Catatan Patani 03: Setandan Pisang dari Janda Narathiwat

KIBLAT.NET — Mata lelaki tua itu tiba-tiba sembab memerah. Sambil terbata, kepada kiblat.net ia menerangkan siapa sebenarnya anaknya, Sofyan. “Ia seorang tukang kayu biasa,” ucapnya lirih. Namun, “Tuduhan pemerintah yang menganggapnya sebagai pemberontak, membuat ia harus lari menyelamatkan diri.” Sofyan adalah monumen yang mengisahkan kekejaman tentara Thailand dalam memberangus pejuang Islam Melayu yang menuntut kemerdekaan dari pemerintahan Budha Thailand.

Sabtu, 5 Oktober 2013. Siang itu, sekitar pukul 2 siang, 500-an tentara dan polisi menyerbu sebuah rumah di Kampung Supit Senek, Rusok, Narathiwat. Tiga orang di dalam rumah dikepung dan diberondong timah panas. Sementara dari langit, muntahan peluru dari helicopter mengoyak atap rumah tersebut. Abdurrahim dan Zulkifli, dua dari tiga orang di rumah terkepung itu, tewas. Sedangkan Sofyan yang masih hidup, diseret ke kebun karet belakang rumah. Dalam keadaan lebam dipukul dan ditendang, mata Sofyan dicongkel. Perutnya dibelah, sebelum akhirnya leher pun digorok.

Makam Sofyan bin Yaqub
Makam Sofyan bin Yaqub

Kini, satu bulan lebih insiden biadab itu berlalu. Sofyan terbujur kaku dalam gundukan tanah di belakang rumahnya. Putri sulungnya yang berusia 3 tahun, tiap pagi menyambangi makam sang ayah. Seolah menumpahkan gumpalan rindu setelah sekian lama tak berjumpa. Kini sang ayah hanya diam membisu. Namun demikian, tak ada gurat-gurat penyesalan, baik pada anak-anak Sofyan maupun istrinya, Samsiyah.

Janda berusia 21 tahun itu sepertinya telah sadar risiko hidup menjadi seorang Muslimah di sebuah negeri yang terampas oleh kaum kuffar. Ia hanya tersenyum ringan ketika kiblat.net bertanya tentang anak-anak yang kini tak berayah. “Yah, setiap hari si bungsu selalu memangil nama abahnya,” ujarnya yang duduk diapit oleh Murni (35) janda Zulkifli dan Hayati (35) janda Abdul Rahim.

Yaqub, ayah (Alm) Sofyan
Yaqub, ayah (Alm) Sofyan

Hidup di bawah bayang-bayang teror di kampung halaman sendiri, membuat tekad mereka membaja, tak sudi tunduk kepada kemauan penjajah. Seperti jalan hidup yang dipilih oleh Zulkifli. “Dia dahulu mengajar di madrasah. Tapi oleh pemerintah dia dituduh terlibat pemberontakan,” kenang Abdullah, sang mertua. “Sejak itu, justru ia bertekad untuk tidak akan pernah menyerah dan memilih untuk mati syahid,” imbuhnya. Rupanya, Allah mendengar tekad bulat Zulkfili yang tetap tegar berada di jalan hidup yang dipilihnya.

BACA JUGA  Perundingan Damai Taliban-Afghanistan Kembali Dilanjutkan

Entah tarbiyah apa yang diberikan ketiga almarhum kepada istri mereka semasa di dunia. Yang jelas, tak ada guratan sesal. “Kami bersyukur suami kami mendapatkan kesyahidan,” ungkap Hayati. Hal senada juga disampaikan kedua wanita di sebelahnya. Jadi, tak ada yang bisa kami gali lebih, selain potret sebuah kedzaliman yang dijawab dengan sikap tegar dan perwira.

Tiba saatnya kami berpamitan, sambil berjanji akan menyebar warta apa yang mereka alami, ke seluruh pelosok nusantara. Ya’qub, ayah (Alm) Sofyan, sangat berterima kasih atas kehadiran media Islam dari luar. “Tolong sampaikan hal sebenarnya kepada dunia,” ujarnya berharap. “Insya Allah,” jawab saya pendek. Ada beban menggelayut dari harapan Ya’qub. Namun, seketika tersulut perasaan bangga bila mampu menjadi penyambung lidah dan harapan mereka.

Hayati, istri Abdul Rahim
Hayati, istri Abdul Rahim

Saya sudah hampir berdiri dan beranjak melangkah keluar rumah, tatkala tiba-tiba terdengar suara Hayati parau sambil terisak. Tiba-tiba, wajah di balik cadar yang semula tersenyum tegar, kini buyar oleh airmata yang ia coba seka. Matanya memerah, seperti ada sesuatu yang tersumbat dari renung nuraninya yang terdalam. “Kami sangat berterimakasih… Kedatangan kalian menambah semangat kami untuk menjalani hidup dan perjuangan di masa mendatang,” ucapnya yang masih sempat saya dengar, di tengah sengguk tangis dan air mata. “Sampaikan salam kepada Indonesia… semoga kalian selamat di perjalanan,” pungkas janda dengan dua anak lelaki itu.

Saya tak kuasa menanggapi, selain hanya tertunduk sambil berjuang keluar dari rasa iba yang makin menjadi. “Insya Allah, kak… Terimakasih, sama-sama,” ucap saya pendek. Kami pun berangsur menuju pintu keluar. Saat melewati ibu-ibu yang duduk di ruang tengah, Kholil, guide kami pun memperkenalkan kami kepada mereka. Tiba-tiba seorang dari mereka bertanya, “Indonesia di manakah?” Saya yang waktu itu mengenakan baju dengan gambar peta Patani langsung berseloroh, “Indonesia ada di sebelah sini,” sambil menunjuk bagian atas baju. “Jarak Indonesia dari Patani, mungkin jauh. Tapi bagi orang Islam, di mana pun mereka berada, didekatkan oleh iman dan ukhuwah,” ujar saya meyakinkan bahwa Patani dan Indonesia adalah satu: Muslim dan Melayu!

BACA JUGA  Tingkat Pendaftaran Pemilu di Gaza Mencapai 90 Persen

Saya sempatkan mengabadikan gambar mereka bersama sebelum benar-benar beranjak naik kendaraan. Tiba-tiba mata saya menangkap seorang ibu yang tergopoh membawa setandan pisang, menyusul rombongan akhwat relawan dari Malaysia yang sudah hendak masuk mobil. Meski menatap dari jauh, saya melihat senyum ibu itu saat menyerahkan “cindera mata” tersebut. Senyum kebahagiaan, kerinduan sekaligus kehibaan. Senyum yang membuat setandan pisang itu bukan hanya buah pisang. Seolah ada pesan kuat yang ingin ia sampaikan terakhir kali sebelum berpisah, “Kita satu rumpun, satu budaya dan juga satu agama!”

Mesin Toyota abu-abu ini sudah menderu. Roda yang berputar perlahan menggoreskan hiba dalam relung hati yang terdalam, diiringi oleh lambaian tangan-tangan yang seolah berkata, “Jangan pernah lupakan kami, saudaraku!”

Sekejap, sirnalah bayangan mereka dari pandangan. Saya membuka layar kamera, mengaduk-aduk kembali kenangan tak terlupa yang baru saja terlewati. Memandang wajah-wajah dalam layar kamera itu tiba-tiba saya teringat bait-bait nasyid Musyari Al-Afasy tentang tanah Syam yang terluka:

 

ربـــاه سلم أهلـــها و احم المخـــارج و المـداخل

و احفـظ بلاد المسلمين عن اليمـائن و الشمـائل

مستضعفين فمن لهم يــا رب غيـرك في النوازل

مستمسكين بدينــهم و دمـائهم عطـــر الجنــادل

رفعو الأكف تضـــــرعو عنـد الشـــــدائد و الزلازل

يا رب صن أعراضــهم و نفـــوسهم من كل قــاتل

 

Wahai Robb, selamatkanlah penduduknya dan lindungilah tempat masuk dan keluar mereka

Jagalah negeri-negeri kaum muslimin dari segala keburukan dari kanan dan kiri mereka

Mereka adalah orang-orang lemah… tidak ada mereka miliki selain Engkau ya Allah dalam setiap bencana

Mereka selalu berpegang teguh kepada agama-Mu dan darah mereka menjadi wewangian di setiap jengkal tanah

Mereka mengangkat telapak tangan seraya merendahkan diri di setiap kesusahan dan kegoncangan

Wahai Robb jagalah kehormatan dan jiwa mereka dari setiap kejahatan pembunuh

(Tony Syarqi)

 

Ibu-ibu di kampung Supit Senek, Rusok, Narathiwat
Ibu-ibu di kampung Supit Senek, Rusok, Narathiwat

 

Kiri ke kanan: Hayati (istri Abdurrahim), Syamsiah (istri Sofyan) dan Murni (istri Zulkifli)
Kiri ke kanan: Hayati (istri Abdurrahim), Syamsiah (istri Sofyan) dan Murni (istri Zulkifli)
Kenangan bahagia Syamsiyah bersama suami dan anak-anak tercinta
Kenangan bahagia Syamsiyah bersama suami dan anak-anak tercinta

 

Isak haru Hayati, salah satu janda Narathiwat
Isak haru Hayati, salah satu janda Narathiwat

 

Setandan kecil pisang tanda ukhuwah dari Narathiwat
Setandan kecil pisang tanda ukhuwah dari Narathiwat

 

 

 

Lirik nasyid Abki Alas Syaam, oleh Musyari Rasyid Al-Afasy. Dapat dilihat misalnya di : http://www.youtube.com/watch?v=fQ_k1tzF6o4

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat