Siswi Muslimah Denpasar Tak Berani Perjuangkan Haknya Gunakan Jilbab

KIBLAT.NET, Denpasar – Dampak dari larangan berjilbab ini membuat para murid muslimah tidak ada yang berani membela haknya, hanya Anita saja yang berani melakukan gerakan perlawanan hingga sejauh ini hingga membuat gempar para guru di SMAN 2 Denpasar. Ada beberapa muslimah kawan Anita mengaku biasanya berjilbab tetapi tidak berani memakai jilbab di sekolah, mereka hanya akan memakai jilbab di sekolah jika perjuangan Anita berhasil dan sebagian lainnya akan memakai jilbab setelah lulus sekolah saja daripada harus menghadapi masalah dengan pihak sekolah.

Perjuangan Anita untuk mendapatkan hak dan kewajibannya untuk berjilbab terus berlanjut. Ia mengadukan kasusnya ke salah satu perhimpunan pelajar di Bali.

Pada tanggal 23 Juni 2012, PW PII Bali menyelenggarakan diskusi akbar di Masjid Baitul Makmur Denpasar terkait kasus pelarangan jilbab di SMAN 2 Denpasar. Diskusi ini membahas strategi agar pelarangan jilbab di sekolah negeri tidak berlanjut. Ketua Panitia Diskusi ini adalah Mohammad David Yusanto (Ketua III Bidang Eksternal PW PII Bali) dan Devi Yulianti Anwar sebagai Sekretaris Tim dengan dimoderatori oleh Fathima Azzahra.

Diskusi itu dihadiri oleh PII, KAMMI Denpasar, Puskomda, Ketua DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) Propinsi Bali, KB PII dan undangan individu, serta beberapa tamu dari pihak Kesbangpol dan Kepolisian Denpasar.

Menurut Tim Advokasi Pelajar Muslim Bali kepada Kiblat.net, penyelenggaraan diskusi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan dari PW PII Bali akan respon dan penilaian dari Ormas Islam lainnya terhadap pandangan PW PII Bali atas kasus ini.

Adapun kesepakatan dalam rapat intern PW PII Bali adalah, Pertama, meminta izin kembali ke kepala sekolah namun ada pendampingan dari PW PII dan MUI Bali. Kedua, melayangkan pengaduan ke Disdikbud dan Kemenag Wilayah Bali. Ketiga, Isu ini tidak dibawa ke ranah nasional.

Diskusi ini pun berjalan lancar, walaupun ada beberapa pandangan yang berbeda antar peserta, namun bagaimanapun kesepakatan bersama harus tetap dijadikan target sebagai hasil dari diskusi ini. Adapun pandangan umum dari diskusi akbar yang kemudian disepakati bersama oleh seluruh peserta diskusi akbar ini antara lain: Kesatu, kembali melakukan pendekatan dan perizinan kembali kepada Kepala Sekolah dengan pendampingan, Kedua, melakukan pendekatan dan membawa kasus ini ke FKUB (Forum Kerukunan Ummat Beragama), Disdikpora, dan instansi pemerintah lainnya yang terkait tentang pendidikan, Ketiga, tidak memblow-up kasus ini ke ranah Nasional. Namun, qadarullah, beberapa hari setelah diskusi akbar ini, berita larangan berjilbab ini sudah menyebar di media online nasional.

Pada Juli 2012 saat awal masuk kelas XI, Anita mendapat informasi dari PW PII Bali bahwa ada Keluarga Besar PII Bali bernama Ibu Zarina sebagai salah satu anggota Komite Sekolah SMAN 2 Denpasar. Anita menemui Ibu Zarina dengan harapan dapat membantu untuk bernegosiasi ke pihak sekolah agar dapat mengizinkan Anita untuk mengenakan jilbab. Ibu Zarina pernah menelepon Wakasek Sarana & Prasarana yakni Ibu Dra. Desak Nyoman Rai Kartini, M.Pd., Beliau mencoba untuk melobi Wakasek untuk mengizinkan Anita memakai jilbab, namun dalam pembicaraan melalui telepon tersebut Bu Zarina mendapat respon negatif. Ibu Dra. Desak Nyoman Rai Kartini, M.Pd., merupakan orang yang sangat dekat dengan Kepala Sekolah dan memiliki pengaruh besar di SMA Negeri 2 Denpasar.

Pada bulan Juli 2012 saat awal masuk sekolah, pihak SMAN 2 Denpasar pernah mengadakan rapat besar di Aula sekolah yang dihadiri oleh Komite Sekolah, Kepala Sekolah, Guru-guru dan Karyawan, seluruh murid dipulangkan di hari itu. Bagi Anita, rapat di aula sekolah merupakan hal yang tidak biasa dikarenakan rapat sekolah biasanya dilaksanakan di ruang guru atau Tri Mandala. Selang beberapa hari kemudian setelah rapat besar itu, Bu Zarina menyampaikan kepada Devi Yulianti Anwar (PW PII Bali) bahwa salah satu agenda rapat itu yakni membahas tentang jilbab yang ingin dikenakan oleh Anita. Ketika itu Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana, Ibu Dra. Dsk Nym. Rai Kartini, M.Pd., adalah guru yang sangat keras menolak ada murid berjilbab di sekolah, dengan alasan demi keseragaman siswa. Dalam rapat tersebut, Bu Zarina sudah berupaya untuk membela hak Anita dan murid/siswi muslim lainnya untuk memakai jilbab, namun semua peserta rapat tidak ada yang mendukungnya, peserta rapat setuju dengan penolakan Ibu Dra. Dsk Nym. Rai Kartini, M.Pd., dalam rapat tersebut, ada juga beberapa guru muslim namun tidak ada satupun yang berkomentar mengenai aturan larangan berjilbab, semuanya terdiam.

Setelah liburan Idul Adha, 31 Oktober 2012, Anita datang ke kantor LBH FKPPI Provinsi Bali untuk konsultasi. Advokat dari LBH FKPPI bernama R. Haryo Christayuda, SH., beliau menyarankan agar Anita kembali memakai seragam muslimah untuk mengetahui respon para guru. Anita pun nekad melakukan hal itu ke sekolah pada hari Rabu, 21 November 2012. Hari itu, mata pelajaran jam pertama adalah pelajaran Bahasa Bali. Ternyata, guru Bahasa Bali hari ini tidak hadir sehingga menyebabkan proses belajar mengajar tidak efektif alias jam kosong.

Tiba-tiba Kepala Sekolah masuk ke kelas Anita untuk memberi nasihat kepada seluruh murid dan bertanya kepada Anita “Kok bajunya seperti itu?”, Anita diam saja tidak menjawab, lalu Kepala Sekolah menyuruh Anita datang ke ruangan Kepala Sekolah. Pada pertemuan kedua ini Kepala Sekolah menegaskan “Kalau pakai jilbab kelihatan atau tidak logo OSIS SMA-nya? Kelihatan atau tidak emblem SMAN 2 nya?” Lagi-lagi beliau menyarankan untuk pindah sekolah saja kalau Anita tetap ingin berjilbab. Anita diminta untuk bertahan saja (tidak memakai jilbab) kalau tetap ingin bersekolah di SMAN 2. Anita menjawab “Kan bisa dinaikin sedikit Pak kerudungnya jadi masih bisa kelihatan logonya”. Kepala Sekolah tetap tidak mengizinkan. Lalu tiba-tiba Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan Bpk. Drs. Ida Bagus Sueta Manuaba, M.Pd., masuk ruangan, beliau menanyakan keperluan Anita di ruang Kepsek. Bincang-bincang kecil terjadi antara Kepsek dan Wakasek.

Setelah itu mereka bertiga (Kepsek, Wakasek, Anita) sempat memperbincangkan soal Ria Putri Lestari. Anehnya, Pak Sueta Manuaba justru mengatakan bahwa “Putri, dulu sekolah engga pakai jilbab. Dia baru pakai jilbab setelah lulus SMA”. Anita tahu Pak Sueta sedang berbohong, dan Pak Sunarta pun meng-iya-kan kalau Putri tidak berjilbab ketika sekolah. Suasana hati Anita ketika itu sangat kesal, karena Anita sangat kenal dengan Ria Putri Lestari, tetapi mengapa mereka berbicara yang tidak benar tentang Putri? Berkali-kali Anita disarankan untuk pindah sekolah saja kalau memang tetap ingin memakai jilbab dan diminta untuk segera memutuskan pilihan.

Tepat 08.30 waktu Denpasar, Anita minta undur diri dari perbincangan itu karena ada pelajaran selanjutnya. Ketika Anita masuk kelas lagi, Anita mendapatkan respon yang biasa-biasa saja dari para guru yang mengajar di kelasnya hingga pelajaran usai. Guru-guru tersebut tidak ada yang mempertanyakan tentang seragam dan jilbab yang ia kenakan.

Keesokan harinya, tanggal 22 November 2012 Anita dan perwakilan PW PII Bali (Devi Yulianti Anwar dan Riza Arfian Bahasuan) kembali mendatangi LBH FKPPI untuk konsultasi hukum, kemudian Advokat dari LBH tersebut berencana untuk mengirimkan surat ke SMAN 2 Denpasar dan ke Disdikpora Kota Denpasar untuk mengkonfirmasi aturan seragam berjilbab. Namun seiring waktu berjalan tidak ada kelanjutannya hingga saat ini, dikarenakan tidak ada komunikasi lebih lanjut.

Selama Anita mengikuti ekstra kurikuler, ketika duduk di kelas XI, Anita selalu memakai jilbab. Teman-temannya tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Anita pernah mendapat informasi dari temannya bahwa ada pihak sekolah (guru) yang bertanya ke salah satu temannya terkait siapakah yang memakai jilbab di PMR?. Selain itu, pada tanggal 8 Desember 2012, sekolah menyelenggarakan kegiatan lomba-lomba.

Dalam kesempatan itu, Anita mengenakan jilbabnya ke sekolah.Seorang guru yang bernama Ni Putu Suka Putrini, S. Pd., pun menegur Anita. Ia mengatakan “Pindah sekolah saja kalau mau memakai jilbab! Kasihan peraturan sekolah gak ditaati”. Selain itu, juga ada beberapa kegiatan sekolah yang pernah Anita ikuti dengan mengenakan jilbab namun pada saat itu guru-guru tidak ada yang menegurnya. [sdqfajar]

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat