Rabu, 23 Jumadil Akhir 1435 H / 23 April 2014

Liga Arab Mengutuk Peran Hizbullah di Suriah

Liga Arab Mengutuk Peran Hizbullah di Suriah

KIBLAT.NET , Kairo – Liga Arab pada hari Rabu (5/6)mengutuk intervensi militer di Suriah oleh Syiah Hizbullah Libanon, kata Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil Elaraby.

Sebuah resolusi yang dikeluarkan setelah pertemuan menteri luar negeri Liga Arab di Kairo yang menyatakan “kecaman keras” dari segala bentuk intervensi asing, terutama oleh Hizbullah, katanya.

Hizbullah dan pasukan yang setia kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang berpendirian untuk berkuasa , memasuki kota perbatasan Qusair dan menggeser  pejuang revolusi, pada Rabu.

Sayyid Hassan Nasrallah, pemimpin kelompok Hizbullah yang didukung Iran, mengatakan Hizbullah akan tetap dalam perang Suriah dan membawa kemenangan untuk Assad, sekutu setia Iran.

Liga Arab yang meliputi negara-negara Teluk Muslim Sunni Arab Saudi dan Qatar yang berpengaruh, pendukung utama pemberontakan terhadap Assad. Pemerintah Suriah diskors dari keanggotaan ke-22 pada tahun 2011.

Penasehat keamanan nasional Presiden Mesir Mohamed Mursi, Essam El-Haddad, menggambarkan peran Hizbullah di Suriah sebagai kejahatan dan kesalahan dalam komentarnya yang dipublikasikan pada hari Selasa.

Tapi kecaman Liga Arab, tidak sejauh melampaui Bahrain, yang  mendefinisikan Hizbullah sebagai organisasi teroris.

Pertemuan Arab bertujuan untuk menempa posisi bersama untuk sebuah konferensi perdamaian, utusan internasional untuk Suriah, Lakhdar Brahimi, mengatakan pada hari Rabu bisa berlangsung pada bulan Juli.

Resolusi Liga Arab mengatakan Suriah akan membutuhkan pasukan penjaga perdamaian PBB selama periode pemerintahan sementara yang dibayangkan oleh rencana perdamaian internasional.

Ia juga menegaskan dukungan bagi gagasan pemerintahan transisi yang dibentuk oleh kesepakatan bersama antar berbagai pihak dalam perang sipil, dan termasuk anggota pemerintah Damaskus.

Namun Menteri Luar Negeri Mesir Mohamed Kamel Amr mengatakan Assad akan tidak memiliki peran dalam pemerintahan itu.

“Dewan transisi akan memiliki kekuasaan penuh. Ini berarti Assad tidak memiliki peran, semua otoritas itu akan ditransfer ke otoritas transisi, termasuk pertahanan dan keamanan, “katanya dalam konferensi pers. (qathrunnada/kiblat.net)