Kang Jalal, PDI-Perjuangan dan Kedutaan Iran

KIBLAT.NET, Jakarta –  Kabar tentang masuknya tokoh Syiah, Jalaludin Rahmat ke dalam percaturan politik Indonesia sudah lama santer terdengar. Pakar komunikasi yang kerap disapa Kang Jalal ini maju sebagai calon legislatif nomor urut 1 dari Partai PDI-P.

Banyak kalangan yang menganalisis apa sebetulnya motif dan tujuan Kang Jalal masuk ke dalam kancah politik nasional?

Dalam sebuah wawancara berjudul “Kang Jalal: Demokrasi Kita itu Materialistis” yang dimuat laman berita Sayangi.com pada Sabtu, 8 Februari 2014, Kang Jalal menyatakan bahwa latar belakang dirinya masuk politik adalah keprihatinannya atas nasib kelompok minoritas yang kian mengenaskan.

Ia juga menyebut bahwa PDI-P sebagai partai yang dipilihnya karena alasan ideologis.

“Sebenarnya ini pilihan ideologis. Pertama, saya sekarang jadi Soekarnois. Saya melihat ekonomi kita sudah dikuasai kapitalis internasional. Bung Karno pernah bilang bahwa tujuan gerakan massa di Indonesia adalah menumbangkan stelsel kapitalisme. Anda bisa baca di buku-buku Bung Karno,” tukas Jalal seperti dikutip dari Sayangi.com.

Pendiri Yayasan Muthahari ini juga mengemukakan alasan bahwa sebagai seorang syiah dia memandang kapitalisme sebagai kezaliman.

“Syiah memandang kapitalisme sebagai kezaliman yang harus kita lawan. Kan Syiah itu mazhabnya kelompok yang tertindas melawan kelompok penindas,” tambahnya.

Itukah Faktanya?

Namun, benarkah semua alasan yang diutarakannya dalam wawancara di atas adalah kebenaran? Atau ia sedang bertaqiyyah?

Pada Kamis malam, 13 Januari 2014, ICC Jakarta menggelar acara seremonial memperingati 35 tahun Revolusi yang dipimpin Imam Khomaeni di Iran. Duta Besar Iran, Mahmoud Farazandeh dan Kang Jalal didaulat sebagai pembicara.

Dalam khotbahnya yang cukup panjang, Kang Jalal sempat beberapa kali menyinggung kisah keterlibatannya dalam panggung politik 2014.

Pertama, ia menyinggung tentang kekagumannya pada Iran. Ia kagum dengan banyaknya gambar-gambar para pejuang Iran yang ia sebut telah syahid, dilukis di tembok-tembok sepanjang kota Teheran sebagai bentuk penghormatan. Ia juga menyebut bahwa meski dirinya sebagai caleg no 1 dari PDI-P tapi gambar dirinya sangat sedikit.

“Karena itu, kalau saudara pergi ke Bandung dan di Bandung Barat di musim kampanye sekarang ini, saudara hampir tidak menemukan gambar saya. Hampir tidak ada baliho saya yang besar-besar di pinggir jalan. Padahal saya calon nomor satu. Supaya anda hafal saja. Jadi saya calon nomer satu dari partai demokrasi, PDI – Perjuangan,” ujarnya.

“Tidak ada foto-foto saya digelar disitu. Mungkin saudara bertanya, kenapa? Saya malu dengan syuhada di Iran. Mestinya foto saya baru di post disitu, baru disimpan disitu setelah saya syahid. Demi menegakkan madzhab Ahlul Bait salamullahi alaihi ajma’in,” tukas kang Jalal.

Jika dalam wawancara sebelumnya, Kang Jalal menyebut bahwa motif dirinya menjadi caleg karena ia seorang Soekarnois sehingga memilih PDI-P, di ICC Jakarta ia membuka jati dirinya. Bahwa ia berjuang demi menegakkan agama Syiah.

Kedua, ia secara terbuka bercerita bahwa dirinya masuk ke dalam partai moncong putih karena didukung oleh Taufiek Kemas. Ia juga secara blak-blakan mengatakan bahwa ia tidak punya biaya untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Namun, berkat ada jaminan dari suami Megawati itu, akhirnya Jalal berani maju.

“Saya masuk di sebuah partai yang baru saya ketahui, tanya Pak Zuhairi Misrawi, partainya orang-orang miskin. Jadi, dulu sebelum saya ini, Pak Taufiq Kiemas cerita bahwa kalau saya tidak punya ‘begitu’ (uang, red) sebelum jadi calon,” tukas Jalal.

“Saya akan tanggung,” ujar Taufik Kiemas kepada Kang Jalal waktu itu.

“Pas saya jadi calon, dan meninggallah Pak Taufiq Kiemas. Sampai sekarang saya tidak berhasil menghubungi beliau,” tuturnya yang disambut gelak tawa hadirin.

Ketiga, ia juga menyinggung soal modal caleg yang memakan ongkos cukup besar. Dengan cerdik ia menyinggung secara halus pihak Kedutaan Iran yang menurutnya belum membantu sepeser pun.

“Dan, saudara tahukan, sekarang ini tanpa duit tidak bisa seorang menjadi caleg. Diduga, dalam percakapan-percakapan di televisi, paling tidak seorang caleg itu mengeluarkan 3,5 milyar paling sedikit. Boleh tanya kepada kedutaan Iran, yang katanya dihubungkan antara saya dengan kedutaan Iran. Tidak sepeser pun mereka membantu saya,” ujarnya tanpa malu-malu.

“Bahkan, dukungan moral pun, mungkin taaruf aja. Basa-basi saja. Plus, karena tidak boleh kita menerima bantuan asing,” ujar Jalal.

Kang Jalal pun belakangan membela pihak kedutaan yang tidak membantunya karena khawatir terbentur UU Pendanaan Asing.

“Jadi, mungkin kedutaan akan berkata, “Bukan kami tidak mau membantu, tapi takut anda kena pelanggaran perundang-undangan karena memperoleh bantuan dari asing.” Tapi, walhamdulillah, kedutaan mendapatkan pembenaran,” sergahnya diikuti senyum dan tawa para hadirin. [sdqfajar]

Leave a Reply