Memindahkan Suriah ke Indonesia

KIBLAT.NET, Konflik Muslim versus Syiah Nushairi di Suriah hampir memasuki tahun ketiga. Angka korban tewas akhir tahun kemarin mencapai lebih dari 160 ribu jiwa. Paling banyak dari kalangan Muslim yang terus dibombardir pesawat tempur rezim Nushairi Bashar Asad.

Hal ini tentu mengundang keprihatinan kalangan Muslim di seluruh dunia. Mereka yang punya kemampuan militer terpanggil untuk berjihad membantu saudaranya yang dibantai. Sementara mereka yang punya kemampuan berangkat sebagai relawan kemanusiaan masuk ke Suriah membawa obat, selimut, makanan dan kebutuhan para pengungsi yang diusir rezim dari kampung halamannya sendiri.

Bagaimana dengan Muslim yang tidak bisa ke sana sebagai mujahid ataupun relawan kemanusiaan? Mereka menyisihkan harta untuk menyokong upaya Muslim Suriah mempertahankan nyawa dan kehormatannya. Atau kalau tiada harta, paling tidak doa mereka panjatkan agar Allah memenangkan umat beriman menghadapi kekuatan kafir.

Hanya ada dua pilihan menghadapi konflik Suriah. Pertama, terlibat sebagai Muslim beriman dengan menyokong mereka satu dari tiga pilihan; berjihad dengan diri, harta atau minimal doa.

Pilihan kedua adalah bergabung dengan kubu kuffar. Baik dengan menggalang dukungan bagi Syiah Nushairi seperti dilakukan Ahmad Taufik yang membuka posko relawan bela Bashar di Bandung. Atau menebar syubhat seperti Jose Rizal dengan teori konspirasinya yang membodohi sebagian kalangan bahwa jihad di Suriah adalah rekayasa Amerika dan Zionisme internasional.

BACA JUGA  KH Miftachul Akhyar Terpilih Menjadi Ketua Umum MUI 2020-2025

Upaya lain membantu kaum kuffar adalah menghalangi berangkatnya mujahidin atau sampainya bantuan kemanusiaan ke Suriah. Seperti yang dilakukan Ansyaad Mbai yang menebar fitnah bahwa mereka yang berjihad di Suriah adalah teroris dan kelak akan pulang kampung menebar teror di Indonesia.

Juga menebar kalimat bahwa para “teroris” yang berjihad ke Suriah berangkat melalui misi kemanusiaan. Sebuah upaya untuk membuat kaum Muslimin ragu menyisihkan hartanya untuk membantu Muslim Suriah yang tengah dibantai melalui lembaga kemanusiaan Muslim yang menyalurkannya ke Suriah.

Semua upaya itu adalah bagian dari keinginan kuffar untuk “memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka.” Tapi ingatlah, “Allah tetap akan menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membenci.” Jadi, menghalangi jihad dan bantuan ke Suriah bermakna membenci penyempurnaan cahaya Allah. Dan Allah Maha Kuasa untuk menghinakan para pembenci-Nya.

Itu dari perspektif aqidah. Dari sudut pandang politik keamanan, menghalangi upaya jihad dan bantuan ke Suriah sangat berbahaya. Sejarah membuktikan bahwa ditutupnya akses jihad ke luar negeri justru memindahkan konflik ke dalam negeri.

Maka chaos konflik Suriah bisa saja berpindah ke Nusantara. Muslim geram dengan pembantaian saudara mereka oleh Syiah, Syiah di Indonesia juga terlalu pede. Ditambah lagi upaya represif yang zhalim terus dilakukan BNPT dan Densus 88 kepada aktivis jihadi di dalam negeri.

Dihalangi ke luar negeri dan dibunuhi di dalam negeri justru akan meledakkan perlawanan dahsyat. Perlawanan pihak yang terpojok dan tak diberi akses sama sekali untuk menjalankan kewajiban agama: berjihad membela nyawa kaum Muslimin di mana saja. Pertanyaannya, siap dan mampukah BNPT menghadapi ancaman itu?

BACA JUGA  Tak Masuk Kepengurusan MUI, Din: Saya Memang Mau Berhenti

Ketakutan BNPT menghadapi merebaknya kaum jihadis agaknya diwujudkan dengan langkah yang tidak cerdas. Tentu ini akan dirasakan akibatnya di masa mendatang. Siapa menabur angin akan menuai badai.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat