Kamis, 28 Zulhijjah 1435 H / 23 Oktober 2014

Akhlak Mujahidin Suriah Terhadap Seorang Kakek Syiah

KIBLAT.NET, Jakarta – Berbicara ketinggian akhlak Mujahidin Suriah mungkin tidak ada habis-habisnya, sekaligus tidak akan bosan untuk dibicarakan. Kali ini, dalam sebuah video yang direkam tanggal 6 Agustus 2013 ini dan dipublish oleh Syrian Care Indonesia terlihat seorang mujahidin Sunni bernama Abu Firas menolong seorang kakek tua dari Syiah Alawiyah di perkampungan Astarba, sebuah perkampungan Syiah yang terletak berdekatan dengan distrik Salma dan merupakan salah satu kawasan di Lattakia yang telah berhasil direbut oleh Mujahidin.

Lelaki tua Alawiyah ini sebenarnya merupakan penduduk di perkampungan Ein Al-Jouzeh yang kemudian pindah ke Astarba sewaktu Mujahidin berhasil mengambil alih perkampungan Syiah tersebut.

Ketika Abu Firas menemukan bapak tua ini, mereka segera menyelamatkan dan mencarikan baginya tempat yang aman sehingga tidak akan terluka.
Sambil bercanda Abu Firas bertanya kepadanya mengenai umur dan kota asalnya.

Kakek tua itu menjawab bahwa umurnya antara 70-100 dan ia berasal dari kampung Ein Al-Jouzeh.

Kakek tua itupun ditanya kembali, Apakah dirinya seorang Sunni atau Syiah Alawiyah?

Kakek itu menjawab, “Saya Alawiyah”

Lalu Abu Firas mengatakan bahwa dirinya bersama mujahidin lainnya adalah Sunni.

Mendengar perkataan Abu Firas, laki -laki tua itupun terdiam. Tampak gurat cemas dalam dirinya. Dia kemudian berkata, ” Kita semua adalah anak-anak Allah, tidak ada perbedaan di antara kita.”

Abu Firas lalu berkata, “Saya ingin bertanya kepadamu, seandainya tentaramu menangkap seorang diantara kami (orang Islam) apakah mereka akan membunuh kami? Atau akan membiarkan kami pergi?”

Kakek tua itupun terdiam kembali dan menunduk. Tidak lama kemudian, dia menjawab, “Kalau kamu ingin tahu jawaban yang sebenarnya, maka saya tidak dapat menjawabnya.”

Mendengar itu Mujahidin Abu Firas berkata, “Jangan takut kami tidak akan membunuh kamu, karena Nabi kami Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan dalam agama kami jika di dalam peperangan janganlah membunuh orang tua, perempuan atau memotong pepohonan. Ini adalah ajaran agama kami. Dalam agamamu, apa yang Syiah ajarkan kepada kalian?”

Laki-laki tua berkata seraya merunduk, “Oh, Saya rasa kamu lebih mengetahuinya.”

Sontak seluruh Mujahidin di sana tertawa lagi tersenyum, “Hahahaha, ya kami tahu. Sekarang paman pergi ke rumah itu, rumah itu kosong, rumah itu siap dihuni dan ada makanan, pergi dan hiduplah dengan aman dan bila ada yang bertanya kepadamu, beritahukan kepada mereka bahwa kamu di bawah perlindungan Abu Firas.”

Laki-laki tua berkata, “Terima Kasih, Semoga Allah memberkahi kalian, kalian sangat terhormat.”

“Pergi dan perolehlah keamanan, Pergilah wahai lelaki tua, bersembunyilah kamu di dalam rumah,” tandas Abu Firas.

“Terima Kasih, Kamu sangat baik,” tutup sang kakek Syiah tersebut.

Kesaksian Relawan HASI Terhadap Pribadi Abu Firas

Sekjen Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) Angga Dimas Persada memiliki pengalaman dan kenangan yang cukup bersama Abu Firas, saat ia tinggal bersama selama satu bulan di Suriah.

Menurut Angga, Abu Firas adalah pribadi yang pendiam, tidak banyak bicara, org tidak akan mengira bhwa Abu Firas adalah seorang komandan karena postur tubuhnya yang kecil. Akan tetapi, mental Abu Firas tidak kecil seperti postur tubuhnya,

“Keberaniannya termasuk diacungi jempol oleh banyak mujahidin di kawasan Jabal Akrod,” ucap Angga.

Lanjut Angga, ia mengenal Abu Firas sebagai sosok yang tawadhu’ tidak banyak bicara dan lebih suka mendengar. Hatta, kepada anak-anak kecil ketika bicara ia juga menyimaknya,

“Hampir satu bulan saya menetap satu rumah dengan Abu Firas pada ramadhan tahun lalu, kami sahur dan berbuka bersama, hanya sesekali beliau absen karena harus terjun ke front,” kenang Angga.

Suatu ketika, ujar Angga, baru saja merak berbuka puas, tiba-tiba datang mujahid muda melaporkan kesulitan mereka mengevakuasi jenazah mujahidin karena dihujani tembakan terus menerus oleh tentara rezim, seketika itu Abu Firas menghentikan santapan berbukanya dan langsung ke lokasi dan problem itu pun akhirnya teratasi.

“Abu Firas memiliki kharisma tersendiri dimana para mujahidin muda seperti mendapat semangat baru jika Abu Firas ikut terjun ke front,” tuturnya.

Selain itu, kata Angga, Abu Firas juga memiliki hati yang lembut, mudah meneteskan air mata, suatu ketika ia mengimami mereka shalat shubuh, ia membaca ayat tentang surga dan azab, ia langsung menangis tersedu-sedu.

Demikian juga ketika kami berpamitan untuk kembali ke Indonesia beliau menangis melepas kami sambil berkata” jika kita tidak berjumpa lagi di dunia ini, kita akan berjumpa di akhirat,” ujarnya menirukan Abu Firas.

Selain itu, Abu Firas juga banyak memahami ilmu dien, pernah dalam satu perbincangan ia membahas hadits-hadist tentang akhir zaman hingga ke persoalan qira’ah Al Quran.

“Di situ pula kami baru tahu ternyata beliau hafal Al Quran 25 juz lebih. Alhamdulillah saat tugas kedua saya, saya berkesempatan bersilaturahim ke rumah beliau yang juga pernah terlibat jihad di Iraq, saya dijamu untuk makan bersama beliau dan berfoto bersama beliau,” pungkas Angga. (qathrunnada/kiblat.net)

Leave a Reply