... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Pemuda Patani: Menyebut Malaysia-Indonesia, Orang tua Kami Selalu Menangis

Foto: Logo World for You

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Cahaya lampu di bawah tenda cukup jelas menyorot wajah-wajah yang duduk di podium. Merekalah duta berbagai bangsa yang hadir dalam sosialisasi program World for You (W4U) yang digagas MaSSSA (Malaysia Solidarity Civil Society Association). Sebuah program kampanye kemanusiaan yang akan digelar di lima wilayah: Mesir, Gaza, Suriah, Arakan dan Patani.

Salah seorang utusan Patani adalah Hasan. Pria muda berbadan tegap ini sudah tak asing lagi dengan delegasi kami dari Indonesia. Maklum, ketua Road for Peace Indonesia, M. Riza Ishar juga ikut dalam program Road for Peace Rohingya Ramadhan lalu. Saat melintasi kawasan Patani, Hasan termasuk sebagai “tuan rumah” yang menyambut tim.

Ahad 29/09/2013, malam itu Hasan didapuk Mustapa Mansoor, direktur MaSSSA untuk berbicara paling awal sebelum utusan lainnya dari Indonesia, Suriah dan Arakan. Pemuda yang ramah itu menjelaskan awal mula konflik rakyat Patani melawan tentara Thailand. “Dahulu kami masuk dalam teritori Melayu di bawah kekuasaan raja Kelantan (Malaysia). Namun pada 1909, pemerintah Inggris bersepakat bersama Thailand untuk memasukkan Patani sebagai wilayah negeri gajah putih tersebut” jelas Hasan.

“Semenjak itu, identitas Melayu kami dilucuti satu per satu. Kami dilarang menyebut sebagai Muslim Melayu. Kami harus menyebut diri sebagai Muslim Thailand,” lanjutnya. Bila ngotot menyebut sebagai Muslim Melayu, tambah Hasan, bisa didakwa sebagai teroris. “Mereka (Thailand) tidak hanya ingin mencabut identitas Melayu kami. Lebih daripada itu, mereka ingin agar kami murtad dari Muslim menjadi Budhis,” imbuhnya menambah hening suasana.

BACA JUGA  Menlu Malaysia: Krisis Rakhine Bisa Mengancam Stabilitas ASEAN

Sejak itu, teror keamanan menjadi api dalam sekam di wilayah Thailand Selatan. Senin pagi 30/09/2013 saat waktu sarapan kiblat.net, Hasan melanjutkan kisah kampung halamannya. Kebetulan kami duduk satu meja bersama. Ia mengisahkan, “Rata-rata dalam dua hari sekali, lima warga Muslim Patani ditembak mati tanpa alasan yang jelas” kisahnya. Apalagi kalau ada salah seorang tentara Thailand yang tewas. Bisa dipastikan keesokan harinya ada Muslim yang mati, tanpa harus terkait kematian tentara itu. “Mereka balas dendam. Asal ada Muslim, langsung disikat,” imbuhnya.

Bagaimana dengan kelompok mujahidin Patani yang sering disebut sebagai kempok teroris? “Pemerintah Thailand punya data siapa saja yang dianggap sebagai pejuang, tanpa tahu dari mana sumbernya. Mungkin saja informasi dari anjing-anjing” jelas Hasan menjawab pertanyaan itu. Anjing, menurut Hasan adalah istilah yang digunakan penduduk Patani terhadap orang lokal yang menjadi antek Pemerintah Bangkok.

“Kalau Anda sudah masuk daftar sebagai teroris, maka keluarga Anda harus waspada. Jika mereka menggeledah rumah dan tidak menjumpai DPO, mereka bisa seenaknya membunuh bapak atau anaknya. Kalau di rumah tak ada laki-laki, perempuan pun jadi korbannya.” Papar Hasan seraya menunjukkan bahwa kondisi seperti itulah yang membuat Muslim Patani tak betah di wilayahnya. Menurut Hasan, dari total enam juta populasi Muslim di Thailand Selatan, kini hanya tinggal dua juta yang bertahan. Empat juta sisanya keluar dari Patani. Kebanyakan menyebrang ke Malaysia, menjadi pelayan kedai makanan.

Mereka yang tersisa di Patani mempertahankan hidup dengan menjadi buruh sadap karet dan nelayan. “Petani padi memang ada, tapi untuk dikonsumsi sendiri, bukan dijual” pungkas Hasan. Orang-orang Patani yang berjodoh dengan orang asing pun mencoba bertahan di daerah asalnya. “Untuk tetap mempertahankan populasi kami di Patani, Yala, Narathiwat, Songkhla dan Setul,” Hasan memaparkan alasannya.

BACA JUGA  Menlu Malaysia: Krisis Rakhine Bisa Mengancam Stabilitas ASEAN

Hasan membenarkan beberapa gadis Patani disunting oleh Muslim Malaysia. Bahkan, kata Hasan, ada semacam kebanggaan tersendiri dalam tradisi kami kalau ada anggota keluarga yang menikah dengan Melayu dari luar Patani. Ketika kiblat.net bertanya, bagaimana bila disunting Muslim Indonesia?. Hasan pun tersenyum dan mengatakan “Pokoknya Melayu Muslimlah. Malaysia atau Indonesia sama saja” katanya

Segelas teh tarik dan sepotong roti Canai yang kiblat.net pesan telah habis, larut bersama cerita pemuda asli Patani ini. Namun, kelezatan sarapan pagi itu tiba-tiba hambar ketika sambil mata menerawang ke langit-langit Hasan menuturkan, “Orang-orang tua kami, kalau menyebut nama Malaysia dan Indonesia sering menangis. Terkenang masa lalu, bagaimana kami dipisah paksa dari saudara-saudara kami seiman.” tuturnya.

Kata-kata Hasan itu membuat kami, orang-orang Indonesia dan Malaysia, yang mendengarkannya hanya bisa menghela nafas panjang. Ada segumpal perasaan yang membuat dada kami terasa sesak. Demikianlah, hingga kidung-kidung ukhuwah tiba-tiba menyeruak kalbu, mengiringi langkah kaki kami yang harus bergegas kembali ke kantor MaSSSA. Siang ini kami harus pulang ke tanah air, meski hati tertinggal untuk Hasan dan saudara-saudara kami di Patani. Kami harus pulang ke Indonesia, negeri yang mereka menangis haru saat menyebutnya.

 

Reporter : Tony Syarqi
Editor : Hunef


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Pemuda Patani: Menyebut Malaysia-Indonesia, Orang tua Kami Selalu Menangis”

  1. Sinan batutah

    Dari yg saya dengar muslimah pattani itu cantik2 tapi juga syar’i, jadi pengen deh, hehe

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Tahun 2015, Miss World Akan Kembali Digelar di Indonesia

KIBLAT.NET, Bogor – Front Pembela Islam berjanji akan terus berupaya menggagalkan segala macam kemungkaran, diantaranya...

Senin, 30/09/2013 22:01 0

News

Habib Rizieq: Haq dan Bathil Bermusuhan itu Sunnatullah!

KIBLAT.NET, Bogor – Penolakan umat Islam atas kontes Miss World, tak membuat panitia Miss World...

Senin, 30/09/2013 21:47 0

Palestina

Mahasiswa Palestina Serbu Gerbang Perbatasan Gaza

KIBLAT.NET, Gaza – Ratusan mahasiswa Palestina yang marah karena terkatung-katung selama berhari-hari di Rafah pada...

Senin, 30/09/2013 18:00 0

Myanmar

Pasca Serangan, Muslim Myanmar Takut Keluar Rumah

KIBLAT.NET, Yangon – Kaum Muslimin takut untuk keluar dari rumah mereka di barat laut Myanmar...

Senin, 30/09/2013 18:00 0

Irak

Serangan Bom Syahid Tewaskan 31 Orang di Irak

KIBLAT.NET, Baghdad – Dua serangan bom syahid di ibukota Baghdad dan kota Babel di Irak...

Senin, 30/09/2013 17:00 0

Wilayah Lain

Bahrain Vonis Penjara 50 Anggota Gerakan Syiah Militan

KIBLAT.NET, Manamah – Pengadilan Pidana Bahrain, Ahad (29/9), menjatuhkan vonis antara lima hingga 15 tahun...

Senin, 30/09/2013 16:43 0

Irak

Serangan Bom di Kantor Polisi Kurdi Utara, Tewaskan 12 Orang

KIBLAT.NET, Irbil – Korban tewas dari serangan bom pada hari Minggu (29/9) yang menargetkan kantor...

Senin, 30/09/2013 16:00 0

Afrika

27 Orang Dilaporkan Tewas Dalam Serangan Boko Haram

KIBLAT.NET, Borno – Sebanyak 27 orang tewas dalam dua serangan terpisah yang diduga dilakukan oleh...

Senin, 30/09/2013 15:00 0

Mesir

Bentrokan Mahasiswa Pro dan Anti Mursi Menyebar ke Kampus-Kampus

KIBLAT.NET, Kairo – Dua kelompok mahasiswa pro dan anti Mursi terlibat bentrok di Mesir pada...

Senin, 30/09/2013 14:00 0

Close