Abbas Inggin Al-Quds Jadi Ibukota Bagi Palestina dan Israel

KIBLAT.NET, Tepi Barat –  Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas menegaskan pada hari Minggu (16/8) bahwa Al-Quds harus tetap terbuka bagi para pengikut semua agama dan menjadi ibukota untuk Palestina dan Israel.

“Kami tidak ingin Al-Quds terbagi, kami ingin kota tetap terbuka, dimana warga Yahudi dapat hidup berdampingan dengan warga Palestina,” kata Abbas saat berbicara kepada delegasi dari 170 pemuda Israel yang mengunjunginya di kantor otoritas Palestina di kota Ramallah, Tepi Barat, seperti dilansir worldbulletin.

Sementara itu, Abbas juga mengkritik pembangunan pemukiman Israel yang terus berlanjut.

“Kami tidak akan mengakui negara Yahudi dan tidak akan menerima kehadiran tentara Israel di wilayah Palestina,” tegasnya.

Abbas mengatakan pemerintahnya berusaha untuk mengambil langkah-langkah ke depan dalam rangka menciptakan perdamaian dengan Israel, yang bertujuan menciptakan negara Palestina di semua wilayah Palestina yang diduduki Israel pada tahun 1967 dengan Al-Quds (Yerusalem Timur) sebagai ibukotanya.

“Para pemimpin Palestina berharap perundingan perdamaian dengan Israel akan berhasil,”tambahnya, yang mencatat bahwa 29 April akan menjadi batas waktu untuk negosiasi ini.

Abbas bersumpah bahwa ia tidak akan membiarkan konflik dengan Israel berubah menjadi kekerasan.

Dia memberi penjelasan kepada para pemuda Israel tentang kondisi di wilayah Palestina serta tindak tanduk Israel di tanah Palestina, ia menuduh Israel telah mencuri air Palestina .

Puluhan warga Palestina menggelar demonstrasi pada hari Minggu untuk memprotes pertemuan Abbas dengan pemuda Israel.

BACA JUGA  Hamas Menyambut Baik Rencana Pemilu Palestina

Pembicaraan damai yang ditengahi AS antara kedua belah pihak berlangsung kembali pada Juli lalu setelah absen selama tiga tahun.

Namun, pembicaraan itu terganggu oleh sebuah pengumuman terbaru Israel yang merencanakan pembangunan sejumlah pemukiman Yahudi baru di Tepi Barat.

Negosiator Palestina bersikeras bahwa pembangunan pemukiman Israel harus dihentikan sebelum final status perjanjian yang komprehensif dapat dicapai. (qathrunnada)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat