... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Penolakan Oman: Mendekat ke Iran atau Takut kepada Saudi?

Foto: Raja Oman Sultan Qabus dan Ali Khamenei: Press TV

KIBLAT.NET – Penolakan Kesultanan Oman untuk bergabung dengan persatuan negara-negara GCC menimbulkan banyak pertanyaan. Sehari sebelum KTT negara-negara yang bergabung dalam GCC, dimulai di Kuwait, Senin 09 Desember 2013, telah terjadi perdebatan panas di jejaring sosial, Twitter, membicarakan hal tersebut.

Tingkat partisipasi dalam hashtag عمان_ضد_الاتحاد_الخليجي# atau Oman Melawan Negara-negara Teluk, telah mencapai 50 ribu tweet. Ini merupakan peningkatan yang signifikan di situs jejaring sosial yang telah menjadi popularitas yang luas di negara-negara Teluk.

Seperti diberitakan kiblat.net sebelumnya, Menteri Luar Negeri Oman, Yusuf bin Alawi, Sabtu lalu mengumumkan bahwa negaranya akan menolak untuk bergabung dengan Perserikatan negara-negara Teluk. Bahkan akan menarik diri dari GCC jika lima anggota yang tersisa (Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain dan UEA) tetap memutuskan persatuan tersebut.



Iran: Absen tetapi hadir dalam diskusi ini

Kicauan yang mendukung sikap Oman menyerang Arab Saudi. Mereka menuduh Riyadh mencoba untuk mendominasi negara tetangga yang lebih kecil dan penduduknya yang lebih sedikit. Di kubu lain, penolakan Kesultanan Oman dianggap sebagai refleksi posisinya yang erat dengan Iran.

Muscat selama ini memang mempertahankan hubungan dengan Teheran. Bulan lalu bahkan menjadi tuan rumah pembicaraan AS-Iran menjelang penandatanganan Geneva Accord antara Iran dan kelompok 5 +1. Padahal, negara-negara Teluk lainnya telah menolak perjanjian itu.

Selama ini, negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi, dianggap menjadi kekhawatiran strategis bagi Iran dan program nuklirnya. Bila persatuan negara-negara GCC terwujud dan didominasi oleh Saudi, maka ini menjadi ancaman bagi Iran.

BACA JUGA  Bertahan di Tengah Wabah Corona dengan Zuhud

Iran sangat bergantung kepada tiga pulau kecil yang kepemilikan saat ini berada dalam kekuasaan Uni Emirat Arab. Ketiga pulau tersebut ialah Abu Musa, Greater Tunb dan Tunb Lesser, yang terletak di mulut Selat Hormuz (lihat peta terlampir). Tiga pulai ini pernah disita oleh Iran pada tahun 1971, pada masa pemerintahan Shah. UAE telah secara konsisten mengklaim tiga pulau ini ke dalam wilayah kedaulatannya.
Abu_Musa-Iran
Selat Hormuz adalah selat yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab. Selat ini terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia.

Pada titik tersempit, lebar Selat Hormuz hanya mencapai 54 km. Selat ini merupakan satu-satunya jalur untuk mengirim minyak keluar Teluk Persia. Menurut U.S. Energy Information Administration, setiap hari 15 kapal tanker yang membawa 16.5 hingga 17 juta barel minyak bumi melewati selat ini.
Demokrasi di negara-negara Teluk?



Seorang peneliti tentang isu-isu negara-negara Teluk, Christopher Davidson, menyajikan hipotesis yang berbeda terkait penolakan Oman atas ide penyatuan negara-negara anggota GCC. 

Davidson berkicau di Twitter bahwa Sultan Qabus sebenarnya sedang mempersiapkan “hadiah terakhir” untuk bangsanya, yang terwujud dalam reformasi konstitusi. Dan penolakan itu adalah penolakan dari kelompok tertutup untuk takhta kepemilikan.

Sultan Qabus bin Said memimpin Oman sejak tahun 1970, setelah menggulingkan ayahnya sendiri, Sa’id bin Taimur. Ia menjadi pemimpin Arab yang paling lama berkuasa.

 

Sultan Qabus saat ini telah berusia 73 tahun dan tidak mengumumkan pewaris takhta. Ia juga tidak memiliki anak.

BACA JUGA  Hukum Keluar dari Daerah yang Terkena Wabah COVID-19

Davidson memperkuat hipotesisnya bahwa aturan demokrasi damai di luar Senat tidak akan dapat diwujudkan di Oman, jika negaranya menjadi bagian dari keamanan Perserikatan negara-negara Teluk yang dikendalikan oleh Arab Saudi. 
 

Kicauan lain dari Abu Malik menguatkan pendapat Davidson, bahwa masyarakat Oman adalah telah siap untuk berdemokrasi. Dan bahwa inilah yang menghalangi Sultan. Davidson menanggapi dengan mengatakan bahwa masyarakat Oman menjadi lebih siap untuk berdemokrasi setelah revolusi di bidang komunikasi dan pendidikan.

Pengamat Politik: Oman Mencari Aman

Sementara itu, para ahli melihat kebijakan Oman itu merupakan sikap politik sejak lama dan wujud keinginan menjauhkan diri dari konflik kepentingan dengan Iran. Penolakan itu berarti bahwa Oman memandang persatuan negara-negara GCC akan menjadi kebangkitan blok besar yang dihadapi Iran.

Sikap Oman itu juga tidak mengejutkan banyak pengamat politik. “ Itu (Oman;red) adalah negara konservatif, ” kata Alissa, seorang profesor ilmu politik di Universitas Kuwait kepada Anatolia.  Ia menambahkan bahwa Oman menerapkan “politik dalam negeri yang konservatif dan berhati-hati terhadap pergeseran, sehingga mengambil sikap itu.”

Profesor Alissa juga mengingatkan peran Oman dalam Perjanjian Internasional-Iran baru-baru ini di Jenewa. Bahwa sejauh pandangan ilmu politik profesor, posisi Oman secara keseluruhan adalah untuk banyak kepentingan Muscat dengan Teheran. (Agus Abdullah/dari beberapa sumber)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

Perancis Klaim Tewaskan 19 Gerilyawan Mali

KIBLAT.NET, Gao – Pasukan Prancis mengklaim telah menewaskan 19 pejuang selama operasi di wilayah utara...

Rabu, 11/12/2013 22:27 0

Palestina

Hamas: Kami Tidak Akan Pernah Serang Mesir

KIBLAT.NET, Gaza – Seorang pejabat tinggi keamanan Hamas  di Gaza pada Rabu (11/12) mengecam laporan...

Rabu, 11/12/2013 21:33 0

Asia

Hukuman Gantung Mollah Ditunda Sampai Kejelasan Hak Banding

KIBLAT.NET, Dhaka – Mahkamah Agung Bangladesh menunda hukuman gantung terhadap pemimpin oposisi Islam sampai hari...

Rabu, 11/12/2013 21:05 0

Afghanistan

Bom Syahid Taliban Tewaskan 10 Tentara Jerman

KIBLAT.NET, Kabul – Seorang pelaku bom syahid menyerang sebuah konvoi tentara Jerman di dekat bandara...

Rabu, 11/12/2013 20:35 0

Suriah

Tentara Rezim Bashar Assad Bunuh 2.900 Warganya dengan Pisau

KIBLAT.NET, Damaskus – Tentara rezim Presiden Bashar Assad di Suriah dituduh telah membunuh 2.900 orang...

Rabu, 11/12/2013 20:08 0

Suriah

Lagi, Pejuang Tembak Jatuh Jet Tempur Rezim di Pedesaan Damaskus

KIBLAT.NET, Damaskus – Jet tempur pasukan rezim Bashar Al Asad kembali ditembak jatuh pejuang Suriah....

Rabu, 11/12/2013 20:01 0

Indonesia

DR. Najih Ibrahim, Kritisi Syaikh Usamah bin Ladin Hingga Mengutip Pandangan Khomaeni

KIBLAT.NET, Jakarta – Mesir adalah induknya jamaah pergerakan Islam. Di sana ada Ikhwanul Muslimin, Jamaah...

Rabu, 11/12/2013 19:39 0

Amerika

Polwan Kanada Diizinkan Memakai Jilbab

KIBLAT.NET, Alberta – Polisi perempuan atau polwan di Edmonton, Alberta, Kanada, kini diizinkan untuk memakai...

Rabu, 11/12/2013 19:00 0

Suriah

Jabhah Nusrah Eksekusi Pemerkosa dan Pembunuh Relawati Muda di Aleppo

KIBLAT.NET, Aleppo – Mujahidin Jabhah Nusrah, Selasa pagi kemaren (10/12), mengeksekusi mati seorang komandan brigade...

Rabu, 11/12/2013 17:26 0

Suriah

Terungkap, 1000 Milisi Syiah Hizbullah Tewas di Suriah

KIBLAT.NET, Damaskus  – Situs online berita revolusi Suriah, Kulluna Syuraka’, baru-baru ini memastikan sekitar 1000...

Rabu, 11/12/2013 16:45 0

Close