Narkoba, Program Thaghut Hancurkan Generasi Muda Patani (6/6)

Pondok Jihad, Benteng Muslim Patani yang Telah Roboh (Tamat)

KIBLAT.NET – Salah seorang mantan pelajar di Pondok Jihad Wittaya Taqaddam ikut berbagi kisah bersama kami. Namanya, Sulaiman bin Abdul Aziz. Ia terlihat masih muda. Usianya mungkin sekitar 30-an. Saat bertemu kami ia mengenakan kaus berwarna hijau terang.

“Saya adalah salah seorang pelajar Jihad Wittaya Taqaddam. Disini ada 7 tingkat kelas, saya telah menempuh tujuh tingkat itu disini, setelah itu tiga tahun di Pondok Penarik,” tutur Sulaiman. Ia mengisahkan, setelah tamat, dirinya berkhidmat selama setahun disini.

Pada tahun itulah, ketika dia berkhidmat, bermulanya kekacauan terjadi disini. Ia dituduh mengajar teroris, setelah itu dirinya ikut berhijrah bersama Tuan Guru Abdullah selama 8 tahun, tetapi akhirnya ia tertangkap, namun karena tidak terbukti, ia dilepas.

Senada dengan Pak Imam dan Chuya, ia pun turut menyoroti kekhawatirannya atas kebobrokan masa depan generasi Patani akibat dijauhkan dari ilmu.

“Sejak 8 tahun setelah pondok ini ditutup, anak-anak muda kita tidak mendapatkan ilmu dan pelajaran agama. Mereka tidak berkerja dan berpenghasilan, sehingga mereka menghabiskan banyak waktu dengan kegiatan yang tidak berfaidah,” ungkap Sulaiman.

Ia melihat ada faktor perang ideologis tengah terjadi di wilayah Patani. Ia menilai pemerintah Siam merupakan pemerintah Budha. Oleh sebab itu, semua pondok-pondok yang dianggap kuat dari segi agama akan ditutup. Karena dikhawatirkan akan melahirkan syariat Islam.

“Disinilah pondok yang pertama ditutup. Apabila pondok ditutup maka disitulah anak mudanya akan jauh dari ilmu. Banyak waktu luang yang terbuang, hukum agama pun tak tahu, saat itulah hawa nafsu, untuk berbuat semaunya akan muncul. Lalu, di situlah program kerajaan/musuh akan masuk. Orang kata, Program Thaghut, agar para pemuda-pemudi mengkhianati agama kita melalui narkoba yang diantar melalui kaki tangan kerajaan, tak kira Melayu atau Siam. Siapa saja. Untuk mematikan Islam dalam jiwa pemuda-pemudi kita,” tegasnya.

BACA JUGA  Menag Minta MUI Jadi Teladan Soal Kesejukan dan Toleransi

Sejak pondok ini ditutup, Sulaiman menceritakan penduduk Kampung Kedae banyak yang kena tangkap. Bersama dengan dirinya, 28 orang kawannya menjadi buronan pemerintah. Sebagian dia antara mereka telah tertangkap. Sebagian lagi belum. Lainnya berhijrah, meski tanpa kesalahan apapun. Hanya takdir Allah dirinya bersama warga kampung lainnya bisa lolos atau tertangkap kerajaan Siam.

Rakyat Patani sesungguhnya telah sadar bahwa tujuan utama kerajaan Siam menutup pondok ini untuk menjauhkan ajaran agama, bahasa dan budaya asli rakyat Patani.

“Sekarang kami mencoba dikit demi sedikit untuk mendekatkan orang-orang ke Masjid dan memakai busana yang diajarkan oleh Islam. Tapi, kegiatan itu oleh pemerintah dianggap menanam semangat jihad. Mereka mengancam para guru. Sekarang guru-guru tak berani mengajar,” tutur Sulaiman.

Kini, tinggal para ustadzah, pengajar perempuan yang masih bertahan di Kampung Kedae, pengajar laki-laki sudah tak berani. Sebab, jika ada ‘cikgu’ lelaki -sebutan pengajar dalam bahsa Melayu-. Maka, mereka akan ditekan dan dituduh teroris. Awalnya, mereka diajak ke kamp/pos militer. Mereka diundang untuk bercakap-cakap, tetapi disana mereka diancam dan disuruh berhenti mengajar.

“Akhirnya para cikgu ketakutan dan lemah semangat untuk kembali mengajar. Itulah hakikat sebenarnya apa yang orang Budha Siam lakukan terhadap Muslim Melayu Patani,” ujar Sulaiman mengakhiri ceritanya. Tamat

 

Fajar Shadiq, Jurnalis Kiblatnet, relawan dalam misi kemanusiaan Road4peace.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat