... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Melempar Kincir Angin di Wyndham

Foto: Ilustrasi

Gaziantep, Turki – Di ujung malam 6 Maret beberapa anggota oposisi politik dan militer Suriah berkumpul di kamar sebuah hotel di Istanbul, Wyndham Hotel, tidak jauh dari bandara. Mereka berkumpul di sana untuk mengatasi masalah-masalah mereka dan untuk menyembuhkan perpecahan yang telah merobek kelompok mereka dan melukai perjuangan mereka. Namun, dalam waktu 30 menit, pertemuan yang awalnya ramah, berubah menjadi perkelahian.

Para pemimpin yang datang untuk ikut dalam pembicaraan akhirnya berteriak sumpah serapah dan melemparkan pukulan. Ahmad Jarba, pemimpin sayap politik oposisi yang didukung Barat itu dipukul tiga kali di wajah. Menurut Omar Abu Leila, juru bicara oposisi, perkelahian diawali oleh munculnya kata-kata kasar dan menghina serta bentrok fisik ringan, tetapi meningkat cepat setelah seseorang yang diduga seorang komandan FSA berteriak, “Ada beberapa orang di sini perlu diretakkan kepalanya.” Namun Abu Leila tidak bisa memastikan siapa komandan FSA tersebut, karena tidak begitu jelas terlihat.

Pertemuan berakhir, Abu Leila mengatakan, orang-orang bubar dan Jarba mengata-ngatai kedua belah pihak (orang-orang yang bubar dan pemukulnya). “Jarba berusaha untuk mengakhiri bentrokan , tapi ia masih terus mendapat pukulan,” kata Abu Leila.

Perkelahian di Wyndham Hotel ini adalah puncak yang terburuk pada beberapa bulan terakhir yang menerpa Pimpinan kelompok oposisi Suriah yang didukung Barat. Sementara itu, oposisi juga mengalami pukulan di medan perang : Pasukan pemberontak yang didukung Barat , tertatih-tatih oleh pertikaian dengan kelompok sempalan Al Qaeda, Negara Islam Irak dan Syam (ISIS), serta juga mengalami serangkaian kemunduran melawan kekuatan Presiden Bashar al – Assad. Pasukan rezim, dengan bantuan dari Hizbullah, baru-baru ini mereka terus berkonsolidasi di wilayah di sepanjang perbatasan Suriah dengan Lebanon, merebut kota strategis penting, Yabroud. Sementara itu, wilayah yang dikuasai FSA di sekitar Damaskus telah berubah dari benteng yang semula digunakan untuk memulai serangan di ibukota menjadi kantong wilayah yang dikepung, memaksa sejumlah kelompok FSA berharap datangnya bantuan makanan dan bantuan medis, dan akhirnya menerima perjanjian gencatan senjata dengan rezim.

“Kami semua meminta SMC [Syria Military Court/ Dewan Militer Agung ] untuk bersama-sama menarik pasukannya,” kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri Rezim. Ia berbicara karena sensitivitas isu tersebut.” Kita semua menyesalkan perombakan ini.”

Konflik yang menganga antara Ahmad Jarba melawan pemimpin FSA, Jenderal Salim Idriss, menyebabkan kepemimpinan oposisi moderat Suriah terpecah menjadi dua kubu. Idriss dipecat atas perintah Jarba dan Dewan 30, pimpinan utama di tubuh SMC, dalam pemungutan suara pada pertemuan 16 Februari di kota Turki selatan Gaziantep. Dalam video pengumuman, Jarba – kata Idriss – diganti karena “kesulitan yang dihadapi oleh revolusi Suriah.” Idriss digantikan oleh seorang yang kurang dikenal, Jenderal Abdullah al – Bashir, kepala operasi FSA di provinsi Quneitra .

Tapi Idriss tidak pergi begitu saja. Pada sebuah wawancara Skype dari Istanbul, ia menyebut keputusan itu tidak sah. “Anggota Dewan 30 tidak berwenang untuk memecat saya,” katanya. Beberapa lusin komandan di lapangan di Suriah juga telah menolak untuk mengakui keputusan itu, kata Idriss, yang tahu dari bukti tulisan-tulisan dari komandannya. Idriss mengatakan bahwa ia masih menjadi pemimpin sejati dari FSA. Yang paling menonjol dari orang-orang menempel di sisi Idriss adalah Fateh Hassoun dan Bashar al- Zouabi – komandan FSA dari daerah Homs dan Deraa. Keduanya memerintahkan pasukannya, yang berjumlah cukup besar, untuk menghormati dan dalam barisan Salim Idriss.

BACA JUGA  Ibadah Haji Pernah Ditiadakan, Ini Riwayat dan Alasannya

Apapun alasan mengapa ia dipecat, Idriss menganggap ada sentimen pribadi. “Saya tidak mengerti mengapa Jarba membenci saya,” katanya .

Jarba dan kepemimpinan SMC menganggap perombakan ini sebagai bagian dari restrukturisasi strategis yang lebih besar yang bertujuan untuk menghidupkan kembali kekuatan tempur semakin tidak efektif. Rencana tersebut termasuk pergeseran dari Suriah utara, di mana pertikaian dengan kelompok Islam telah melemahkan kekuatan pemberontak, ke arah selatan negara itu. Arab Saudi bekerja sama dengan CIA, dilaporkan telah meningkatkan pasokan senjata kepada pemberontak yang berbasis di Suriah bagian selatan, dengan menyalurkan senjata melintasi perbatasan Yordania .

Tetapi beberapa analis menduga adanya dinamika kekuatan regional yang lebih besar yang berperan, yaitu persaingan antara Arab Saudi dan Qatar. Kedua negara Teluk ini mendukung penggulingan Presiden Suriah Bashar al – Assad, tetapi mereka berkompetisi dengan sengit untukmerebutkan pengaruh di Timur Tengah, termasuk di Suriah, di mana masing-masing kelompok di-back up oleh pemain politik yang berbeda. Ketegangan tajam baru-baru ini terjadi ketika Arab Saudi menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris, padahal Qatar telah lama mempertahankan hubungan dekat dengan banyak petinggi kelompok Islam, dimana Qatar merupakan penyokong dari banyak afiliasi regional dan menjamu banyak pemimpin kelompok Islam di Doha. Jarba adalah sekutu dekat dari Arab Saudi, sementara beberapa anggota oposisi menuduh Idriss lebih dekat ke Qatar.

Meskipun tidak ada bukti kuat bahwa negara-negara Teluk yang menghendaki Idriss diganti, tetapi jelas bahwa para pemberontak sedang dipengaruhi oleh pergeseran antara negara-negara donatur mereka.

“Koalisi (Pembebasan Suriah) dibentuk dan terbelah. Ada kecenderungan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan pendanaan,” kata Aron Lund, editor dari Carnegie Endowment di Suriah dalam situs web Crisis. “Harusnya tidak seperti ini, orang-orang ini tiba-tiba menjadi teman atau tiba-tiba membenci satu sama lain. Ini ada hubungannya dengan siapa yang membayar mereka untuk melakukan apa dan di mana mereka bisa mendapatkan sumber daya mereka.”

Kejatuhan Salim Idriss mungkin juga telah didorong oleh penampilannya yang mengecewakan sebagai seorang komandan. Orang-orang yang mencela Salim Idriss semuanya menunjuk ke insiden mengerikan pada awal Desember tahun lalu, ketika para anggota aliansi pemberontak Islam, Jabhah Islamiyah, menguasai gudang SMC yang penuh dengan peralatan militer yang dipasok oleh negara-negara Barat dan Teluk. Alih-alih memukul mundur pasukan Jabhah Islamiyah, Idriss justru mencoba berdalih bahwa kejadian ini adalah kesalahpahaman. Idriss mengatakan para Islamis itu telah melakukannya untuk membantu melindungi gudang, dan tidak menjarah mereka. Meskipun Idriss protes, tetapi para anggota koalisi oposisi Suriah melihat kejadian tersebut sebagai hal yang memalukan di mata publik. “Itu sangat memalukan,” kata Kenan Bwadekji, juru bicara Assad Mustafa, Menteri Pertahanan koalisi oposisi. “Anak buahnya lari dari konfrontasi dengan Jabhah Islamiyah, Idriss tidak memasang pertahanan apapun,” tambahnya.

BACA JUGA  Bantu Mereka yang Tak Bisa #DiRumahAja Saat Wabah Corona

Amerika Serikat yang khawatir dengan terulangnya pencurian senjata, untuk sementara menghentikan semua bantuan non – lethal ke SMC. Sebuah pukulan besar bagi Idriss.

“Idriss bukan pemimpin. Dia adalah seorang birokrat. Banyak yang merekomendasikannya di awal Revolusi Suriah. Dia bisa berbicara bahasa Inggris, dia duduk di meja dan dia bilang ya.” kata Joshua Landis, dari University of Oklahoma.

Landis mengatakan Idriss akhirnya menjadi tak lebih dari sekedar broker, mendapat kekuasaan dan otoritas dari perannya sebagai distributor bantuan asing daripada kepiawaian strategi militernya. “Saya tidak yakin jika ia bisa terus mengontrol otoritas,” kata Landis.

Sejauh ini, belum ada gerakan yang signifikan di bagian selatan Suriah, apalagi kemenangan militer. Bashir, orang yang dipilih untuk menggantikan Idriss, tidak menerima permintaan wawancara dan tidak membuat pernyataan publik.  Dalam komentarnya setelah pengangkatannya, ia mengungkapkan kepada New York Times bahwa ia bahkan tidak tahu dia sekarang menjadi komandan SMC sampai ketika seorang teman menelepon untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya ia.

Juru bicara koalisi, Khalid Saleh, menihilkan adanya keretakan di tubuh koalisi. Ia mengklaim bahwa perpecahan hanya akan menumbuhkan rasa sakit. “Setelah kita merestrukturisasi SMC dan mempertemukan pelaku dan kekuatan di lapangan, semua orang akan sejalan. Apakah ada perbedaan pendapat ? Ya , tapi semua orang yang tertarik dalam restrukturisasi akan segera mengambil peran.” ,” kata Khalid.

Dalam wawancara dengan Foreign Policy, Salim Idriss mengatakan setuju, dan mengklaim ia berada di tengah-tengah membentuk kembali SMC setelah ia dipecat. Ia juga mengklaim dia akan senang untuk berkolaborasi dengan Bashir, orang yang terpilih untuk menggantikannya. “Dia dihormati dengan sangat baik. Saya bisa bekerja dengannya. Saya telah bekerja dengannya sebelumnya,” kata Idriss.

Tapi untuk bagian itu, Jarba mewanti-wanti keras. Pemimpin oposisi Suriah mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada 6 Maret bahwa sementara Idriss dipersilahkan untuk mengambil peran penasehat di dewan, tapi ia tidak bisa lagi memimpin SMC. “Jenderal Salim Idriss akan mengajukan pengunduran dirinya dari kursi pemimpin SMC, dan ia akan ditunjuk sebagai penasihat Presiden Jarba untuk urusan militer,” kata pernyataan itu.

Sementara itu, kekuatan-kekuatan luar yang ingin mendukung pemberontak moderat Suriah hanya bisa menunggu untuk melihat di mana debu mengendap. Di saat kubu Assad dan kelompok-kelompok Islam masing-masing memperkuat pasukannya, kekuatan oposisi bentukan Amerika Serikat, yang digadang-gadang Amerika dapat membawa Suriah ke masa depan yang cerah, tampak lebih terfokus pada pertengkaran antara satu sama lain. (Multazim Jamil/FP)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Israel Klaim Temukan Terowongan Baru dari Dalam Wilayah Gaza

KIBLAT.NET, Tel Aviv – Militer Israel mengaku menemukan sebuah terowongan bawah tanah yang digali pejuang...

Sabtu, 22/03/2014 08:47 0

Suriah

Pejuang Suriah Tingkatkan Operasi di Provinsi Latakia

KIBLAT.NET, Latakia – Pejuang oposisi Suriah baru-baru ini mendeklarasikan operasi besar-besaran dengan sandi ‘Pertempuran Anfal’...

Sabtu, 22/03/2014 08:03 0

Afrika

Milisi Kristen di Afrika Tengah Perbudak Wanita Muslim

KIBLAT.NET, Bangui – Muslim di Republik Afrika Tengah (CAR) hampir tidak ada lagi setelah ratusan...

Jum'at, 21/03/2014 21:24 0

Lebanon

Lagi, 3 Tewas dalam Bentrokan Muslim-Syiah di Utara Lebanon

KIBLAT.NET, Tripoli – Ketegangan antara pendukung pejuang oposisi Suriah yang diwakili umat Islam dan pendukung...

Jum'at, 21/03/2014 21:00 0

Indonesia

Perusahaan Iran Bangun Proyek Penerangan di Sumatera Utara

KIBLAT.NET, Jakarta – Kunjungan resmi Menlu Republik Iran, Mohammad Javad Zarif, yang dilakukan pada awal...

Jum'at, 21/03/2014 20:31 0

Indonesia

Peneliti LIPI Prediksi Akan Banyak Caleg Gila dan Depresi Tahun Ini

KIBLAT.NET, Jakarta – Calon legislatif yang akan masuk rumah sakit jiwa alias gila diprediksi tinggi...

Jum'at, 21/03/2014 20:19 0

Irak

Pejuang Sunni Rebut Desa di Utara Baghdad

KIBLAT.NET, Sholahuddin – Puluhan pejuang Sunni, Jum’at (21/03), mengontrol sebuah desa di provinsi Sholahuddin, utara...

Jum'at, 21/03/2014 19:55 0

Pakistan

PM Pakistan Bantah Rencana Pengiriman Pasukan ke Suriah

KIBLAT,NET, Islamabad – Perdana Menteri Pakistan pada hari Kamis, (20/03) membantah spekulasi bahwa pemerintahnya berencana...

Jum'at, 21/03/2014 19:30 0

Suriah

Warga Suriah: Bantuan PBB Tidak Berguna Buat Kami

KIBLAT.NET, Nusaybin – Kerumunan kecil berkumpul di perbatasan Nusaybin, pada Kamis, (20/03) saat konvoi truk...

Jum'at, 21/03/2014 19:13 0

Close