Dewan syariat mereka yang ternama mengatakan dalam surat yang sama:
“Di antaranya adalah klaim mereka yang sampai kepadamu bahwa Daulah menyerbu markas-markas mereka di Dar’a saat mereka sedang berada di front terdepan menghadapi Nushairiyah!! Ini adalah dusta yang nyata sebab tidak pernah ditemukan Daulah Islam di Dar’a. Bagaimana Daulah menguasai markas-markas mereka?”

Saya katakan, belum ada kabar yang sampai kepada saya bahwa Daulah menguasai markas-markas mereka di Dar’a. Yang sampai kepada saya bahwa mereka merebut markas-markas mereka di Timur. Mengapa engkau memaksakan diri untuk menyebutkan sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh seorang pun, lalu engkau membantahnya, tidak pernah ada realitas yang disampaikan kepada kami, dan itu nyata dan jelas?

Dewan syariat mereka yang ternama juga mengatakan, “Tentang baiat Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi kepada Syaikh Aiman Al-Zawahiri, maka ini tidak pernah terjadi dalam baiat secara formal.
Yang ada hanyalah ungkapan penghormatan para syaikh di Irak kepada para syaikh di Khurasan yang mendahului mereka dalam jihad bahwa hubungan antara mereka adalah surat-menyurat untuk saling berkonsultasi dalam suatu persoalan. Syaikh-Syaikh Kurasan ini kami sebut sebagai syaikh dan imam kami.”

Saya katakan, “Disebutkan dalam pernyataan saudara kami Syaikh Aiman Al-Zawahiri, yang saya bersaksi kepada Allah atas kebenarannya dan diakui oleh Al-Adnani dengan ungkapan, “Sesungguhnya semua kesaksianmu yang engkau sebutkan itu adalah benar”:

“Syaikh Abu Hamzah rh mengirimkan surat kepada kepemimpinan pusat (Al-Qaidah) yang isinya membenarkan pembentukan Daulah. Ia menegaskan di dalamnya bahwa loyalitas Daulah adalah kepada jamaah Al-Qaidah dan bahwa saudara-saudara di dewan syuro telah mengambil janji kepada Syaikh Asy-Syahid—seperti yang kami sangka—Abu Umar Al-Baghdadi bahwa amirnya adalah Syaikh Usamah bin Ladin rh. Dan bahwa Daulah berada di bawah jamaah Al-Qaidah. Akan tetapi, dewan syuro memandang saudara-saudara harus diberitahu itu, namun tidak diberitahukan secara luas dengan beberapa pertimbangan politik, yang mereka lihat di Irak saat itu.”

Saya katakan, apakah mengambil janji bahwa amirnya adalah Syaikh Usamah bin Ladin ra itu hanya ungkapan penghormatan dan pemuliaan saja? Apakah memuliakan orang lain perlu perjanjian?

Disebutkan juga di surat Dr. Aiman:

“Delegasi dewan syuro Daulah Islam Irak menanggapinya pada awal Dzul Qa’dah 1431, sebagai berikut: … seluruh ikhwah di sini, yang dipimpin oleh Syaikh Abu Bakar, semoga Allah melindunginya dan Dewan Syura sepakat bahwa tidak ada keberatan bila imarah (daulah) ini bersifat sementara. Dan kalian boleh mengirimkan seseorang kepada kami bila kalian melihat keputusan sebagai bagian dari perwujudan maslahat untuk menyerahkan imarah ini. Kami tidak keberatan dan kami semua di sini adalah prajuritnya (Syaikh Usamah) yang di pundak mereka ada beban mendengar dan taat. Kewajiban ini adalah hasil kesepakatan dari majelis syuro dan Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi, semoga Allah melindungi mereka.”

Saya katakan, apakah menerima imarah yang diwajibkan mendengar dan menaati (Al-Qaidah) itu hanya merupakan konsekuensi penghormatan dan pemuliaan saja?

Disebutkan juga dalam surat Dr Aiman, menukil dari surat yang dikirimkan kepada beliau dari Daulah:

“… dan dia (Syaikh Al-Baghdadi) menanyakan posisinya dari sudut pandang kalian (organisasi Al-Qaidah), ketika ada pengumuman amir baru di organisasi (Al-Qaidah). Apakah Daulah harus memperbarui baiatnya secara terang-terangan atau secara rahasia saja, seperti yang dilakukan sebelumnya. Ini penting sebab saudara-saudara di sini adalah anak panah di busurmu.”

Saya katakan, apakah menghormati dan memuliakan orang lain itu perlu pembaruan baiat?

Disebutkan pula dalam surat Dr Aiman:
“Setelah saya mengambil alih kepemimpinan Syaikh Usamah rh, Syaikh Al-Baghdadi Al-Husaini berbicara kepada saya dengan menyebut saya sebagai amirnya hingga akhir suratnya yang dikirim pada 29 Jumadil Ula 1435. Di surat itu, ia memulainya dengan ungkapan, ‘Kepada Amir kami, Syaikh yang dimuliakan…”

Saya katakan, manakah kata-kata kepada syaikh-syaikh kami di Kurasan itu?

Disebutkan juga dalam surat Dr Aiman:

“Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani juga mengirimkan kesaksiannya kepada saya yang ditandatanganinya, dengan ungkapan: Ditulis oleh seorang hamba yang fakir, Abu Muhammad Al-Adnani pada 19 Jumadil Ula 1434, sebagai permohonan maaf kepada Allah, kemudian kepada umat, kemudian kepada amir-amirnya; Syaikh Dr. Aiman Al-Zawahiri, kedulian kepada Syaikh Abu bakar Al-Baghdadi.”

Katakanlah kepada saya dengan nama Rabbmu, apakah penyebutan amir-amirnya dengan mendahulukan Al-Zawahiri sebelum Al-Baghdadi itu hanya wujud penghormatan dan pemuliaan saja?

Keempat, Hasutan Mereka kepada Saya untuk Memusuhi Syaikh Al-Zawahiri

Saya tidak paham apa sebenarnya tujuan mereka. Mengapa mereka berupaya keras untuk menjatuhkan simbol dan senior-senior kita? Mengapa mereka mendorong kami untuk mencemarkan dan menguliti jati diri orang lain?

Apakah engkau pikir saya ini adalah anak panah di busurmu untuk memanah para senior? Apakah saya ini pedang di tanganmu yang akan engkau tebaskan untuk mematahkan tulang? Sangat celaka dan rugi bila demikian! Sebaliknya, leher kami adalah tebusan bagi jiwa mereka. Kami menyerahkan dada dan punggung kami untuk membela mereka dari panah para pendengki.

Dewan syariat mereka yang menonjol mengatakan dengan penuh harapan:

“Terakhir, saya meminta kepada Anda, wahai Syaikh saya, renungkanlah kata-kata Syaikh Aiman Al-Zawahiri, terutama di pidato terakhirnya. Perhatikanlah wahai guru saya, perkataan Syaikh Aiman tentang Obama atau Bush “Mister”.”

Kemudian ia diam…
Saya berkata kepadanya, “Angkatlah tanganmu dan lengkapilah ungkapanmu!”
“Mister Obama”, semoga mereka binasa di tangan para mujahidin umat Islam ini, dengan izin Allah, sehingga dunia dan sejarah beristirahat dari perbuatan jahat, sombong, dan dusta kepadamu.”

“Perhatikanlah ungkapan syukurnya kepada Thaghut Haniyah,” tambahnya.

Saya katakan, ia hanya mengkritik tanpa tahu motifnya. Ungkapan bela sungkawa Haniyah untuk Syaikh Usamah, bagi saya ini memiliki makna dan maksud tersendiri.

Dewan syariat mereka yang ternama juga mengatakan, “Perhatikanlah pujiannya kepada Thaghut Mursi!”

Generalisasi sesuatu yang masih global itu bisa menghilangkan makna. Mencomot satu-satu tanpa penjelasan dan tabayyun adalah bentuk penipuan yang paling buruk.

Ia telah meletakkan tangannya dalam posisi penjelas dan penafsir pandangan saudara kita, Dr Aiman Al-Zawahiri, “Saya menasihatimu (Dr. Muhammad Mursi) dengan tulus dan harapan engkau mendapatkan hidayah dan keteguhan. Saya katakan kepadamu, engkau telah berurusan dengan sekularis dan sepakat dengan mereka; dengan salibis dan menguntungkan mereka; dengan Amerika dan engkau memberikan jaminan kepada mereka; dengan Israel dan engkau mengakui perjanjian damai dengan mereka; dengan tentara Mubarak yang dibesarkan dengan bantuan Amerika, dan engkau pun setuju dengan mereka; dan dengan para algojo lokal, dan engkau membiarkan mereka dalam ketenangan. Tetapi apa hasilnya?

Anda hari ini dalam ujian besar. Berpeganglah kepada kebenaran tanpa goyah atau mundur. Tuntutlah kekuasaan syariat Islam dengan jelas dan nyata dan tolaklah keputusan yang korup, hukum dan konstitusi sekuler, dan jangan mundur untuk pembebasan setiap inci dari tanah Islam yang dijajah. Janganlah pernah mengakui segala bentuk perjanjian atau kesepakatan untuk bergeser dari tujuan itu. Berjanjilah kepada Rabbmu bahwa engkau akan menampakkan kebenaran yang diwajibkan kepada Anda. Dan jangan goyah sejengkal pun untuk melaksanakan itu. Maka bila seperti itu, saya berikan kabar gembira kepadamu bahwa engkau akan menjadi pahlawan umat; simbolnya yang nyata, dan pemimpinnya yang agung. Umat Mesir dan dunia Islam akan berbaris di belakangmu dalam perang melawan musuh-musuh mereka. Bila Allah mewafatkan engkau dalam kondisi itu dan ikhlas, saya sampaikan kabar gembira kepadamu bahwa itu adalah husnul khatimah dan pahala yang agung di akhiratmu.”

Dewan syariat mereka yang menonjol mengatakan, “Perhatikanlah arahan-arahannya (Syaikh Al-Zawahiri), bagaimana kami harus hidup dengan umat Budha, orang-orang musyrik dan selain mereka dengan damai tanpa aksi apa-apa?”

Saya katakan, “Itu namanya mengeluarkan suatu perkataan dari konteksnya dan mengambil sebagian dengan menghilangkan syaratnya.
(Ungkapan lengkapnya ialah: “Tidak menyerang Nasrani, Sikh, dan Hindu di negeri-negeri muslim. Dan bila terjadi permusuhan dari mereka, cukuplah menolaknya sebatas permusuhan itu. Dengan menjelaskan bahwa kami tidak berusaha memulai perang. Karena kami sibuk memerangi kepala kekafiran global. Dan kami menginginkan hidup bersama mereka dalam perdamaian dan ketenangan bila Daulah Islam telah tegak dalam waktu dekat, dengan izin Allah.”

Dewan syariat mereka yang menonjol mengatakan, “Perhatikanlah istilah terminologinya yang mirip dengan pengusung demokrasi dan kebanyakan kelompok Islam yang menyimpang di banyak ungkapannya.”
Saya katakan

Banyak orang mencela perkataan yang benar
Sebabnya ialah pemahaman yang buruk
Siapa yang lidahnya sakit
Air yang tawar pun terasa pahit baginya

Saya katakan, ini adalah nada-nada ekstrem, membesar-besarkan masalah, dan menyebut suatu perkara dengan sebutan yang lebih besar dari semestinya. Kemudian, diletakkan sesukanya, menyikapinya dengan keras, dan mempersempit apa yang Allah longgarkan. Ini adalah bibit ekstremisme yang nyata sekali bagi orang yang berakal.

Terakhir, inilah yang kami nukil dari dewan syariat mereka:
“Kami paham bahwa di jajaran prajurit dan dewan syariat kami ada orang-orang khawarij atau dekat kepada pemahaman khawarij. Tetapi ini tidaklah mendominasi Daulah. Alhamdulillah. Tidak ada seorang pun dari pemimpin senior di dalamnya yang berpemikiran seperti itu. Orang-orang seperti itu tidaklah memiliki wewenang untuk membuat keputusan kecuali dalam kenyataannya yang terbatas. Inilah yang kami sebut kadang-kadang terjadi, dan kami berusaha memperbaikinya semampu kami. Namun, perang ini sangat keras dan sulit.”

“Ketahuilah Syaikh sebagaimana di barisan kami ada khawarij, maka di barisan JN ada Syabihah dan tentara bayaran,” tambahnya.
Terakhir, dewan syariat mereka yang menonjol mengatakan, “Maka demi Allah, wahai Syaikh, engkau harus mengeluarkan sikap seperti yang kami minta kepada Anda. Dunia ini masih ingat sikapmu kepada Syaikh Mushtofa Abu Yazid. Semoga Allah memberikan taufik.”

Saya jawab, “Kata-katamu itulah sikapnya.”

Ditulis oleh Abu Muhammad Al-Maqdisi
==========

[1] Mimbar Tauhid dan Jihad ditugaskan oleh Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi untuk menambahkan semua link aktif yang ada di lampiran ini dengan tujuan memudahkan pembaca untuk membuktikan apa yang disebutkan oleh Syaikh Abu Muhammad–semoga Allah membebaskannya.
[2] Lihat http://justpaste.it/f4w4
[3] Isi suratnya secara lengkap akan dimuat di Mimbar dalam waktu mendatang, insya Allah.
[4] Yaitu surat yang diterbitkan seorang juru bahasa Abu Masirah As-Syami dengan judul: Inisiatif yang Ditunggu-tunggu pada Musim Inisiatif, yang menyatakan: Inisiatif yang ditunggu-tunggu yang akan ditawarkan kepada kami besok, maka yang sampai kepada saya bahwa itu akan “ditunggu-tunggu” oleh orang-orang yang enggan berjihad dan pecinta perdamaian dengan nama “salafi jihadi”, dan yang pada suatu hari mengatakan tentang para pendukung jihad:
‘Perhatikanlah produk Anda dengan nama-nama palsu dan informasi-informasi semu mereka yang menyebar internet! Mereka berkicau di sana-sini. Renungkanlah nama-nama yang bermunculan dengan kata-kata kosong mereka di sana-sini. Perhatikanlah siapa yang tertarik dan mengelilingi mereka. Kemudian, perhatikanlah setiap nama dan bendera jihad yang telah lulus dari madrasah kami, dan berada dalam naungan dakwah kami. Mereka mendapatkan energi dan didikan dari tulisan-tulisan kami. Mereka mengambil manfaat dari arahan kami. Dan itu semua berasal dari karunia Allah dan rahmat-Nya. Perhatikanlah peran apa yang Anda sumbangkan selain perpecahan, perselisihan, memperpanjang lidah, dan melahirkan anak-anak yang tidak matang. Renungkanlah fakta pahit ini sekali lagi pahit dan bedakanlah antara ibu yang menangis karena kehilangan anaknya dan tangisan ibu penyusuan yang diupah; orang yang mencintai secara tulus dan orang yang mengaku cinta.”
http://www.gulfup.com/?7YKGRE
Teman-teman saya di Mimbar menyampaikan dialog antara mereka dan anggota dewan syariat yang ternama (di ISIS), yang menunjukkan tanggapan yang bodoh darinya, ketika teman-teman mengonfirmasi kabar inisiatif yang bocor. Ia berkata, ‘Abu Muyasarah meminta maaf atas kata-katanya tentang Syaikh dalam makalah terbarunya. Silakan dicek. Itu karena saya bersikap keras kepada mereka.
[5] Garis besar inisiatif ini sudah pernah dikirimkan kepada dewan syariat yang dituakan di Daulah dalam sebuah surat yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam dokumen ini. Hal yang sama juga dilakukan kepada Al-Baghdadi sendiri.
[6] Perkataan Al-Adnani di pidatonya yang berjudul: Maaf, wahai Amir Al-Qaidah, “Adapun mahkamah indepeden yang diminta (kepada Daulah), kami katakan, “Urusan ini tidak mungkin dilaksanakan, bahkan mustahil. Bahkan itu merupakan permintaan lemah dari orang yang suka berkhayal. http://www.dawaalhaq.com/?p=12828

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Mengapa Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi Menegaskan ISIS Menyimpang?”

  1. Iwan

    Akh, tolong buat berita yang menyejukkan suasana, bukan menambah runcing perbedaan dan pertikaian. Yang paham dengan kondisi sebenarnya di medan jihad adalah mereka yang terjun langsung, biarkan mereka menyelesaikan permasalahan tersebut.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Eropa

Kepala Intelijen Swedia Tuding Islamis Jadi Ancaman Keamanan

KIBLAT.NET, Stockholm – Kepala Intelijen Swedia Anders Thornberg mengatakan 200 Islamis menjadi ancaman keamanan terbesar...

Rabu, 28/05/2014 14:00 0

Foto

Operasi JN dan JI Membebaskan Bukit Ar-Ba’in di Pedesaan Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Mujahidin Jabhah Nusrah (JN)  bekerja sama dengan brigade Suqur Syam yang berada...

Rabu, 28/05/2014 09:28 0

Wilayah Lain

Inilah Jawaban Teka-Teki Seputar “Boko Haram”

KIBLAT.NET, Beberapa waktu lalu media massa ribut tentang penculikan wanita dan anak-anak yang dilakukan oleh...

Selasa, 27/05/2014 18:47 0

Indonesia

Arab Saudi Pangkas Kuota Umrah untuk Jamaah Indonesia

KIBLAT.NET, Makasar – ‎Pengurus Kesatuan Tour Travel Haji dan Umrah RI (Kesthuri) Sulawesi Selatan menyampaikan bahwa...

Selasa, 27/05/2014 18:29 0

Malaysia

Ada Unsur Babi pada Coklat, Konsumen Muslim Tuntut Kehalalan Produk Diperketat

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Presiden PPIM, Datuk Nadzim Johan mengatakan bahwa cokelat Cadbury yang mengandung...

Selasa, 27/05/2014 17:47 0

Turki

Turki Keluarkan Perintah Penangkapan 4 Pejabat Israel Terkait Serangan Mavi Marmara

KIBLAT.NET, Pengadilan Turki telah memerintahkan penangkapan empat pejabat Israel terkait keterlibatannya dalamserangan terhadap armada bantuan...

Selasa, 27/05/2014 15:31 0

Indonesia

KH Yasin Muthohhar: Penegakan Khilafah Bukan Hanya Tugas Hizbut Tahrir Saja

KIBLAT.NET, Garut – Dalam rangka memperingati isra dan mi’raj sekaligus menyongsong perhelatan Konferensi Islam dan...

Selasa, 27/05/2014 15:12 0

Indonesia

HTI Akan Gelar Konferensi Islam dan Peradaban di 70 Kota

KIBLAT.NET, Bandung – Demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis yang berlaku di Indonesia saat ini, tak...

Selasa, 27/05/2014 14:50 0

Indonesia

Muslim Malaysia Serukan Boikot Terhadap Produk Cadbury

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Lebih dari 20 kelompok Melayu-Muslim di Malaysia pada Selasa, (27/05) telah menyerukan...

Selasa, 27/05/2014 13:58 0

Wilayah Lain

Bandara Donetsk di Ukraina Dikuasai Pemberontak Pro Rusia

KIBLAT.NET, Donetsk – Bandara utama di kota sebelah timur Ukraina, Donetsk, ditutup setelah diserang oleh...

Senin, 26/05/2014 18:10 0

Close